Langit7, Jakarta - PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menyambut baik cita-cita Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi syariah global.
Direktur Utama BSI, Hery Gunardi menyebutkan, pihaknya siap menjadi menjadi pemain kunci dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Apalagi dengan potensi ekonomi syariah dalam negeri yang sangat besar.
Ia meyakini, BSI sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air, yang merupakan hasil merger tiga bank syariah BUMN, memiliki kapabilitas mumpuni untuk menggarap potensi itu.
“Kami bukan hanya ingin andal dalam perbankan syariah saja, tapi juga menjadi pelaku utama dalam mendorong dan menumbuhkan ekonomi syariah Indonesia," katanya dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (26/10).
Baca juga: Sukses Jadi Sociopreuneur, Hasilkan Tepung Mocaf Berdaya Saing GlobalSehingga, lanjut dia, potensi ekonomi syariah bisa dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat secara merata. Sekaligus mewujudkan Indonesia menjadi tokoh utama dalam ekonomi syariah dunia.
Ia menyebutkan, setidaknya terdapat beberapa poin yang menjadikan prospek bisnis ekonomi syariah memiliki masa depan yang cerah.
Pertama, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia. Di mana mencapai 229 juta jiwa atau sekitar 87,2 persen dari total populasi.
Kedua, preferensi masyarakat yang kuat terhadap perbankan syariah. Ketiga, potensi industri halal di Indonesia yang nilainya kurang lebih Rp4.375 triliun.
"Prospek keempat adalah pertumbuhan industri perbankan syariah yang sangat baik kendati laju ekonomi masih terganggu pandemi Covid-19," jelasnya.
Baca juga: Modal Rebahan, Muslim Ini Sukses Jualan Hewan EksotisSeperti diketahui, pada Juli 2021 aset perbankan syariah di Tanah Air tumbuh sekitar 16,35 persen dari Juni 2021, pembiayaan tumbuh 6,82 persen dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 17,98 persen.
Sementara itu, untuk kinerja BSI pada semester I-2021 tak kalah gemilang, dengan mencatatkan pertumbuhan
double digit. BSI mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,48 triliun, atau naik sekitar 34,29 persen secara tahunan (yoy).
Kenaikan laba dipicu oleh pertumbuhan pembiayaan dan DPK yang berkualitas. Dengan kinerja yang positif itu, BSI berhasil mencatatkan total aset sebesar Rp247,3 triliun hingga Juni 2021, pertumbuhan aset tersebut naik sekitar 15,16 persen (yoy).
Untuk pembiayaan, BSI menyalurkan Rp161,5 triliun atau tumbuh sekitar 11,73 persen (yoy). Dengan angka tersebut, BSI berhasil menguasai pangsa pasar industri perbankan syariah di Indonesia saat ini.
“Ini tanda yang positif, artinya masyarakat sudah melirik perbankan syariah karena cukup kompetitif. Diharapkan perbankan syariah dapat mengambil peran dan kontribusi yang strategis agar potensi besar ini memberikan manfaat lebih bagi masyarakat,” tambahnya.
(zul)