LANGIT7.ID - etiap detik perjalanan Rasulullah SAW adalah keteladanan. Setiap sisi kehidupan beliau selalu menjadi inspirasi untuk umat manusia. Hal ini dipertegas oleh Allah dalam Al Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (ketenangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”
Pernah suatu ketika di sudut Madinah seorang pengemis yahudi selalu menghina Baginda Nabi Muhammad SAW. Tiap kali ada orang yang mendekat, ia selalu mengatakan, “wahai saudaraku jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinhya.”
Tiada hari baginya tanpa mencela Rasulullah. Kejadian terus berlangsung di pojok Pasar Madinah. Namun hal berbeda ditunjukkan oleh Baginda Nabi. Ia menunjukkan keteladanan kepada umat manusia. Setiap pagi beliau mendatangi pengemis itu sembari membawa makanan.
Baca Juga: Meski Berperang, Sejatinya Rasulullah Sebarkan Islam ke Penjuru Dunia dengan Perdamaian
Pengemis itu terus mencela, namun baginda nabi tanpa sepatah kata pun menyuapi pengemis itu dengan lembut. Beliau melakukan itu sampai beliau menjelang wafat. Setelah wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan kepada pengemis yahudi tersebut.
Suatu hari, Abu Aba Bakar berkunjung ke rumah Aisyah RA. Beliau bertanya, “Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”
“Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja.” Jawab Aisyah.
“Apakah itu?” tanya Abu Bakar.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis yahudi buta yang berada di sana,” tutur Aisyah.
Pada keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis tersebut. Saat ia menyuapi, si pengemis marah sambil berteriak, “siapa kamu?”
“Aku orang yang biasa.” Jawa Abu Bakar.
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” Tutur pengemis itu.
“Apabila ia datang kepadaku, tangan ini tidak susah memegang dan mulut ini tidak susah untuk mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskan makanan itu dengan mulutnya. Setelah itu ia berikan kepadaku.” lanjutnya.
Baca Juga: Teladan Rasulullah dalam Berbisnis, Pebisnis Handal yang Tidak Berorientasi pada Materi
Seketika Abu Bakar meneteskan air mata. Ia menangis sambil berkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Setelah mendengar itu, pengemis itu menangis sedih. “Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.” Tuturnya. Pengemis itu pun bersyahadat di hadapan Abu Bakar.
(jqf)