LANGIT7.ID, Mekah - Jika anda pernah berhaji atau umrah lalu mendengarkan khutbah, anda bisa mendengar terjemahannya dalam bahasa Indonesia di frekuensi radio 9050 FM. Kemungkinan suara penerjemah yang anda dengar adalah suara dari Dr Ahmad Musyaddad, penerjemah bahasa Indonesia di Masjidil Haram.
Dr Ahmad Musyaddad adalah 1 dari 5 orang tim penerjemah bahasa Indonesia di dua Kota Suci Makkah dan Madinah. Keahliannya dalam tata Bahasa Arab sekaligus tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, membuatnya terpilih menjadi penerjemah Masjidil Haram dari ratusan kandidat yang ada.
Kepada
LANGIT7.ID , Dr Ahmad Musyaddad menceritakan bahwa ia mengikuti seleksi menjadi Penerjemah Masjidil Haram pada tahun 2014 saat sedang menempuh Studi S3 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.
"Saat itu kandidat yang mengikuti seleksi tidak hanya dari Indonesia tapi juga Malaysia, Brunei hingga para alumni Al Azhar yang ada di luar negeri datang ke LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta," kata Dr Ahmad Musyaddad, Selasa (6/7/2021).
Menurutnya, lolosnya dia sebagai Penerjemah Masjidil Haram adalah anugerah dari Allah. Sebab ia belum mempersiapkan diri sama sekali, bahkan ia terpaksa meminta kepada panitia agar jadwal seleksinya dimajukan sebab ia terjadwal harus khutbah di Bogor.
"Justru ini yang menambah poin plus saya dibandingkan kandidat lain. Penguji menanyakan apakah anda terbiasa berkhutbah? Ini pertanyaan yang biasa bagi kita. Tapi bagi orang Saudi luar biasa, sebab disana khotib benar-benar diseleksi. Lalu saya jawab sudah terbiasa berkhutbah karena kan di sini. Akhirnya kemudian diverifikasi berkas saya," tutur Pria asal Lombok Nusa Tenggara Barat ini.
Namun tak hanya itu, kemampuan berbahasa Arab Ahmad Musyaddad telah ditempa sejak Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Nurul Hakim Lombok Barat. Kendati belum pernah mengenyam pendidikan langsung di Timur Tengah, ia diajar langsung oleh dosen dari Timur Tengah saat berkuliah di LIPIA. Dan sempat juga mengajar menjadi Dosen Bahasa Arab di Ma'had Aly Ar-Royah Sukabumi, yang cukup masyhur di Arab Saudi.
Maka sejak tahun 2015 hingga hari ini, Dr Ahmad Musyaddad bertugas sebagai penerjemah khutbah di Masjidil Haram. Secara administratif, para penerjemah di Haramain tercatat sebagai Dosen di Fakultas Bahasa Dan Terjemahan di Al-Imam Muhammad bin Suud University.
Tak hanya itu, ia juga ditugaskan untuk menerjemahkan segala hal dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia oleh Masjidil Haram. Termasuk mendampingi tamu hingga menerjemahkan pengumuman ke dalam bahasa Indonesia.
"Jadi proses kita menerjemahkan begini, misal khatib kirim hari Rabu, Kamis sudah kita terjemahkan, Jumat pagi kita periksa dengan tim dari Indonesia. Lalu 10 menit sebelum naik mimbar kita sudah pegang naskah yang sudah ditandatangani dan divalidasi tanpa kekeliruan makna dan siap dibacakan," katanya.
Menjadi tantangan tersendiri ketika apa yang disampaikan Khotib tidak seratus persen sesuai dengan naskah yang ada. Dr Ahmad Musyaddad menyebut penerjemah harus menyesuaikan. Dan hal itu sempat jadi kesulitan baginya namun lama kelamaan bisa menyesuaikan diri.
Suka Duka Menjadi PenerjemahBagi Dr Ahmad Musyaddad, menjadi Penerjemah Masjidil Haram lebih banyak rasa senang yang dirasakan.
"Jadi yang paling banyak sukanya. Rasulullah pernah mengatakan, sesungguhnya Mekkah ini tanah yang paling dicintai oleh Allah. Dan Rasul pernah mengatakan sesungguhnya engkaulah tanah yang paling aku cintai, kata Rasulullah sebelum hijrah. Banyak yang bisa kita dapatkan dari Makkah Al Mukaromah," tuturnya.
Selain itu, karena Mekah adalah tanah suci yang dikunjungi banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Ia senang bisa bertemu dan menemani banyak tokoh yang datang ke Mekah.
Sementara rasa dukanya yaitu jauh dari keluarga di Indonesia. Kendari demikian, ia mendapatkan fasilitas untuk bisa pulang tiap tahunnya.
"Tapi dua tahun ini kita tidak pulang, karena pandemi dan kita khawatir. Aturan juga diperketat di Saudi, mereka (Pemerintah Arab Saudi) juga benar-benar menjaga keselamatan tiap orang selama pandemi," kata Dr Ahmad Musyaddad.
Dengan fasilitas tiket pulang tersebut, Dr Ahmad Musyaddad juga bisa menuntaskan kuliah doktoralnya di Universitas Ibnu Khaldun Bogor saat pulang ke Indonesia.
Selain menjadi penerjemah, Dr Ahmad Musyaddad juga aktif mengisi pengajian bagi para pekerja dari Indonesia.
"Saya aktif juga di forum kajian membina masyarakat Indonesia yang ada di kota Mekah, baik mereka yang bekerja di hotel, ada yang bekerja di perusahaan konstruksi Bin Laden, saya mengisi pengajian di situ, dan ada juga komunitas ekspatriat," tutur Ayah dari lima anak ini.
(jqf)