LANGIT7.ID - Imam dan Khatib Masjidil Haram, Syekh Dr. Shaleh bin Abdullah Humaid, berpesan kepada para orang tua dan guru untuk membimbing anak-anak agar suka membaca dan menuntut ilmu. Sebab, ilmu merupakan sumber ketentraman hidup, penuntun dalam kebingungan, dan teman dalam kesendirian.
Beliau berpendapat, pelajaran paling terbaik bagi anak-anak adalah kitabullah (Al-Qur’an), baik membaca, menghafal, atau pun mendengarkan. Semakin seorang anak gemar membaca Al-Qur’an, maka akan bertambah ketenangan dan kebahagiaan dalam dirinya.
“Luruskanlah lisan mereka dengan bahasa al-Qur’an, agar bahasa mereka terjaga dan tutur kata mereka manis,” kata Syekh Shaleh melalui khutbah di Masjidil Haram berjudul ‘Tiada Kegundahan Yang Melampaui Kegundahan Dalam Masalah Pendidikan’, dikutip Senin (27/9/2021).
Baca Juga: Pendidikan Adab dan Tauhid, Penentu Masa Depan Anak-anak KitaOrang tua dan guru juga harus mendidik anak agar berhias dengan sifat terpuji dan akhlak mulia. Akhlak mulia akan menghindarkan anak dari kehinaan. Di antara sarana pendidikan yang paling efektif adalah mendidik dengan keteladanan.
Anak-anak membutuhkan keteladanan, bukan yang menyalah-nyalahkan. Orang tua dan guru harus duduk bersama mereka, berteman dengan mereka, berbicara dengan mereka, dan meluangkan waktu untuk mereka.
Orang tua yang tidak memiliki waktu untuk anak-anak tidak akan memiliki tempat di hati mereka. Waktu yang diberikan untuk mereka lebih berharga daripada harta benda. Meluangkan waktu adalah investasi untuk diri sendiri dan masa depan anak.
Baca Juga: Mengapa Ulama Terdahulu Menguasai Lintas Bidang Ilmu? Ini PenjelasannyaOrang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak dengan kebijaksanaan akal, kesantunan lisan, kejujuran ucapan, kesucian tangan dan kebaikan akhlak. Orang tua dan guru harus menjadi pendengar setia bagi mereka. Anak-anak harus dicintai, dipuji, dimotivasi, dan diajak bercanda bergembira.
Jangan Sampai Anak Dikuasai GadgetSyekh Shaleh berpesan kepada orang tua dan guru untuk mewaspadai agar anak-anak tidak dikuasai gadget dan media sosial. Orang tua harus menanamkan pada diri mereka kesadaran agar tidak mudah percaya pada gambar, tidak bertekuk lutut kepada setiap cuitan dan tidak mudah menerima semua informasi.
“Jangan jadikan media sosial sebagai stasiun penyeberangan segala desas-desus atau jembatan ghibah atau jalan hoax yang sampai ke segala penjuru,” kata Syekh Shaleh.
Dia mengingatkan, kesalahan dan dosan akan dipertanggungjawabkan walau hanya sekadar sentuhan tidak diduga. Maka itu, orang tua harus mengarahkan anak untuk membuat piranti yang dapat mencegah keburukan dan hal-hal keji.
Baca Juga: Tips Mengurangi Distraksi Gadget agar Anak Bisa Konsentrasi BelajarDi antara tujuan utama pendidikan adalah menegakkan bangun kepribadian anak didik, merasa mulia dengan nilai-nilai kebaikan, memperhatikan jiwa, jauh dari taqlid yang jumud, serta waspada dari sikap mengekor di belakang orang-orang terkenal dalam berpakaian, makanan dan sikap.
“Ketahuilah bahwa kemuliaan itu milik Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui,” tutur Syekh Shaleh.
Orang tua harus menanamkan ke dalam diri anak bahwa yang bathil adalah bathil, meskipun banyak pengikutnya. Sesuatu yang benar adalah benar walau sedikit pengikutnya. Seseorang terpandang karena adab, bukan dengan pakaian atau penampilan luarnya. Orang terpandang karena ilmu dan akhlak, bukan dengan nasab dan kabilah.
Orang tua harus memotivasi anak untuk memelihara waktu, memanfaatkan waktu luang, menjalankan tanggung jawab dan mengambil keputusan. Tidak ada yang menghantarkan pada cita-cita kecuali kesungguhan dan kerja. Petunjuk jalan itu adalah mujahadah (bersungguh-sungguh).
“Siapa yang menghimpun metode-metode dalam mendidik, maka dia memetik buahnya, seperti memahami kedua orang tua, berbakti, tenang, merasa tentram di rumah dalam suasana cinta, kasih sayang, motivasi, percaya diri, saling menyayangi dan saling toleran,” kata Syekh Shaleh.
Pendidikan yang benar akan membuat anak-anak akan tumbuh sebagai anak shaleh, akidah benar, perangai baik, serta unsur-unsur kebaikan dan hal-hal yang positif seimbang, rapi dan adil. Mendidik anak itu adalah kebaikan, ketaatan dan pahala.
Baca Juga: Mendidik Generasi Alfa untuk Hidup di Zamannya(jqf)