LANGIT7.ID - Generasi alfa atau generasi digital adalah generasi pertama yang benar-benar hidup berdampingan dengan teknologi digital bahkan sejak lahir. Mereka seolah lahir dengan bekal kemampuan dasar penggunaan teknologi sebagai alat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Generasi alfa memiliki kemudahan akses dan komunikasi global yang memungkinkan mereka memperluas kemampuan linguistic dengan jangkauan lebih luas dan varian lebih banyak. Sehingga, wujud dunia tanpa batas (
borderless world) menjadi semakin nyata.
Beberapa negara sudah menjadikan pemrograman komputer sebagai kurikulum nasional untuk sekolah dasar dan menengah. Itu untuk menyiapkan kemampuan penguasaan teknologi sejak dini dalam membentuk karakter siswa kreatif dan mampu menggunakan teknologi mencari solusi.
Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik, Ir Dodik Priyambada S.Akt, mengatakan, pendidik harus menyadari kehadiran generasi tersebut agar memberikan pendidikan sesuai dengan zaman mereka.
Generasi alfa memiliki beberapa karakteristik menonjol seperti mahir menggunakan gawai sejak dini. Bagi mereka gawai adalah bagian dari gaya hidup. Ini akan membuat cara berkomunikasi yang paling diminati adalah komunikasi menggunakan gawai berbasis internet.
Dodik menjabarkan sembilan karakteristik generasi alfa, pertama, sangat memahami keadaan dunia dan lingkungan sejak dini seperti cara tetap aman di sekolah dan berlaku adil kepada semua orang. Ini poin yang jarang diketahui, padahal potensi mereka meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan lingkungan sangat besar.
Kedua, sangat terdidik karena lahir dan tumbuh bersama teknologi informasi yang instan, sehingga memiliki kesempatan belajar lebih banyak dan lebih dalam. Ini menjadikan generasi yang sangat pandai dan kaya informasi.
Ketiga, pembelajaran yang sangat personal dan memiliki kecenderungan mencari langsung dari sumber informasi dan data, lengkap dan ilmiah. Keempat, mereka tidak memerlukan seseorang untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan. Mereka hanya butuh orang yang mengarahkan agar menjadi pembelajar yang memiliki budi pekerti mulia dan berorientasi pada kemanfaatan pada kehidupan.
Kelima, memiliki keinginan besar untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan, tetap tidak terlalu mementingkan gelar formal pendidikan. Mereka lebih butuh pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan khusus daripada dorongan menjadi ilmuwan dengan gelar akademis dan pengakuan formal dari masyarakat.
Keenam, lebih menyukai komunikasi audio visual (video) daripada pesan teks.
Ketujuh, suka melakukan eksperimen atau mencoba hal baru, sehingga mudah diajak melakukan penciptaan karya baru.
Kedelapan, berpikir kritis dan logis. Ini adalah kemandirian dan kemerdekaan berpikir.
Kesembilan, cenderung memilih dan memiliki keterampilan khusus (spesialisasi), bukan sesuatu yang terlalu umum dan dasar.
Cara Mendidik Generasi AlfaDodik menjelaskan, pola pendidikan yang diterapkan kepada generasi harus berbeda dengan generasi sebelumnya. Ini merupakan cara untuk mempersiapkan generasi emas di masa depan.
“Ini mengharuskan sekolah dan para guru, juga orang tua, untuk melakukan penyesuaian dan perubahan strategi pembelajaran yang berbeda dari pola yang diterapkan pada generasi sebelumnya,” kata Dodik, dikutip dari laman PWMU, Sabtu (21/8/2021).
Dodik menjabarkan delapan cara mendidik generasi alfa. Pertama, menanamkan budaya penggunaan gawai proporsional sesuai kebutuhan sejak usia dini. Pengaturan atau penjadwalan penggunaan gawai agar lebih seimbang dan bervariasi serta terhindar dari gangguan psikis, seperti kecanduan gawai (
gadget addiction) dan nomophobia
(no mobile phobia).
“Generasi alfa harus mengerti bahwa ada saat-saat tertentu yang lebih bermakna bagi mereka jika dilakukan tanpa gawai, seperti berkendara, beribadah, berolahraga, bercengkrama dengan keluarga,” ucap Dodik.
Kedua, menghadirkan peran guru dan orang tua sebagai teman akrab yang siap mendengar curahan hati dan keluh kesah. Generasi alfa rawan terhadap gangguan psikis berupa kesendirian, kecemasan, dan depresi akibat sebagian besar waktunya berinteraksi dengan informasi tentang perkembangan dunia.
Generasi seperti generasi Z memiliki sifat
fear of missing out (Fomo) yakni ketakutan dan kegelisahan terlewatkan informasi atas suatu yang selalu diperolehnya secara on line menggunakan gawai. Fomo adalah sebuah sindrom dan gangguan psikis. Ini harus diantisipasi.
Ketiga, memotivasi untuk memperbanyak pengalaman dan petualangan di dunia nyata sebagai penyeimbang muatan dunia maya. Keempat, mengajak berjalan-jalan ke hutan, melihat aneka flora fauna dan menyaksikan ragam manusia secara langsung agar mereka tidak tercabut dari akar kehidupan nyata.
“Mendidik generasi alfa lebih dominan pada bagaimana berpikir dan belajar (
how to think and to learn) daripada mendidik apa yang harus dipikirkan dan dipelajari (
what to think dan to learn). Generasi alfa adalah pembelajar mandiri sehingga mutlak membutuhkan pendidikan bagaimana berpikir dan belajar secara benar,” ucap Dodik.
Kelima, menggunakan lebih banyak media pembelajaran audio visual. Guru seyogyanya banyak menggunakan bahan ajar yang berbasis video dan bisa diakses secara online. Saat pembelajaran tatap muka, sebisa mungkin menggunakan media audio visual agar pembelajaran lebih menarik.
Keenam, membangun budaya komunikasi terbuka. Generasi alfa memiliki pola pikir logis dan kritis, sehingga orang tua dan guru harus mengembangkan budaya komunikas yang jujur, terbuka terhadap kritik, dan apresiasi pada prestasi agar bakat dan kelebihan mereka tumbuh, berkembang, dan beretika.
Ketujuh, mengembangkan kemampuan berbahasa internasional. Mereka membutuhkan kemampuan bahasa Inggris untuk menyerap informasi dan berkomunikasi dengan seluruh belahan dunia. kedelapan, mengembangkan literasi visual, yakni kemampuan untuk membangun suatu makna yang berasal dari gambar visual, menggunakan kecakapan mengeksplorasi, mengkritisi, dan merefleksi.
“Generasi alfa memang benar-benar sudah berada di sekolah kita. Maka marilah kita mendidik mereka sesuai zaman dan karakteristik mereka untuk mencetak generasi yang unggul dan berkemajuan di masa depan,” pungkas Dodik.
(jqf)