LANGIT7.ID - Dalam Islam, gangguan mental merupakan penyakit yang bisa disembuhkan. Ini yang terjadi pada diri Yovania Asyifa Jami. Ia merupakan mahasiswi 19 tahun yang merupakan penyintas gangguan mental dan mantan pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Kini, Yova sudah dinyatakan sembuh. Kerennya lagi ia bisa masuk ke perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, yakni Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2020.
Yova berbagi pengalaman selama di rumah sakit melalui akun TikToknya. Ia menceritakan upaya para perawat rumah sakit berusaha mengembalikan ingatannya. Anak bungsu dari dua bersaudara ini juga bercerita tentang awal mula dia mengalami gangguan mental.
Baca Juga: Gangguan Mental Bukanlah karena Jin, Dosa atau Jauh dari Allah
Saat berada di bangku sekolah dasar, Yova merasa depresi mengikuti ujian nasional kala itu. Ia datang dari keluarga
broken home. Ia pernah dirundung satu angkatan saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. ia juga sempat kehilangan kesadaran saat SMA. Hingga pada akhirnya mengalami halusinasi dan delusi atau gangguan mental sampai pernah menyakiti diri sendiri.
Yova mengalami gangguan mental pada usia 15 tahun, saat baru masuk SMA. Banyak kesulitan yang mesti dia hadapi kala itu. Berbagai pengalaman pahit datang bertubi-tubi sehingga mengganggu kesehatan mental Yova.
Saat SD ia menjadi korban perceraian orang tua. sedih, marah, dan kecewa menjadi satu. Ia tak tahu harus melampiaskan ke mana semua perasaan itu. Ia dekat dengan ayah. Namun harus terpisah karena hak asuh jatuh ke ibu.
Yova kecil merasa bingung terhadap situasi dalam keluarganya. Saat memasuki SMP pun penderitaan masih terus berlanjut. Saat mengalami perundungan di bangku SMP, Yova sempat mengalami trauma dan tak ingin masuk sekolah selama dua pekan.
Baca Juga: 5 Pesantren Khusus Tangani Santri dengan Gangguan Mental
Saat awal mula jadi korban perundungan, Yova sempat mendapat penanganan dari psikiater. Hanya saja orang tuanya tidak menyadari jika Yova mengalami bullying. Pengalaman pahit tak sampai di situ, saat masuk ke bangku SMA ia tak bisa beradaptasi.
Namun, Yova merupakan wanita yang beruntung. Setelah mendapatkan perawatan dari rumah sakit gangguan mental, ia kembali normal. Meski hingga kini dia harus mengonsumsi obat dan rutin ke psikiater karena mengidap
Unspecified Bipolar Disorder.
Perjalanan Yova masuk ke UI tak mudah. Ia pernah ditolak empat perguruan tinggi negeri lantaran punya riwayat gangguan mental. Namun perjuangannya berbuah manis dan kini terdaftar sebagai mahasiswi vokasi jurusan komunikasi di UI.
Yova memiliki alasan mulia membagikan pengalaman tersebut di media sosial. Ia ingin mengubah stigma negatif masyarakat tentang orang gangguan mental. Mereka hanya butuh dukungan, bukan cacian.
Saat hadir dalam sebuah talkshow di salah satu televisi swasta, Yova menyebut hingga saat ini masih banyak stigma-stigma negatif tentang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan RSJ. Ia mengaku tidak suka dengan stigma-stigma tersebut. Maka dari itu, ia berani
speak up dan berbagi pengalaman di media sosial.
“Akhirnya aku sadar, ini loh saya seorang ODGJ dan mantan ODGJ. Tapi saya bisa sembuh,” kata Yova. Ia mengaku tak malu disebut penyintas ODGJ. Penyakit mental sama halnya dengan penyakit ringan lain.
(jqf)