LANGIT7.ID - Jika melihat ulama terdahulu seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Kindi hingga Imam Al Ghazali. Mereka adalah para ulama yang tidak hanya menguasai cabang-cabang ilmu agama semata. Tapi juga menguasai lintas disiplin keilmuan seperti filsafat, sains, matematika, logika hingga astronomi.
Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) Sayyid Dr Ali Tawfik Al-Attas, menjelaskan hakikat ulama. Hal apa yang membuat ulama dahulu berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang hari ini tentang ulama.
Menurutnya, akar kata ulama berasal dari Bahasa Arab yakni
‘ain-lam-mim. Dalam bahasa Indonesia berarti ilmu. Ilmu merujuk kepada Allah Ta’ala. Namun, faktanya, ilmu yang dimaksud adalah hal yang berkaitan dengan umat manusia, bukan hewan maupun hewan lain.
“Justru ilmu apakah yang relatif kepada umat manusia ini? Ilmu ini ialah ilmu tentang ‘alam semesta ini dan alam akhirat,” kata Sayyid Ali melalui akun facebook-nya, dikutip Selasa (14/9/2021).
Namun, kata
‘alam juga berasal dari akar kata yang sama yaitu ‘
ain-lam-mim. Dalam pandangan Islam, alam semesta memiliki pencipta, yakni
Al 'Alim. Justru,
Al 'Alim itu merupakan salah satu dari sifat-sifat Allah Ta’ala.
“Semua kata ini juga berasal daripada kata akar yang sama. Jadi, ulama ialah orang yang mampu menghubungkan ilmu, bukan saja dengan alam bahkan dengan Yang Memiliki Ilmu. Itulah epistemologinya. Itulah ontologinya. Itulah pula kosmologinya seperti mana yang diuraikan oleh pandangan alam Islam,” kata Putra Sayyid Prof Muhammad Naquib al-Attas ini.
Salah satu ciri khas ulama adalah mereka menguasai disiplin ilmu secara menyeluruh, terlebih ilmu agama dan cabang-cabang ilmunya. Dan lebih komprehensif jika ditambah dengan penguasaan ilmu lain diluar kajian keagamaan.
"Ulama harus memahami sistem pemikiran yang menyeluruh dari suatu ilmu. Selain menguasai epistemologi, ontologi dan kosmologi. Mereka memiliki kecakapan dalam bertutur atau arif, yang sering disebut ilmu bayan," kata Sayyid Ali.
Dengan kemampuan itu, para ulama tahu cara memanfaatkan ilmu, sekalipun mereka menghadapi masalah yang belum pernah terjadi pada masa lalu.
“Lalu, jika anda bertanya siapa ulama seperti itu hari ini? cari siapa yang memiliki ciri-ciri demikian. Orang seperti ini memiliki sistem pemikiran yang menyeluruh, yang telah pun membangunkannya menjadi lengkap sejak awal,” kata Sayyid Ali.
(jqf)