LANGIT7.ID, Jakarta - Kerap kata jahiliyah diartikan sebagai kebodohan, kuno, kehidupan yang amat sederhana, tidak bisa membaca, dan tidak mempunyai pengetahuan teknologi. Padahal sejatinya tidak sebatas demikian, terlebih di era modern teknologi menjadi hal yang lazim. Jahiliyah modern menjadi istilah baru untuk menggambarkan masyarakat yang tak lagi merasa malu melakukan kemungkaran, kezaliman, kebatilan, dan kemaksiatan.
Dalam Islam, jahiliyah adalah tidak mengenal tauhid, tidak menggunakan hati dan pikiran. Orang jahiliyah sadar jika melakukan perkara yang salah, namun mereka tetap pada kesombongan dan keangkuhan. Ibarat masyarakat jahiliyah era Rasulullah, mereka cerdas namun memilih untuk musyrik.
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menjelaskan tiga ciri jahiliyah modern. Pertama, jahiliyah tidak sama dengan bodoh. masyarakat jahiliyah bukan masyarakat bodoh sesuai pengertian ilmu pengetahuan.
“Sebagian besar masyarakat Arab pada masa itu pandai bersastra bahkan menulis karya-karya yang bernilai puisi tinggi,” ucap Mu’ti, dikutip laman Muhammadiyah. Senin (25/10/2021).
Baca Juga: Prof Abdul Muti: Digitalisasi Membawa Dampak Positif jika Dihadapi dengan Bijak
Jahiliyah merupakan sifat yang merujuk pada kebodohan manusia dalam memaknai Tuhan dan kemanusiaan.
Kedua, jahiliyah adalah membanggakan diri secara berlebihan. Ada beberapa macam penjelasan terkait jahiliyah dalam Al-Qur’an. Misalnya istilah jahiliyah dalam surah Al-Ahzab ayat ke-33.
“Membanggkan dirinya dengan mengaitkan silsilah nenek moyangnya sehingga muncul tribalisme dan ashobiyah yang berlebihan dan membuat orang itu menjadi tidak menghormati orang yang lain karena silsilah keluarga bukan karena amal perbuatannya,” ucap Mu’ti.
Ketiga, jahiliyah adalah gemar kekuatan fisik. Ini terdapat dalam surah Al-Maidah ayat ke-50. Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”
Ayat tersebut menjelaskan salah satu cara masyarakat jahiliyah dalam menyelesaikan sengketa. Orang jahiliyah menentukan hukum berdasarkan strata. Golongan lemah tidak bisa mendapatkan keadilan. Sementara kelompok kuat bisa mempermainkan hukum.
“Hukum jahiliyah itu adalah orang menjadi kuat lebih-lebih karena kemampuan fisiknya, kemampuan bertempur dan menyelesaikan masalah dengan kekuatan fisiknya, bukan karena cara-cara yang sebaik-baiknya yang memang kemudian diubah dalam ajaran agama Islam,” ucap Mu’ti.
Mu’ti menjelaskan, Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk memanusiakan manusia. Kehadiran Islam berhasil mengubah pemahaman masyarakat Arab yang bersifat jahiliyah menjadi pemahaman yang beradab karena memanusiakan manusia.
Di sisi lain, masyarakat kota Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah juga telah menjadi masyarakat ilmiah (knowledge society). Masyarakat ilmiah yang diletakkan dasar-dasarnya oleh Nabi Muhammad. Masyarakat yang senantiasa mengambil sikap berdasarkan ilmu pengetahuan.
“Sehingga pembeda antara orang berilmu dan orang jahiliyah itu ada pada kemampuannya menggunakan akal dan kemampuannya dalam bertindak secara bijaksana,” kata Mu’ti.
Islam menggeser bahkan dalam beberapa hal menggusur tradisi-tradisi jahiliyah menjadi tradisi ilmiah dan membangun peradaban baru. Dengan cara itu, Islam menjadikan manusia mulia.
“(Dengan Islam) manusia itu menjadi mulia bukan karena keturunan siapa, tapi karena dia adalah orang yang beriman dan berilmu,” ucap dia.
(jqf)