Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home masjid detail berita

Pakar Fikih Sebut Haji Tamattu Paling Utama bagi Jemaah Tanpa Hadyu

miftah yusufpati Kamis, 07 Mei 2026 - 16:13 WIB
Pakar Fikih Sebut Haji Tamattu Paling Utama bagi Jemaah Tanpa Hadyu
Islam menginginkan kemudahan. Ilustrasi/foto: anadolu
LANGIT7.ID-Gema talbiyah yang membahana di seantero Makkah bukan sekadar penanda kehadiran fisik jemaah, melainkan awal dari sebuah perjalanan hukum yang presisi. Di antara tiga jalur yang tersedia—Tamattu, Qiran, dan Ifrad—muncul sebuah pertanyaan klasik yang sering diperdebatkan: manakah yang paling utama?

Syaikh Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijri dalam bukunya, Ringkasan Fiqih Islam (2012), memberikan jawaban yang tegas. Bagi jemaah yang tidak membawa hewan kurban atau hadyu dari tempat asalnya, Haji Tamattu adalah pilihan paling afdal. Pilihan ini bukan semata-mata soal kepraktisan, melainkan karena ia merupakan perintah langsung Rasulullah kepada para sahabatnya saat Haji Wada.

Secara teknis, Tamattu mengharuskan jemaah melakukan umrah terlebih dahulu di bulan-bulan haji, kemudian bertahallul atau melepas ihram, dan kembali berihram untuk haji pada tanggal 8 Zulhijah. At Tuwaijri menjelaskan bahwa Tamattu adalah ibadah yang paling mudah dan gampang, sekaligus paling banyak amalannya karena mencakup rangkaian umrah dan haji secara lengkap dalam satu musim.

Logika keutamaan ini diperkuat oleh fakta sejarah. Saat Haji Wada, Rasulullah menyarankan para sahabat yang tidak membawa hadyu untuk mengubah niat mereka menjadi umrah agar menjadi haji tamattu. Hal ini menunjukkan aspek kemudahan dalam Islam. Menurut At Tuwaijri, sekalipun seseorang sudah terlanjur berihram secara Qiran atau Ifrad, sangat dianjurkan untuk mengubah niatnya menjadi umrah agar bisa meraih keutamaan Tamattu, asalkan ia belum menyembelih hadyu.

Namun, spiritualitas di Tanah Haram tidak hanya soal memilih jenis ritual. Ia dimulai dari adab memasuki ruang suci. Dalam teks fikih tersebut, jemaah disunnahkan memasuki Makkah dengan mandi terlebih dahulu dan mendahulukan kaki kanan saat memasuki Masjidil Haram. Sebuah doa perlindungan dipanjatkan untuk memagari hati dari godaan duniawi:

أَعُوذُ بِالله العَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ القَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya: Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, kepada wajah-Mu Yang Mulia, kekuasaan-Mu yang qadim, dari setan yang terkutuk (Hadis Riwayat Abu Daud).

Setelah melintasi pintu masjid, fokus utama jemaah adalah Kakbah. Bagi pelaku Tamattu, mereka memulai dengan tawaf umrah. Sedangkan bagi pelaku Qiran dan Ifrad, mereka melakukan tawaf qudum sebagai bentuk penghormatan pertama kepada Baitullah, yang hukumnya sunnah.

Keutamaan Tamattu juga dibahas dalam perspektif yang lebih luas oleh para ulama. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh Sunnah menyebutkan bahwa Tamattu dipilih karena memberikan jeda bagi fisik jemaah untuk beristirahat setelah umrah sebelum memasuki puncak prosesi haji yang menguras energi. Hal ini sejalan dengan prinsip syariat untuk tidak memberatkan hamba-Nya di luar batas kemampuan.

Menariknya, At Tuwaijri juga menyinggung perihal tahallul. Tahallul atau melepaskan diri dari larangan ihram dapat terjadi melalui tiga kondisi: penyempurnaan ibadah secara lengkap, adanya uzur bagi mereka yang mensyaratkan di awal, atau karena terhalang oleh kondisi darurat. Bagi pelaku Tamattu, tahallul terjadi dua kali, yang memberikan ruang bagi mereka untuk mengenakan pakaian biasa dan menjalankan aktivitas normal sebelum memulai ihram haji.

Pilihan menjadi mutamatti—sebutan bagi pelaku Tamattu—akhirnya menjadi simbol keseimbangan antara ketaatan pada perintah Nabi dan pengakuan atas keterbatasan manusiawi. Sebagaimana dicatat dalam berbagai karya ilmiah tentang manajemen haji, pilihan Tamattu juga sangat membantu otoritas dalam mengelola arus jemaah agar tidak terjadi penumpukan massa dalam keadaan ihram yang terlalu lama di satu titik.

Dalam narasi fikih At Tuwaijri, pesan yang ditangkap sangat jelas: Islam menginginkan kemudahan. Pilihan Tamattu bukan sekadar mengambil jalan pintas, melainkan mengikuti saran terbaik dari sang pembawa risalah. Dengan mengucap "Allahumma iftah lii abwaaba rahmatik" (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu), jemaah melangkah dengan keyakinan bahwa jalan yang paling utama adalah jalan yang paling mendekatkan diri pada sunnah dan memberikan ketenangan dalam beribadah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)