LANGIT7.ID-, Jakarta - - Kecaman demi kecaman bermunculan terhadap insiden tukar minuman keras (miras) dengan hafalan
Al-Quran. Newport, selaku brand miras yang terlibat harusnya mengambil pelajaran dari kasus yang menjerat Holywings pada tahun 2022 lalu.
Seharusnya Newport bisa lebih bijak lagi dalam hal strategi pemasaran termasuk di dalamnya promosi produk.
Anggota Komisi VIII DPR RI Iqbal Romzi agkat bicara terkait kasus tersebut. Ia pun mengecam keras dugaan penggunaan ayat Alquran dalam materi promosi minuman beralkohol merek Newport yang beredar di media sosial.
Dia menilai tindakan mengeksploitasi ayat suci untuk kepentingan pemasaran minuman keras merupakan hal yang tidak pantas, dan berpotensi memicu gejolak serta melukai sensitivitas keagamaan masyarakat Indonesia.
Dunia usaha di Indonesia, imbuh dia, sudah sepatutnya mengambil pelajaran berharga dari kasus promosi minuman beralkohol yang pernah menjerat Holywings pada tahun 2022 lalu.
Baca juga: MC Minta Maaf dan Beberkan Kronologi Tukar Miras dengan Hafalan Surah Al-QuranSaat itu, strategi pemasaran yang memanfaatkan nama "Muhammad" dan "Maria" memicu gelombang protes besar di tengah publik hingga berujung pada proses hukum dan penetapan enam karyawan sebagai tersangka.
"Kita tentu tidak ingin kasus Holywings terulang kembali. Sudah seharusnya pelaku usaha belajar bahwa ada batas-batas sensitivitas agama yang harus dihormati dalam komunikasi pemasaran," ujar Iqbal dikutip dari laman resmi DPR RI, Kamis (13/8/2026).
Legislator dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menegaskan bahwa kreativitas dalam strategi pemasaran tidak boleh menabrak norma sosial dan norma agama.
Menurutnya, pelaku usaha wajib memiliki tanggung jawab moral serta kepekaan sosial terhadap nilai-nilai keagamaan yang hidup dan dihormati di tengah masyarakat.
"Saya mengecam keras promosi semacam ini. Ayat Alquran adalah bagian dari ajaran dan keyakinan umat Islam, bukan alat untuk menarik konsumen dalam promosi minuman keras," tegas politisi dari Daerah Pemilihan Sumatra Selatan I itu.
Guna mencegah munculnya polemik yang lebih luas di tengah masyarakat, Iqbal mendesak manajemen Newport untuk segera memberikan klarifikasi secara terbuka.
Baca juga: Newport Bantah Challenge Surah Ad-Dhuha Ditukar Miras sebagai Program PromosiJika materi promosi tersebut terbukti benar berasal dari pihak perusahaan, ia meminta Newport bertanggung jawab penuh dan segera melayangkan permohonan maaf kepada publik, khususnya umat Islam.
Iqbal mengibaratkan isu sensitivitas keagamaan seperti kondisi yang rentan terbakar jika tidak disikapi secara bijak.
"Jangan bermain api di musim kemarau. Kalau terjadi kebakaran meluas, sangat sulit untuk dipadamkan. Karena itu, saya mengingatkan dunia usaha agar tidak menggunakan simbol-simbol agama secara serampangan demi kepentingan promosi," tegasnya.
(lsi)