LANGIT7.ID - Pesantren sudah sangat lekat dengan kehidupan masyarakat muslim di Indonesia. Ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka, pesantren sudah tersebar ke seluruh pelosok nusantara. Mulai daerah pesisir sampai pedalaman.
Pesantren memang identik dengan lembaga pendidikan untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Namun seiring perkembangan zaman, banyak pesantren didirikan untuk menangani masalah sosial tertentu dengan pendekatan islami. Salah satunya pesantren yang didirikan khusus untuk orang gangguan mental.
Berikut ini pesantren khusus menangani orang-orang yang mengalami gangguan mental:
1. Ponpes Darut Tasbih, TangerangPondok Pesantren Darut Tasbih berada di Desa Gelam Jaya, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten. Pesantren ini memang khusus menerima orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Namun kegiatan di pesantren ini tidak berbeda dengan pesantren pada umumnya. Keseharian santri diisi dengan ibadah, mengaji, mendengarkan tausiyah, dan melakukan ruqyah.
Pesantren ini diasuh oleh KH Rafiudin. Ia menempatkan posisi orang yang mengalami gangguan kejiwaan itu di tempat yang mulia. Ia tak menganggap mereka pasien, tapi sebagai santri.
KH Rafiudin sudah menangani orang yang mengalami gangguan kejiwaan sejak 30-an tahun lalu. Awalnya ia membawa pulang sejumlah orang dengan gangguan kejiwaan dari pinggir jalan ke kontrakannya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Lalu pada 2000, ia sudah memulai aktivitas di Darut Tasbih, pesantren yang ia dirikan. Kapasitas pesantren pada awal didirikan tidak lebih dari 50 santri.
Para santri yang mengalami gangguan jiwa di pesantren ini karena berbagai permasalahan seperti masalah bisnis dan cinta. Di tempat itu, KH Rafiudin melakukan pendekatan dan mengajak mereka beribadah.
Santri yang datang silih berganti. Kini santri yang datang tak lagi terlantar, mereka diantar oleh keluarganya. Namun karena ada Covid-19, dari 60 santri ada 30 santri yang terpaksa harus dikembalikkan untuk sementara.
KH Rafiudin tidak mengingat jumlah santri yang sembuh setelah menjalani pengobatan. Namun mereka yang sembuh menjalani hidup normal dan memiliki berbagai pekerjaan. Bahkan ada santri yang saat ini sudah menjadi pengusaha kuliner di Samarinda, Kalimantan Timur.
Saat ini, Rafiudin juga membuat sebuah majelis taklim khusus untuk orang-orang yang mempunyai keterbelakangan mental.
2. Ponpes Bani Abbas RangkasbitungPondok Pesantren Bani Abbas Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten ini dipimpin oleh KH Abbas Wahyudin. Dia sudah 20 tahun menampung pasien rehabilitasi kecanduan narkoba dan gangguan mental.
Banyak orang yang nyantri di pondok itu bisa sembuh. Pasien rehabilitas kecanduan narkoba dan gangguan jiwa paling cepat sembuh, hanya dengan waktu sepekan dan jika lama bisa mencapai empat tahun.
KH Abbas memberikan pengobatan berbentuk media dengan berdoa kepada Allah Ta'ala dan memberikan air putih. Ia percaya semua penyakit terjadi atas kehendak-Nya.
Keterbatasan sarana membuat KH Abbas tidak bisa menampung pasien dalam jumlah besar. Ditambah lagi pasien kerap mengamuk. Saat ini sekitar 10-an orang yang tengah menjalani rehabilitas. Penanganan pengobatan bagi pasien baru ditempatkan di kamar khusus dan jika sudah sadar, mereka akan disatukan dengan para santri.
Ada 35 santri yang tengah belajar di pesantren ini. mereka rutin tiap melakukan aktivitas layaknya santri pada umumnya. Hanya saja, mereka kerap diperbantukan untuk menangani pasien pengobatan rehabilitasi dan gangguan jiwa.
Tujuan pendirian pesantren ini untuk membantu pertolongan umat manusia khusus kecanduan narkoba dan gangguan jiwa. Biaya pengobatan seikhlasnya saja, namun keluarga pasien harus memenuhi kebutuhan pasien.
3. Pesantren Istighfar, Semarang Pesantren Istighfar, Semarang, Jawa Tengah yang berarti ‘memohon ampunan’ didirikan oleh Mohammad Kuswanto (Gus Tanto) pada 2005. Banyak santri yang merupakan preman atau berandal. Mereka tak menginap. Hanya datang ketika ada kebutuhan untuk berkonsultasi. Setiap hari jumlah mereka mencapai 250 orang.
Dari segi bangunan, pesantren ini mirip klenteng. Bangunannya diberi hiasan relief naga. Di dalam mushola terdapat lampu disko. Sementara di dindingnya terdapat tulisan “Wartel Akhirat 0.42443”. Angka-angka itu adalah jumlah rakaat shalat.
Lokasi pesantren ini bekas tempat aktivitas maksiat berlangsung tanpa henti. Perjudian dan pelacuran menjadi hal yang lumrah di tempat ini. maka tak heran jika masyarakatnya merupakan pelaku kriminal. Namun kini, semua sudah berubah. Tempat itu sudah lebih islami dan tidak lagi menakutkan untuk disinggahi.
Gus Tanto mengaku tak mudah membangun ponpes di Purwosari. Banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mewujudkan keinginannya mendirikan ponpes. "Bahkan, bentuk bangunan pesantren saja bisa jadi masalah dan diartikan macam-macam," ujar Sutanto kepada reporter SCTV Riko Anggara dalam tayangan Liputan 6 Siang, Senin (23/8).
Namun, berkat pendekatan yang sangat personal, semua halangan itu bisa disingkirkan. Hal terpenting adalah tidak menyampaikan janji-janji atau mendikte, karena santri punya latar belakang berbeda dari pesantren pada umumnya.
4. Pesantren Perut Bumi, TubanPesantren Perut Bumi ada di Tuban, Jawa Timur. Pesantren yang bernama Syekh Maulana Maghribi ini dibangun 20 meter di bawah tanah. Tepatnya, di dalam sebuah goa.
Pimpinan pesantren ini adalah KH. Subhan Mubarok. Ia beralasan membangun pesantren di dalam goa karena terinspirasi kitab suci. Menurutnya, mayoritas firman Allah diturunkan pada para nabi di dalam goa.
Ayat-ayat pertama Al-Qur`an (Surah Al-‘Alaq ayat 1-5) memang Allah turunkan di dalam goa. Yakni ketika Nabi Muhammad menyendiri (tahannuts) di dalamnya. Nama goa itu adalah Hira.
Pesantren yang dibangun pada 2002 itu menawarkan keamanan dan kenyamanan, sehingga para santri tak perlu khawatir jika berada di tempat tersebut.
Pesantren ini juga menyimpan sejumlah situs-situs peninggalan ulama terdahulu. Situs tersebut meliputi petilasan Syekh Maulana Al Maghribi serta tempat pertapaan Singo Joyo dan Putri Ayu Sendangharjo.
Selain itu, santri di pesantren ini mayoritas mantan pelaku kriminal. Pesantren ini juga sering dikunjungi para pelancong dari luar negeri. Ada yang sekadar melihat keunikan, atau pun belajar langsung di tempat itu.
5. Pesantren Metal Tobat Sunan Kalijaga, CilacapPesantren ini mirip dengan Pesantren Istighfar yang ada di Semarang. Para santri terdiri dari orang-orang dengan masa lalu yang kelam. Ada yang bekas pencuri, peminum, sampai penjahat.
KH Soleh Aly Mahbub mendirikan pesantren ini pada tahun 2000. Saat ini jumlah santrinya 500 orang. Sejak didirikan sampai sekarang sudah 22 santri yang berhasil menghafalkan Al-Qur`an.
Di pesantren ini para santri mengaji Al-Qur`an dan fikih. Seperti di pesantren umumnya. Tapi mereka dibebaskan memanjangkan rambut dan bermain musik. Sebagian bahkan ada yang bertato.
Di sini pula ada pusat rehabilitasi mental. Biasanya santri yang direhab karena pernah mengkonsumsi narkoba dan gangguan jiwa. Abah Soleh mengaku tak memiliki metode
njlimet untuk menyembuhkan mereka. Sebab, obatnya hanya berdoa dan berpuasa daud.
Puasa daud adalah puasa yang dilakukan Nabi Dawud Alaihissalam dengan cara sehari berpuasa, sehari tidak. Puasa daud ini pun dilakoni selama tiga tahun berturut-turut tanpa henti.
(jqf)