Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 31 Mei 2026
home masjid detail berita
Wafatnya Rasulullah SAW

Pasukan Usama bin Zaid Batal Berangkat ke Syam karena Kondisi Kesehatan Nabi Muhammad Memburuk

miftah yusufpati Ahad, 31 Mei 2026 - 05:55 WIB
Pasukan Usama bin Zaid Batal Berangkat ke Syam karena Kondisi Kesehatan Nabi Muhammad Memburuk
Usama dan para prajuritnya menunda penetrasi militer. Ilustrasi: Gemini AI
LANGIT7.ID-Markas militer di Jurf, yang terletak sekitar tiga mil di utara Madinah, mendadak dipenuhi kecemasan pada hari-hari terakhir bulan Safar tahun 11 Hijriah. Pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Usama bin Zaid baru saja bersiap melakukan mobilisasi menuju perbatasan Syam untuk menghadapi kekuatan Bizantium. Namun, perintah keberangkatan itu mendadak lumpuh setelah kabar mengenai kondisi kesehatan Nabi Muhammad yang terus memburuk tersiar dari mulut ke mulut.

Kondisi medis sang pemimpin yang berada pada fase kritis memicu keputusan taktis dari Usama dan para prajuritnya untuk menunda penetrasi militer. Konsolidasi pasukan di Jurf seketika bubar. Mereka memilih turun dan kembali ke Madinah guna memantau perkembangan situasi di pusat pemerintahan secara langsung. Keputusan ini mencerminkan betapa figur Nabi Muhammad merupakan poros tunggal dari seluruh stabilitas domestik maupun kebijakan politik luar negeri Madinah.

Ketika Usama bin Zaid tiba di rumah Aisyah binti Abu Bakar, ia mendapati Nabi Muhammad sudah berada dalam kondisi fisik yang sangat lemah.

Berdasarkan catatan dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan Ali Audah, pada saat itu Nabi sudah tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata secara lisan. Meski kehilangan kemampuan bicara akibat demam tinggi, dimensi psikologis dan otoritas kepemimpinannya tetap terlihat. Saat melihat kehadiran Usama, Nabi mengangkat tangannya ke atas lalu meletakkannya ke tubuh Usama sebagai isyarat visual untuk mendoakan sang panglima muda.

Penolakan Diagnosis Radang Selaput Dada

Di dalam kamar perawatan yang bersahaja, eskalasi penyakit Nabi memicu kepanikan di kalangan keluarga inti. Suhu tubuh yang melonjak di atas batas normal secara berkala membuat Nabi kehilangan kesadaran diri. Dalam situasi darurat medis tersebut, keluarga dekat berinisiatif mengambil langkah kuratif untuk meredakan penyakit yang diderita sang pemimpin.

Asma, salah seorang kerabat dari istri Nabi, Maimunah, berinisiatif meracik sebuah ramuan obat cair. Formula minuman kesehatan tersebut dipelajari oleh Asma selama ia tinggal dan menjalani masa hijrah di Abisinia (Ethiopia). Pengetahuan medis lintas kawasan ini diterapkan dengan harapan dapat menurunkan demam ekstrem yang sedang mendera tubuh Nabi.

Kesempatan untuk memberikan obat muncul saat Nabi sedang berada dalam kondisi pingsan akibat delirium termal. Pihak keluarga segera menegukkan ramuan obat cair tersebut ke dalam mulut Nabi. Namun, intervensi medis tanpa persetujuan pasien ini segera memicu respons tegas begitu Nabi siuman dan mendapatkan kesadarannya kembali.

"Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?" tanya Nabi dengan nada interogatif kepada orang-orang di sekitarnya.

Paman Nabi, Abbas bin Abdul Mutalib, memberikan argumentasi klinis yang melandasi tindakan keluarga. Mereka mengkhawatirkan bahwa gejala demam tinggi dan penurunan kesadaran yang dialami Nabi merupakan indikasi dari penyakit radang selaput dada atau pleuritis. Pada masa itu, pleuritis dianggap sebagai salah satu penyakit internal yang mematikan di kawasan Jazirah Arab.

Nabi Muhammad secara langsung membantah diagnosis tersebut dengan menyatakan bahwa Allah tidak akan menimpakan penyakit radang selaput dada kepada dirinya. Sebagai bentuk penegasan atas ketidaksetujuannya terhadap tindakan pengobatan yang dilakukan tanpa izin saat ia pingsan, Nabi mengeluarkan instruksi yang tegas. Ia memerintahkan seluruh orang yang hadir di dalam rumah untuk meminum obat cair yang sama, termasuk Maimunah yang saat itu sedang menjalankan ibadah puasa.

Sudut Pandang Akademis

Peristiwa menjelang wafatnya Nabi Muhammad, terutama mengenai penundaan pasukan Usama dan dinamika di kamar perawatan, menjadi objek kajian yang sangat intensif dalam historiografi Islam. Ketegangan di Jurf memperlihatkan adanya tarik-menarik antara kepatuhan pada instruksi militer formal dan kecemasan psikologis terhadap masa depan kepemimpinan Madinah.

Dalam sebuah bedah sejarah kontemporer yang dipublikasikan melalui kanal YouTube resmi Cambridge Islamic College, Dr. Mohammad Akram Nadwi menjelaskan bahwa keputusan pasukan Usama untuk kembali ke Madinah tidak boleh dipandang sebagai bentuk pembangkangan militer.

Menurut Nadwi, keberadaan Nabi di Madinah adalah representasi dari stabilitas negara. Jika pasukan tetap berangkat ke Syam dalam kondisi Madinah mengalami kekosongan kepemimpinan spiritual dan politik, risiko terjadinya disintegrasi politik di kalangan kabilah Arab yang baru bersatu akan jauh lebih besar.

Pandangan lain yang lebih menitikberatkan pada konjungtur politik suksesi diajukan oleh Profesor Wilferd Madelung dalam karyanya yang berjudul The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Madelung menyoroti bahwa komposisi pasukan Usama di Jurf sebenarnya melibatkan tokoh-tokoh senior dari kaum Muhajirin dan Ansar. Kepulangan pasukan ke Madinah secara tidak langsung memindahkan konsentrasi kekuatan elit politik kembali ke sekitar kamar nabi. Hal ini krusial karena menentukan bagaimana mekanisme transisi kekuasaan akan berjalan pasca-wafatnya Rasulullah.

Buku Sejarah Hidup Muhammad karya Haekal juga memberikan penekanan bahwa fase ini merupakan periode paling krusial dalam sejarah domestik Madinah. Melalui narasi yang logis dan runtut, Haekal memperlihatkan bagaimana sebuah kamar perawatan berukuran kecil berubah menjadi pusat penentu kebijakan tertinggi yang memengaruhi arah peradaban dunia di masa depan. Kesaksian-kesaksian yang dihimpun dari Aisyah, Abbas, dan Usama menjadi data primer yang menunjukkan bahwa transisi dari kepemimpinan personal menuju supremasi sistem di Madinah dilewati melalui situasi yang sangat kritis.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 31 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)