Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 25 September 2026
home masjid detail berita

Tafsir Surat Al-Baqarah 51: Janji Musa dan Penyembahan Anak Sapi

ahmad zuhdi Jum'at, 25 September 2026 - 06:35 WIB
Tafsir Surat Al-Baqarah 51: Janji Musa dan Penyembahan Anak Sapi
LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ke-51 dari Surat Al-Baqarah menjadi mata rantai penting dalam rekam jejak perjalanan Bani Israil. Setelah sebelumnya menceritakan momen penyelamatan dari kejaran Fir'aun, ayat ini menyoroti titik balik yang menyentak: ketika Allah ﷻ menjanjikan kitab Taurat kepada Nabi Musa ﷺ selama empat puluh malam, Bani Israil justru berpaling dan menyembah patung anak sapi.

وَإِذْ وَٰعَدْنَا مُوسَىٰٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةًۭ ثُمَّ ٱتَّخَذْتُمُ ٱلْعِجْلَ مِنۢ بَعْدِهِۦ وَأَنتُمْ ظَٰلِمُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 51).

Ayat ini secara tajam memperlihatkan kontras antara keagungan janji Allah ﷻ dan kebejatan sikap Bani Israil. Menurut Al-Biqāʿī, penggunaan kata waʿadnā di sini mengandung makna muwāʿadah, yaitu sebuah komitmen saling berjanji untuk bertemu dan bermunajat. Peristiwa historis ini membeberkan tabiat ingkar nikmat pada diri Bani Israil sekaligus memberi iktibar bagi umat Islam tentang bahaya sifat tergesa-gesa dalam menanti ketetapan Allah ﷻ.

Awal ayat ini memuat diskusi kebahasaan yang mendalam mengenai frasa wa iż wāʿadnā serta asal-usul nama Musa. Al-Ṭabarī mencatat adanya ragam bacaan (qirā'āt) terkait kata tersebut. Sebagian ulama membaca wāʿadnā yang bermakna interaksi dua arah (muwāʿadah), di mana Allah ﷻ memberi janji untuk bertemu di bukit Thur dan Nabi Musa ﷺ menyambut janji tersebut.

Sementara itu, sebagian lainnya membaca waʿadnā untuk menegaskan bahwa Allah-lah satu-satunya pihak yang menetapkan janji dan ancaman. Al-Baghawī memperkuat bacaan wāʿadnā melalui kaidah mufāʿalah, dengan mengutip al-Zajjāj bahwa perintah datang dari Allah ﷻ dan penerimaan datang dari Nabi Musa ﷺ.

Mengenai nama Mūsā, al-Baghawī merunut bahwa nama ini diserap dari bahasa Ibrani, di mana mō berarti air dan syā berarti pohon. Penamaan ini merujuk pada momen saat beliau ditemukan di antara aliran air dan pepohonan di tepi Sungai Nil, yang dalam pelafalan bahasa Arab huruf syīn diubah menjadi sīn.

Selanjutnya, penyebutan durasi "empat puluh malam" menyimpan hikmah tersendiri. Al-Baghawī menjelaskan bahwa jangka waktu tersebut genap mencakup tiga puluh hari bulan Dzulqa'dah ditambah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Penggunaan unit malam—bukan siang—disebabkan oleh sistem penanggalan Arab yang bertumpu pada peredaran bulan di mana hilal mulai terlihat di malam hari, serta fakta sejarah bahwa kegelapan diciptakan sebelum adanya cahaya. Korelasi ini ditegaskan pula oleh Ibnu Katsīr dengan mengaitkannya pada Surat Al-A'rāf ayat 142.

Peristiwa ini terjadi tepat setelah mereka diselamatkan dari kejaran tentara Fir'aun di laut. Di samping itu, Al-Biqāʿī menambahkan bahwa penekanan pada waktu malam menjadi isyarat bahwa kenikmatan munajat mencapai puncaknya di saat hening, serta menunjukkan bahwa proses ibadah tersebut berlangsung intensif tanpa terputus.

Tragedi penyembahan anak sapi terjadi justru di tengah masa penantian tersebut. Al-Baghawī mengisahkan bahwa sekembalinya dari pembebasan Mesir, Bani Israil belum memiliki pijakan hukum dan pegangan syariat. Nabi Musa ﷺ kemudian berpamitan untuk menemui Allah ﷻ guna menerima kitab pedoman hidup dan mengangkat pemimpin pengganti sementara.

Namun, seperti yang dipaparkan oleh al-Saʿdī, ketidaksabaran membuat mereka runtuh sebelum genapnya masa perjanjian empat puluh malam. Sepeninggal Nabi Musa ﷺ, mereka dengan cepat berpaling dan menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan.

Ayat ini ditutup dengan penegasan wa antum ẓālimūn (dan kamu adalah orang-orang yang zalim). Al-Saʿdī menekankan bahwa predikat zalim ini disematkan karena tindakan menyimpang tersebut dilakukan atas dasar kesadaran dan setelah datangnya kebenaran yang nyata. Tingkat kejahatan dan dosa menjadi jauh lebih berat ketika suatu penyimpangan dilakukan secara sengaja oleh orang-orang yang sebenarnya telah mengetahui kebenaran janji-janji Allah ﷻ.

Dari keseluruhan uraian ini, terpancar serangkaian pelajaran berharga. Pertama, kesalahan atau kezaliman yang dilakukan secara sadar dan berilmu memiliki bobot dosa yang jauh lebih besar. Kedua, ketidaksabaran dalam menanti janji Allah ﷻ dapat menjadi celah kehancuran iman.

Ketiga, malam hari memiliki keutamaan khusus sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri dan bermunajat kepada Allah ﷻ. Keempat, variasi qirā'āt dalam Al-Qur'an memperkaya khazanah pemaknaan tanpa saling meniadakan. Secara umum, ayat ini menjadi peringatan abadi bahwa kedekatan fisik dengan nikmat Allah ﷻ tidak menjamin keselamatan seseorang jika tidak diiringi dengan kesabaran, ketakwaan, dan keteguhan memegang janji.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 25 September 2026
Imsak
04:16
Shubuh
04:26
Dhuhur
11:48
Ashar
14:57
Maghrib
17:51
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan