LANGIT7.ID-, Jakarta - - Sebaran abu vulkanik akibat
erupsi Gunung Anak Krakatau, telah terdeteksi di sejumlah wilayah. Anak-anak menjadi yang paling rentan terkena dampak dari
abu vulkanik.
Perlu dipahami bahwa abu vulkanik berbeda dari debu biasa, dimana abu vulkanik mengandung silika kristalin, dan dapat mengganggu kesehatan anak.
Menurut Dr.dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diantara gangguan kesehatan terhadap anak yang dimaksud, yaitu:
- Anak dengan asma bisa kambuh dan memberat gejalaya.
- Anak bisa mengalami gangguan psikologis, seperti stres, cemas ataupun gejala PTSD subklinis. PTSD sendiri merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis.
- Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis (PUSVC), bentuk penyakit berat dari radang paru akibat menghirup abu vulkanik secara kronis.
Baca juga: Amankah Menjemur Pakaian Saat Abu Vulkanik Bertebaran? Ini SolusinyaDengan demikian, IDAI menyarankan lima hal penting yang bisa dilakukan orangtua untuk melindungi anak, di tengah sebaran abu vulkanik yang kian meluas.
1. Tetap dalam rumah
- Tutup rapat jendela dan pintu. Lakban celah bila perlu.
- Tunda bermain di luar rumah. Pindahkan kegiatan dalam rumah: gambar, buku, permainan.
- Pel lantai basah. Jangan disapu kering, karena akan menyebabkan abu akan terbang lagi.
- Tutup tandon dan wadah air. Cuci sayur dan buah lebih teliti.
2. Gunakan masker tepat sesuai usia anak
- Anak lebih besar: Gunakan masker N95, KN95 atau masker yang menutup rapat saat keluar rumah.
- Bayi dan balita kecil: Jangan dipakaikan N95, sebab risiko sesal tinggi. Perlindungan terbaik tetap di dalam ruangan tertutup.
- Anak dengan asma. Obat pelega napas harus selalu siap di tangan. Ikuti rencana dari dokternya.
- Tidak ada N95? Masker bedah berlapis atau kain lembab tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.
Baca juga: Update Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Makin Menyebar ke Arah Barat3 Lindungi mata dan kulit
- Mata perih? bilas dengan air bersih mengalir, jangan dikucek
- Lepas lensa kontak pada remaja yang pakai lensa kotak
- Kacamata renang atau goggle jika terpaksa keluar rumah
- Gunakan baju dan celana yang menutupi tubuh jika terpaksa keluar rumah
- Mandi dan ganti baju setiap Kembali dari luar rumah
4. Komunikasi dengan anak, bukan menakuti
- Usia 3-5 tahun:
Orangtua yang memiliki anak di fase usia ini harus menjelaskan menggunakan bahasa yang sederhan. Pemilihan kata pun harus disesuaikan dengan usia.
Contohnya: "Gunungnya sedang batuk. Kita main di dalam supaya aman."
- Usia 6 sampai 10 tahun:
Jelaskan apa itu abu dan mengapa kita menutup jendela
- Remaja:
Libatkan dalam menyiapkan tas siaga keluarga.
- Validasi rasa takut:
Tidak menyalahkan anak kita mengungkapkan perasaan takut ajan situasi dan kondisi saat ini. Misalnya, anak diajak bicara "Wajar merasa takut, kita sudah bersiap," tambah dr. Yogi.
- Batasi video seram di media sosial.
- Cek kebenaran kavar seblun diteruskan.
5. Kenali tanda bahaya, segera ke Puskesmas atau rumah sakit apabila anak:
- Sesak atau napas cepat
- Bibir atau ujung jari kebiruan
- Batuk tidak berhenti, terutama pada anak asam
- Mata merah dan nyeri tidak membaik setelah dibilas
- Bayi malas menyusu atau lemas
Dalam kesempatan tersebut, IDAI juga mengimbau agar orangtua harus bersiap dan anak harus tetap merasa aman.
(lsi)