LANGIT7.ID - Rasulullah SAW membawa pencerahan kepada segala lini dan sisi kehidupan manusia. Tak terkecuali aspek ekonomi yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup melalui jalur perekonomian, secara langsung maupun tidak langsung.
Rasulullah dikenal sebagai saudagar ulung dengan kejujuran, kemuliaan, dan amanah dalam berniaga sehingga mendapat gelar al-Amin (orang terpercaya). Dengan keagungan dan kemuliaan itu, beliau juga dikenal sebagai seorang marketer yang cerdas dan beretika. Sifat-sifat itu pada saat ini menjadi dasar penting dalam marketing syariah atau
spiritual marketing.“Baginda Nabi SAW jago dalam berbisnis. Dengan modal kejujuran dan keseriusan, sehingga dikagumi oleh pedagang-pedagang di Syam kala itu, termasuk Sitti Khadijah sebelum menjadi istri beliau. Dia kagum dengan cara bisnis Rasulullah,” kata Pengasuh Ponpes Al Bahjah KH Yahya Zainul Ma’arif, melalui kanal youtube Al-Bahjah TV, dikutip Selasa (19/10/2021).
Baca Juga: Meski Berperang, Sejatinya Rasulullah Sebarkan Islam ke Penjuru Dunia dengan Perdamaian
Menurut pria yang akrab disapa Buya Yahya itu, ada beberapa sifat yang membuat beliau berhasil dalam melakukan bisnis. Pertama, jujur (Shiddiq). Dalam berdagang, beliau dikenal sebagai seorang marketer yang jujur dan benar dalam menginformasikan produk. Dia selalu menyampaikan kepada calon pembeli kelemahan atau cacat sebuah produk kepada calon pembeli.
Kedua, dapat dipercaya (amanah). Saat menjadi pedagang, baginda nabi selalu mengembalikan hak milik atasannya, yaitu berupa hasil penjualan maupun sisa barang yang dipasarkan. Nilai amanah bagi pekerja marketing adalah sosok yang jujur dan dapat dipercaya.
Ketiga, argumentatif dan komunikatif (tabligh). Rasulullah adalah contoh marketer yang mampu menyampaikan keunggulan-keunggulan produk dengan menarik dan tepat sasaran tanpa meninggalkan kejujuran dan kebenaran. Beliau mempunya gagasan-gagasan segar dan mampu mengkomunikasikannya secara tepat dan mudah dipahami.
Keempat, cerdas dan bijaksana (fathonah). Baginda nabi adalah pebisnis yang cerdas. Beliau mampu memahami, menghayati dan mengenal tugas dan tanggung jawab bisnis dengan baik.
Baca Juga: Sejarawan Inggris Thomas Carlyle Akui Rasulullah sebagai Pahlawan Terhebat Sepanjang Sejarah
Rasulullah Mendorong Para Sahabat untuk BerbisnisBuya Yahya menceritakan, Rasulullah tidak pernah memaksa para sahabat untuk menjadi Abdullah ibnu Umar, yakni menjadi seorang ulama. Beliau tetap membiarkan sebagian sahabat untuk merawat kurma, berbisnis, sehingga muncul pebisnis handal seperti Abdurrahman bin Auf.
“Rasulullah tidak memaksa umatnya duduk berlama-lama di masjid, tapi juga memerintahkan untuk melestarikan alam semesta. Melestarikan semesta pada hari ini, zaman ini adalah menguatkan ekonomi. Tapi ekonomi yang seperti apa? Yakni ekonomi yang punya tujuan bagaimana memperbaiki hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia,” kata Buya Yahya.
Rasulullah selalu menekankan, kekayaan hanya wadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Kekayaan bukan alat untuk menyombongkan diri. Ada orang kaya secara materi, namun dalam hatinya tersimpan kefakiran hakiki. Namun ada orang miskin secara materi, namun hatinya menyimpan kekayaan hakiki.
“Jangan sampai kita diberi oleh Allah kekayaan, tapi tidak baik kepada Allah dan tidak baik kepada sesama manusia. Hari terus berganti. Nasib juga menanti. Maka jangan hanya sukses di dunia, tapi juga sukses di akhirat. Jangan sampai kekayaan membuat terlena, sehingga tak punya apapun untuk dipetik di akhirat kelak,” ucap Buya Yahya.
(jqf)