LANGIT7.ID-Surabaya; Banyaknya kebutuhan pemerintah dan industri dalam menangani masalah finansial menuntut adanya pengembangan metode prediksi yang terbaik. Menanggapi tantangan tersebut, Guru Besar ke-253 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr rer pol Dedy Dwi Prastyo SSi MSi menggagas inovasi kecerdasan pengambilan keputusan terintegrasi untuk stabilitas keuangan, ketahanan ekonomi, dan kebijakan publik berbasis bukti.
Kepala Departemen Statistika ITS tersebut menjelaskan bahwa metode prediksi yang terbaik sangat penting digunakan untuk menganalisis permasalahan yang terjadi di era sekarang. Metode tersebut harus memenuhi kualitas akurasi yang tinggi, sehingga ketidakpastian atau error dapat diminimalisasi pada model yang dibuat. “Bukan hanya dapat memprediksi, melainkan juga mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin akan terjadi,” tambah Dedy dalam keterangannya, dikutip Selasa (4/8/2026).
Berangkat dari tantangan tersebut, konsep Integrated Decision Intelligence dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan dalam satu kerangka model yang komprehensif. Konsep ini mengombinasikan metode statistika finansial, machine learning, dan analisis risiko untuk menghasilkan kesimpulan yang mampu memberikan dasar penyusunan kebijakan. Kesimpulan yang dihasilkan dapat menjadi suatu pendekatan yang lebih adaptif dalam berbagai kondisi.
Secara teknis, penelitian ini diawali dengan membangun model prediksi menggunakan data historis melalui kombinasi metode deret waktu dan machine learning untuk mendapatkan hasil prediksi. Hasil yang diperoleh akan dilakukan stress testing untuk mengukur berbagai risiko pada model yang dibentuk. Setelah itu, hasil dari langkah sebelumnya dibentuk menjadi sistem pendukung keputusan yang mampu memprediksi kondisi ekonomi maupun keuangan pada waktu tertentu.
Lebih lanjut, penelitian ini juga dapat dimanfaatkan menjadi Crisis Management Protocol (CMP) bagi pihak institusi. Artinya, jika ada sebuah krisis masalah yang akan terjadi, maka pihak institusi dapat mengetahui Early Warning System (EWS) atau sinyal peringatan dini terjadinya krisis masalah secara lebih awal. “Contohnya Covid-19, pihak institusi dapat mengatasi risiko melalui EWS pada krisis covid dengan berbagai skenario yang dibuat dalam model,” papar lelaki asal Pacitan tersebut.
Selain itu, penelitian ini pun mampu menghasilkan dampak nyata melalui peningkatan kualitas di berbagai sektor strategis. Misalnya, potensi krisis pada sektor ekonomi dapat dideteksi sejak fase pra-krisis sehingga kebijakan mitigasi dapat disusun lebih awal. Di sisi lain, efisiensi operasional dan pengurangan risiko bisnis di dunia industri juga semakin meningkat berdasarkan keputusan konkret berbasis data riil dari manajemen perusahaan.
Melalui inovasi ini, penelitian yang dilakukan harus tetap konsisten untuk memperbaiki penyelesaian risiko dalam pengambilan kebijakan. Pengembangan yang berlanjut juga menginisiasi EWS menjadi semakin sensitif, sehingga rentang waktu antisipasi semakin panjang. “Harapannya, penelitian ini berkembang lebih pesat agar metode yang dirancang semakin canggih dan mudah digunakan,” terang alumnus doktoral Humboldt-Universitat ze Berlin (HUB), Jerman tersebut.
Tekad Dedy ini sejalan dengan asa ITS dalam mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Perwujudan SDGs pada penelitian yang dilakukannya merujuk pada poin ke-4 mengenai Pendidikan Berkualitas dan poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Bukan hanya itu, tekad tersebut membantu penguatan institusi dan industri, sehingga poin ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dapat terealisasikan.
(lam)