LANGIT7.ID - Imam dan Khatib Masjidil Haram, Prof. Syekh Su’ud bin Ibrahim bin Muhammad Al-Syuraim Ph.D, mengingatkan, perbuatan mem-bully, merundung atau intimidasi merupakan tindakan yang dilarang dalam agama Islam.
Bullying adalah tindakan mengganggu yang dilakukan secara berulang, dilakoni baik laki-laki atau perempuan, anak kecil atau dewasa, personal atau kelompok terhadap orang lain.
Bullying biasanya dilakukan dengan memanfaatkan kelemahan dan kesendirian korban bullying.
Baca Juga: Pesan Khatib Masjidil Haram ke Ortu dan Guru: Bimbing Anak Cinta Ilmu, Jangan Sampai Dikuasai GadgetSyekh Su'ud menyebut
bullying terbagi menjadi dua jenis. Pertama,
bullying secara lahiriyah. Jenis ini memiliki varian yang banyak, bisa berupa tindakan verbal seperti mencela dan menghina. Ada pula bullying berupa psikologis seperti pelecehan, pemerasan dan lain sebagainya.
Bullying juga bisa berupa perbuatan seperti memukul, merampas, dan merusak milik orang lain.
Kedua, merundung secara maknawi seperti penghinaan, fanatisme, rasis, serta menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
“Intimidasi (
bullying) ini adalah penyakit yang tercela. Ia begitu cepat tersebar di tengah masyarakat, apabila para pendidik dan pakar lalai dari masalah yang membinasakan ini,” kata Syekh Su'ud dalam Khutbah Jumat di Masjidil Haram beberapa pekan lalu.
Masalah ini kian mengkhawatirkan jika terjadi di antara para siswa di lingkungan sekolah. Sebab, ada satu kontradiktif antara tujuan utama pendidikan di sekolah. Di sekolah mereka mendapatkan pelajaran tentang akhlak mulia. Namun itu tidak diterapkan.
Di sisi lain,
bullying melalui platform media sosial juga sangat mengkhawatirkan. Ini berdampak lebih besar dan lebih luas dibanding model
bullying lain, karena karakteristiknya mudah tersebar dan akan menjadi jejak digital yang abadi.
Baca Juga: Dr Ahmad Musyaddad, Penerjemah Masjidil Haram Asal LombokPenyebab Orang MerundungMenurut Syekh Su'ud, kesalahan dalam pendidikan keluarga menjadi salah satu penyebab orang suka merundung. Di sisi lain, orang tua yang membiasakan tindakan kekerasan kepada anak juga akan menjadi pemicu.
Kerap anak merasa tertekan dalam rumah, sehingga menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Ada pula anak yang mengira tindakan merundung merupakan bukti kejantanan, kekuatan, dan kemenangan. Terkhusus jika ia berkawan dengan orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan yang sama.
Orang tua dan pendidik memegang peranan penting dalam persoalan ini. Pendidikan karakter harus dilakukan sejak dini. Ini agar anak tumbuh dengan akhlak mulia. Anak harus dipahamkan bahwa merundung merupakan perbuatan tercela.
Orang tua atau pendidik tidak boleh mengabaikan jika mendapati anak suka merundung. Khawatir itu menjadi karakter si anak, dan akan terbawa hingga dewasa.
“Akibat intimidasi itu hanyalah akan menjadikan pelakunya semakin kacau, merusak masyarakatnya, terbiasa dengan sifat brutal dan kegalauan yang tiada putus darinya,” ucap Syekh Su'ud.
Nabi SAW bersabda, “Orang kuat itu bukan dengan bergulat, tetapi orang kuat itu yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari)
Maka dari itu, dia meminta kepada orang yang suka merundung untuk bertaubat dan bertakwa kepada Allah Ta’ala. bullying hanya mendatangkan keburukan. Hanya orang-orang bertakwa yang mampu berkasih sayang kepada orang lain.
Baca Juga: Sembuh dari Gangguan Jiwa, Muslimah Ini Keluar dari RSJ dan Kini Kuliah di UI(jqf)