LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah ditutup menguat 13 poin pada perdagangan akhir pekan, Jumat (25/9/2026), ke level Rp17.903 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat melemah 30 poin di level Rp17.903 dari penutupan sebelumnya Rp17.916.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah masih dibayangi berbagai sentimen global dan domestik, mulai dari perkembangan konflik Iran, harga minyak, kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga kondisi ekonomi global.
"Ekonomi global dalam tekanan akibat lonjakan harga minyak," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, lembaga keuangan global International Monetary Fund (IMF) mengingatkan bahwa kondisi ekonomi global berpotensi semakin tertekan. Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari.
Kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga untuk mengendalikan kenaikan harga. Namun, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Peningkatan beban bunga utang berpotensi mempersempit ruang fiskal negara untuk memberikan stimulus atau meredam dampak ekonomi apabila harga energi kembali melonjak.
Konflik Iran hingga Harga Minyak Bayangi RupiahIbrahim memaparkan, para negosiator AS dan Iran di New York tengah menjajaki jalan keluar bertahap dari konflik. Pembahasan tersebut mencakup langkah Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan langkah Washington untuk mencabut blokade ekonomi terhadap Iran.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian pasar karena berkaitan dengan kondisi geopolitik dan pasokan energi global.
Dalam perkembangan lainnya, Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Serangan tersebut menyasar Provinsi Taif di wilayah selatan dan kawasan Yanbu di tepi Laut Merah.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan keputusan mengenai kapan konflik dengan Iran berakhir sepenuhnya bergantung pada AS.
"Amerika-lah yang harus memilih apakah mereka ingin mengakhirinya atau tidak," ujar Pezeshkian dalam wawancara yang disiarkan Fox News pada Kamis.
Indeks Dolar AS MenguatDi sisi lain, indeks dolar AS menguat pada Jumat (25/9/2026). Penguatan dolar AS berlangsung di tengah sejumlah sentimen ekonomi dan kebijakan yang menjadi perhatian pasar.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan senjata perdagangan hingga 10 Januari 2027.
Presiden AS Donald Trump juga menjamu pemimpin China Xi Jinping dalam jamuan makan malam kenegaraan. Kunjungan tersebut menjadi kunjungan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade. Kedua pemimpin menjadikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu topik utama pembahasan.
Selain itu, sejumlah pejabat Federal Reserve membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.
Presiden The Fed wilayah New York John Williams menyatakan, "Kita perlu mengembalikan inflasi ke tingkat target dalam waktu yang tepat,".
Williams juga menyebut bahwa "wajar jika kita melihat adanya kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun."
Sementara itu, Presiden The Fed wilayah Cleveland Beth Hammack memperingatkan bahwa "semakin lama inflasi tetap tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target."
Ibrahim juga menyoroti data ekonomi AS yang menunjukkan penguatan. PMI Komposit S&P Global AS secara tak terduga naik ke level tertinggi dalam lima tahun, yakni 58,4 pada September.
Data klaim awal tunjangan pengangguran AS juga turun menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September. Angka tersebut berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 201.000.
Pemerintah dan BI Siapkan Strategi Jaga RupiahDi dalam negeri, tekanan ekonomi global akibat lonjakan harga minyak turut menjadi perhatian. Untuk meredam kondisi tersebut, Kementerian Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia melakukan kolaborasi fiskal dan moneter untuk meredam pelemahan rupiah.
Pertama, optimalisasi pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara padu guna menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Kedua, penguatan sektor eksternal dilakukan untuk menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal pada sektor perdagangan dan aliran modal asing atau capital inflows.
Ketiga, pengelolaan likuiditas perekonomian dilakukan dengan memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil, termasuk merespons dinamika perebutan dana yang memicu kenaikan beban biaya dana atau cost of fund.
Keempat, pengendalian inflasi dilakukan dengan memperkuat koordinasi penanganan inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).
Kelima, pendalaman pasar keuangan dilakukan dengan mempercepat pendalaman pasar uang guna memperlancar transmisi kebijakan sekaligus memperluas basis pembiayaan pertumbuhan ekonomi.
Proyeksi Rupiah Senin dan Pekan DepanUntuk perdagangan Senin depan, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp17.900-Rp17.950 per dolar AS.
Sementara itu, untuk perdagangan pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS.
"Pada perdagangan pasar akhir pekan, mata uang rupiah ditutup menguat 13 point sebelumnya sempat melemah 30 point dilevel Rp.17.903 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.916," ujar Ibrahim.
Dengan demikian, pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan mencermati perkembangan konflik Iran, harga minyak, kebijakan suku bunga AS, data ekonomi Amerika Serikat, serta kondisi ekonomi global.
(lam)