Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 06 Oktober 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah Ayat 58: Syarat Ampunan dan Karunia Allah

ahmad zuhdi Selasa, 06 Oktober 2026 - 19:57 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 58: Syarat Ampunan dan Karunia Allah
LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat Al-Baqarah ayat 58 merupakan bagian dari rangkaian panjang penyebutan nikmat Allah ﷻ kepada Bani Israil yang dimulai sejak ayat ke-40. Setelah menyebutkan nikmat naungan awan, turunnya mann dan salwā, serta peringatan atas kezaliman mereka, ayat ini melanjutkan kisah perintah Allah kepada Bani Israil untuk memasuki sebuah negeri tertentu dengan sikap yang penuh adab.

Kedudukan ayat ini sangat penting karena memuat pelajaran mengenai adab memasuki kawasan yang dimuliakan, keterkaitan antara sikap fisik dan ucapan batin, serta janji ampunan dan tambahan karunia bagi orang-orang yang berbuat baik. Dalam konteks historis setelah peristiwa keluar dari Mesir bersama Nabi Musa, Ibn Katsīr menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan erat dengan celaan atas keengganan mereka berjihad untuk memasuki tanah suci.

Perintah memasuki negeri yang tertuang dalam penggalan wa idz qulnādkhulū hādzihil-qaryah memicu diskusi hangat di kalangan mufassir mengenai identitas kota yang dimaksud. Al-Ṭabarī meriwayatkan pendapat dari Qatādah, al-Suddī, dan al-Rabīʿ bahwa negeri tersebut adalah Baitul Maqdis, meskipun beliau juga menyertakan riwayat dari Ibn Zayd yang menyebut Ariḥā (Yerikho) di dekat Baitul Maqdis.

Al-Baghawī memperluas riwayat ini dengan mengutip pandangan Ibn ʿAbbās yang menyebut Ariḥā sebagai negeri para raksasa, Mujāhid yang menunjuk Baitul Maqdis, al-Ḍaḥḥāk yang mengaitkannya dengan wilayah al-Ramlah, Yordania, Palestina, dan Tadmur, Muqātil yang menyebut Īliyā, serta Ibn Kaysān yang menyebut wilayah Syam secara umum. Di antara beragam pandangan tersebut, Ibn Katsīr menegaskan bahwa pendapat yang paling sahih adalah Baitul Maqdis, sementara pendapat yang menunjuk Ariḥā dinilai baʿīd (jauh) karena kota itu tidak berada di jalur perjalanan utama mereka.

Setelah perintah masuk, Allah melanjutkannya dengan klausa fa kulū minhā ḥaitsu syi'tum raghadā yang mengizinkan mereka menikmati hasil bumi negeri tersebut secara lapang. Al-Ṭabarī menafsirkannya sebagai kenikmatan hidup yang nyaman dan luas, sedangkan al-Baghawī memaknai kata raghadā sebagai bentuk kelapangan rezeki yang dianugerahkan.

Menariknya, Fakhr al-Dīn al-Rāzī menyoroti keindahan balāghah dari penggunaan huruf ʿaṭaf fā' yang menghubungkan kata kullū dengan udkhulū. Penggunaan huruf fā' menunjukkan bahwa kesempatan untuk menikmati rezeki tersebut bergantung sepenuhnya pada kepatuhan mereka untuk memasuki negeri itu terlebih dahulu, sehingga tercipta hubungan sebab-akibat yang logis antara tindakan memasuki pintu gerbang dan kenikmatan yang diperoleh.

Syarat utama dalam memasuki negeri tersebut ditegaskan melalui penggalan wadkhulūl-bāba sujjadā, yang memerintahkan mereka melewatinya dalam keadaan sujud. Al-Baghawī menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah memasuki salah satu dari tujuh pintu gerbang kota dalam keadaan rukuk, tunduk, dan membungkuk, bahkan Wahb menyebutnya sebagai bentuk sujud syukur kepada Allah ﷻ atas kemudahan yang diberikan. Al-Saʿdī mempertegas bahwa perintah ini mewajibkan Bani Israil untuk menunjukkan ketundukan secara lahiriah melalui perbuatan fisik yang rendah diri dan jauh dari kesombongan saat melangkah masuk.

Selain ketundukan fisik, mereka juga diperintahkan menunjukkan ketundukan lisan melalui ucapan wa qūlū ḥiṭṭah. Al-Baghawī meriwayatkan penafsiran Qatādah bahwa kata tersebut bermakna permohonan agar Allah menggugurkan dosa-dosa mereka melalui istighfar, sementara Ibn ʿAbbās memaknainya sebagai kalimat tauhid lā ilāha illallāh yang memiliki daya untuk menggugurkan dosa. Al-Saʿdī menambahkan bahwa pengucapan kata ḥiṭṭah menjadi simbol permohonan ampunan secara tulus, sehingga ketaatan mereka sempurna secara perbuatan maupun ucapan.

Rangkaian perintah tersebut ditutup dengan janji manis Allah dalam penggalan nagfir lakum khaṭāyākum wa sanazīdul-muḥsinīn. Menurut penjelasan al-Baghawī, kata maghfirah berakar dari kata al-ghafr yang berarti menutup, sehingga ampunan Allah tidak hanya menghapus dosa tetapi juga menutup aib-aib hamba-Nya. Al-Saʿdī menerangkan bahwa ampunan tersebut diberikan secara langsung sebagai respons atas permohonan ampun mereka, sementara tambahan karunia (sanazīd) disiapkan khusus bagi orang-orang yang berbuat baik (al-muḥsinīn) dalam bentuk balasan yang disegerakan di dunia maupun yang ditangguhkan di akhirat kelak.

Secara keseluruhan, ayat ini memuat ajaran berharga mengenai adab memasuki tempat yang dimuliakan dengan menggabungkan rasa khusyuk dan permohonan ampun. Keterpaduan antara sikap tunduk secara fisik melalui sujud dan ketundukan lisan melalui ucapan istighfar menjadi syarat utama terbukanya ampunan ilahi. Lebih dari sekadar menghapus kesalahan, ampunan Allah yang bermakna penutupan aib senantiasa berbanding lurus dengan kesungguhan hamba dalam beristighfar, yang kemudian disempurnakan dengan janji kelimpahan karunia bagi mereka yang konsisten berbuat kebaikan.

Meskipun terdapat ikhtilaf mengenai lokasi geografis negeri yang dimaksud, inti pesan dari al-Biqāʿī tetap menancap kuat bahwa kisah-kisah dalam al-Qur'an diturunkan bukan sekadar riwayat masa lalu, melainkan sebagai ikhtibar dan cermin kehidupan bagi umat-umat setelahnya.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 06 Oktober 2026
Imsak
04:10
Shubuh
04:20
Dhuhur
11:44
Ashar
14:46
Maghrib
17:50
Isya
18:58
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan