LANGIT7.ID-Jakarta; Indeks dolar AS menguat pada perdagangan Senin (21/9/2026) di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan konflik Iran-AS, ketegangan di Timur Tengah, serta arah kebijakan bank sentral global.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar masih mencermati peluang diplomasi terkait konflik Iran-AS seiring pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berlangsung pekan ini.
"Ditengah harapan bahwa upaya diplomasi terkait konflik Iran akan mendapat peluang minggu ini bertepatan dengan pertemuan PBB," ujar dia, Senin (21/9/2026)
Meski terdapat harapan terhadap jalur diplomasi, Iran dan Amerika Serikat (AS) justru kembali saling melontarkan ancaman pada Minggu di tengah kebuntuan situasi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan berada di New York pekan ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB.
Iran juga telah menyampaikan sejumlah syarat kepada pihak penengah untuk kembali ke meja perundingan yang bertujuan mengakhiri konflik dengan AS. Hal tersebut disampaikan Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei dalam sebuah wawancara pada Sabtu sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Jadi SorotanKetegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar setelah kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi "sensitif" di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu menggunakan rudal dan pesawat nirawak atau drone.
Kelompok tersebut juga menyatakan menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, kota yang berada di tepi Laut Merah dan merupakan salah satu pusat utama ekspor minyak.
Serangan Houthi terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco kemudian mendorong perusahaan energi negara tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada bulan ini dan bulan depan. Sebelumnya, sebagian pengiriman melalui Yanbu dihentikan.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang diperhatikan pasar karena berkaitan dengan kondisi geopolitik dan aktivitas perdagangan energi global.
Di sisi lain, agenda ekonomi Amerika Serikat pada pekan ini relatif tidak terlalu padat. Namun, sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) dijadwalkan menyampaikan pernyataan yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober.
Pasar Pantau Kebijakan Bursa Komoditas IndonesiaDari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kebijakan teknis pemerintah dalam membentuk bursa komoditas sebagai salah satu upaya mengendalikan harga.
Pengaturan selanjutnya akan dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang disebut akan menentukan produk apa saja yang diperdagangkan serta tahapan perdagangannya melalui aturan tersendiri.
Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan OJK antara lain kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar.
Melalui kebijakan tersebut, OJK juga akan mengambil alih pengaturan bursa komoditas dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mulai 1 Januari tahun depan.
Rupiah Dibayangi Keputusan Bank IndonesiaPasar juga akan mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang semakin terfragmentasi.
Sebagian bank sentral mengambil sikap hawkish, sementara sebagian lainnya masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan.
Namun, dengan melihat situasi inflasi global yang masih tinggi, terdapat kemungkinan Gubernur Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam rapat yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.
Ibrahim mengatakan perkembangan kebijakan moneter tersebut menjadi salah satu perhatian pasar dalam melihat arah rupiah.
"Pasar akan mencermati keputusan Bank Indonesia di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi," ujar dia
Defisit RAPBN 2027 2,40 Persen, Bukan Satu-Satunya UkuranSelain kebijakan moneter, pasar kembali memperhatikan angka defisit anggaran Indonesia. Defisit di bawah batas tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB) acap kali dijadikan tolok ukur utama kesehatan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).
Meski berfungsi sebagai pagar disiplin fiskal, angka tersebut dinilai belum otomatis menjamin ketahanan ekonomi nasional apabila tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.
Dalam rancangan postur RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran diproyeksikan sebesar 2,40 persen terhadap PDB.
Defisit yang berada di bawah tiga persen kerap diperlakukan sebagai indikator kesehatan fiskal. Namun, kualitas postur anggaran tidak hanya ditentukan oleh besaran defisit.
"Defisit di bawah tiga persen sering diperlakukan seperti stempel kesehatan fiskal. Angkanya memang penting karena memberi pagar bagi disiplin anggaran. Tetapi pagar bukan rumah," ujar dia.
Kesehatan postur anggaran negara juga dipengaruhi sejumlah variabel yang lebih mendalam, mulai dari kualitas belanja, beban pembayaran bunga utang, tingkat kekakuan pengeluaran atau expenditure rigidity, kemampuan menyerap guncangan ekonomi, hingga potensi risiko laten yang belum terlihat dalam neraca keuangan saat ini.
Rupiah Melemah 89 PoinPada perdagangan pasar akhir pekan, rupiah ditutup melemah 89 poin setelah sebelumnya sempat melemah 95 poin ke level Rp17.847 per dolar AS.
Posisi tersebut dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.758 per dolar AS.
Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Ibrahim menilai perkembangan eksternal dan internal tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati pergerakan mata uang rupiah.
"Kesehatan postur anggaran negara ditentukan oleh variabel yang jauh lebih mendalam ketimbang sekadar nominal defisit. Faktor-faktor kritikal tersebut meliputi kualitas belanja, beban pembayaran bunga utang, tingkat kekakuan pengeluaran (expenditure rigidity), daya serap terhadap guncangan ekonomi, hingga potensi risiko laten yang belum mencuat di neraca keuangan saat ini," ujar dia.
(lam)