LANGIT7.ID-Roma; Dalam laga pertamanya setelah tersingkir secara mengejutkan di Madrid Open, petenis no 1 dunia Aryna Sabalenka berhasil kembali ke jalur kemenangan saat mengalahkan Barbora Krejcikova di Roma.
Aryna Sabalenka tak butuh waktu lama untuk memulai kampanye Italian Open-nya. Ia meraih kemenangan dua set langsung atas Barbora Krejcikova.
Sabalenka, yang menjadi runner-up di edisi 2024 setelah dikalahkan Iga Swiatek, hanya membutuhkan waktu 1 jam 24 menit untuk melaju ke babak ketiga dengan kemenangan 6-2, 6-3 pada Kamis (7/5/2026).
Namun, justru Krejcikova yang memulai pertandingan dengan lebih baik. Ia berhasil mematahkan servis Sabalenka di game pertama, meski unggulan utama tersebut langsung membalasnya di game berikutnya.
Kegagalan awal itu tampaknya menjadi penyadar bagi Sabalenka. Ia pun merebut empat game terakhir tanpa kesulitan berarti untuk mendekati babak berikutnya.
Setelah gagal memanfaatkan peluang mematahkan servis Krejcikova di game kedua, Sabalenka tidak mengulangi kesalahan serupa di game keempat. Ia dengan cepat unggul 4-1.
Krejcikova berjuang dengan gigih, tapi hanya mampu menunda kekalahan yang sudah di depan mata. Sabalenka memastikan tiket bertemu Sorana Cirstea dengan servis menyala yang dikembalikan lawannya melebar.
Kilas Data: Sabalenka Bangkit dari Mimpi Buruk di MadridPada laga pertamanya sejak kehilangan gelar Madrid Open setelah kalah mengejutkan di babak perempat final dari Hailey Baptiste, Sabalenka tampil kembali dengan performa terbaiknya.
Sabalenka (74,8%, rekor 151-51) kini melampaui Ashleigh Barty (74,7%) untuk menduduki peringkat keempat dalam persentase kemenangan tertinggi di turnamen WTA-1000 sejak format ini diperkenalkan pada 2009, untuk pemain yang telah memainkan minimal 20 pertandingan.
Selain itu, hanya Bianca Andreescu (69,2%) dan Swiatek (62,3%) yang memiliki persentase kemenangan lebih tinggi melawan juara Grand Slam di level WTA dibandingkan Sabalenka (62,2%, rekor 61-37) di antara pemain aktif (minimal 20 pertandingan).
Berrettini Tak Percaya: Wasit Memaksa Poin Diulang Setelah Peredam Getar Popyrin JatuhMatteo Berrettini tidak hanya harus menghadapi kekalahannya dari Alexei Popyrin yang mengalahkannya 6-2, 6-3, tapi juga harus menerima keputusan kontroversial wasit Aurelie Tourte.
Saat terjadi reli dalam pertandingan tersebut, peredam getar (vibration dampener) raket pemain Australia itu terlepas dan jatuh. Tourte kemudian meniup peluit let (poin diulang) tepat saat pukulan Popyrin baru saja meninggalkan raket.
Poin pun harus diulang. Namun, petenis Italia itu tidak percaya dengan keputusan tersebut. Menurutnya, poin tidak boleh pernah diulang hanya karena peredam getar jatuh ke lapangan. Bahkan Popyrin sendiri terkejut dan mengakui bahwa ia akan memberikan poin tersebut kepada Berrettini yang berasal dari Roma itu.(*/saf/beinsport/puntodebreak)
(lam)