Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Sambut Tahun Baru 1444 H, Ini 7 Nasihat Khatib Senior Masjidil Haram

Muhajirin Sabtu, 30 Juli 2022 - 13:20 WIB
Sambut Tahun Baru 1444 H, Ini 7 Nasihat Khatib Senior Masjidil Haram
Khatib Senior Masjidil Haram, Syaikh Shaleh Humaid (foto: Saudi Gazzette)
LANGIT7.ID, Makkah - Khatib senior Masjidil Haram, Syaikh Dr. Shaleh Humaid, menerangkan, tahun baru 1444 Hijriyah harus menjadi momentum introspeksi diri. Hakikatnya, pergantian tahun menjauhkan manusia dari dari dunia dan rumah serta mendekatkan kepada akhirat dan alam kubur.

“Ia (pergantian tahun) menjauhkan kita dari bersenang-senang dengan keluarga, anak-anak dan harta. Mendekatkan kita kepada kesendirian yang hanya ditemani bekal amal,” kata Syaikh Shaleh saat menyampaikan Khutbah pergantian tahun di Masjidil Haram, dikutip Sabtu (30/7/2022).

Orang yang menghendaki kebaikan pasti akan berhenti sejenak mengevaluasi diri. Mati seperti tidur pada malam pergantian tahun. Esok terbangun mendapatkan balasan segala perbuatan di dunia. Surga bagi orang taat dan neraka bagi yang durhaka.

Syaikh Shaleh menegaskan, perputaran waktu adalah pemberi pelajaran yang paling jujur dan pergantian masa menjadi penutur yang paling fasih. Sebuah atsar diriwayatkan al-Bazzar, “empat hal yang membinasakan: kebekuan mata, kerasnya hati, panjang angan, dan obsesi terhadap dunia.”

Baca Juga: Sambut Tahun Baru 1 Muharram, Ini Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriyah

Syaikh Shaleh lalu memberikan nasihat kepada umat Islam di seluruh dunia pada momen tahun baru 1444 H:

1. Jangan Tertipu Angan-Angan Dunia

Ada orang yang tertipu dengan masa muda, sehingga melupakan hilangnya kawan sebaya, lalai terhadap hal-hal yang tiba-tiba datang begitu cepat dan tersandera oleh angan-angan.

Padahal, kata Syaikh Shaleh, angan-angan hanyalah khayalan orang malas, dan pemikiran orang ceroboh. Bersandar pada angan-angan hanya kebiasaan orang bodoh dan modal orang bangkrut. Berangan-angan dan menunda-nunda adalah bentuk menyia-nyiakan hari ini dan masa depan.

Di antara kalangan orang berilmu, ada yang hanya serius mengumpul ilmu, tapi tidak sungguh-sungguh beramal. Dia diberi ilmu, namun hanya digunakan untuk bangga-bangga dan berdebat, serta meninggikan diri dari orang lain.

“Dia merusak agamanya demi memperbaiki dunianya. Dia tidak menjauhi ghibah dan tidak selamat dari dengki,” ujar Syaikh Shaleh.

Di antara orang-orang terlalaikan dunia adalah orang yang membelanjakan harta untuk syahwat dan hal-hal terlarang. Paling ironi adalah orang yang mencari nafkah, tetapi masuk neraka karenanya.

“Kemudian harta itu diwarisi oleh orang-orang shaleh yang membelanjakannya pada ketaatan kepada Allah, lalu memasukkannya ke surga,” ucap Syaikh Shaleh.

2. Selalu Ingat Kematian

Syaikh Shaleh menilai aneh orang yang yakin pada kematian, tapi melupakan pemutus segala kelezatan dunia itu. Dia tahu maksiat sangat berbahaya, tapi tetap melakukannya. Dia takut kepada manusia, padahal Allah lah yang patut ditakuti.

Ada orang yang usianya bertambah, tapi dosa pun semakin menumpuk. Rambutnya kian memutih, hatinya semakin pekat. Hati yang sakit, susah diharapkan sembuh. Mata yang terbiasa melihat yang haram, sulit untuk menangis. Bila anggota tubuh sudah tenggelam dalam syahwat, pertanda orang tersebut telah mati.

Baca Juga: Ormas Betawi Tanah Abang Gelar Pawai Tahun Baru Islam di Lokasi CFW

“Hendaknya setiap orang berbekal dari dirinya untuk dirinya sendiri, dari hidupnya untuk matinya, dari masa mudanya untuk masa tuanya dan dari sehatnya untuk sakitnya. Sebab setelah kematian, tiada lagi yang diminta kerelaan. Dan setelah dunia, hanyalah surga atau neraka,” tutur Syaikh Shaleh.

3. Perbaiki Hubungan kepada Allah dan kepada Manusia

Orang yang memperbaiki hubungan dengan Allah, maka dia akan memperbaiki hubungannya dengan manusia. Orang yang jujur dan beriman saat sendiri, makan akan baik pula kondisinya saat tidak sendiri. Siapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah akan cukupkan dunianya.

“Introspeksi yang benar tidaklah serta merta melahirkan amalan. Hendaklah kalian memperbaiki yang sudah lalu dengan apa yang tersisa. Isilah waktu dan hari-hari kalian dengan amal. Jangan tersibukkan oleh penyesalan dan ratapan yang memalingkan dari amal kebaikan,” ungkap Syaikh Shaleh.

4. Takwa Sebaik-Baik Bekal

Kematian datang secara tiba-tiba. Hari-hari itu adalah kendaraan, nafas adalah langkah, amal shaleh adalah modal utama, keuntungannya adalah surga dan kerugiannya adalah negara.

“Bertakwalah kepada Allah, semoga Allah merahmati kalian. Berbekallah di dunia untuk kebutuhan diri kalian di akhirat kelak. Siapa yang bertakwa kepada Allah, dia akan menasihati dirinya sendiri, segera bertobat dan mengekang syahwatnya,” ujar Syaikh Shaleh.

5. Amal Shalih Pengontrol Hati

Hal terpenting bagi seorang hamba adalah mengontrol hati agar selalu ikhlas. Keikhlasan akan melahirkan kekuatan dalam kebenaran, kesabaran, ketekunan dan kontinuitas. Dengan ikhlas, karunia Allah akan berlipat ganda, pahala dan balasannya pun akan menjadi besar.

Baca Juga: Tahun Ini Harus Lebih Baik dari Kemarin, Berikut Tips Perbaikan Diri ala Imam Al-Ghazali

“Bahkan keikhlasan menjadikan perbuatan biasa menjadi ibadah dan ketaatan, sehingga kehidupan seorang hamba sepenuhnya hanya untuk Allah,” ucapnya.

Di saat bersemangat melakukan amal shaleh, jangan lupa istiqomah dalam melaksanakannya. Di dalam hadits shahih, dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, Rasulullah saw ditanya, "Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?" beliau menjawab, "Yang berkesinambungan (istiqomah), meskipun sedikit." (HR. Bukhari dalam ar-Raqaaiq)

6. Perputaran Waktu adalah Pelajaran

Dalam perputaran waktu terdapat berbagai pelajaran. Pada peristiwa-peristiwa yang terjadi ada hikmah berharga. Waktu berlalu, kadang menghancurkan yang terbangun dan kadang memakmurkan yang tandus.

“Waspadalah terhadap kegemerlapan yang menyesatkan, sebab siapa yang terobsesi dengannya, hanyalah akan membawanya jauh dari Allah,” ujar Syaikh Shalih.

Orang yang tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, maka dia akan sibuk dengan keburukan. Sebuah kendi minuman jika tidak terisi air, maka isinya adalah angin. Siapa yang bertekad untuk menjaga sisa usianya yang sejenak itu, maka hendaknya dia hanya berkawan dengan orang-orang yang serius lagi gigih, yang terpilih lagi cerdik, yang baik lagi budiman, yang senantiasa memelihara waktunya melebihi orang pelit yang menjaga hartanya.

7. Kelalaian Otak Kesalahan

Kelalaian adalah otak kesalahan. Al-Hasan rahimahullah berkata, "Kebaikan adalah cahaya hati dan kekuatan raga. Sedangkan keburukan adalah kegelapan dalam hati dan kelemahan pada raga. Kegelapan maksiat mematikan cahaya ketaatan."

Baca Juga: Muhasabah Awal Tahun, KH Zainuddin MZ Ungkap Tentang Orang Bangkrut di Negeri Akhirat Bagaimana dengan orang yang mengklaim diri mencintai Rasulullah saw, tetapi dia tidak mengerjakan sunnahnya? Betapa aneh orang yang membaca al-Qur'an, tetapi dia tidak mengamalkan isinya.

“Begitu halnya seseorang yang menikmati berbagai nikmat Allah, tetapi tidak bersyukur kepada-Nya, tidak menjadikan setan sebagai musuh, tidak beramal untuk surga, tidak menjauh dari neraka, tidak bersiap untuk kematian, sibuk dengan aib orang lain, sementara dia lupa aib dirinya sendiri. Orang seperti ini berada dalam kebodohan dan kelalaian,” tutur Syaikh Shalih.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)