Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 08 Oktober 2026
home masjid detail berita

Tafsir Al-Baqarah Ayat 60: Keseimbangan Antara Nikmat dan Adab

ahmad zuhdi Kamis, 08 Oktober 2026 - 16:57 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 60: Keseimbangan Antara Nikmat dan Adab
LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ke-60 dari Suraht Al-Baqarah merupakan salah satu penegasan penting dalam Al-Qur'an mengenai besarnya nikmat dan mukjizat yang dianugerahkan kepada Bani Israil di masa lalu. Berada di dalam rangkaian kisah yang menceritakan perjalanan mereka pasca penyelamatan dari kejaran Fir'aun dan sebelum peristiwa sapi betina, ayat ini menyoroti momen krusial saat mereka berada di padang tandus Sinai.

۞ وَإِذِ ٱسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ فَقُلْنَا ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنفَجَرَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًۭا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍۢ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ مِن رِّزْقِ ٱللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (QS. Al-Baqarah (البقرة) : 60).

Ketika itu, keberadaan air menjadi kebutuhan vital bagi kelangsungan hidup rombongan yang sangat besar. Melalui doa Nabi Musa dan kekuasaan-Nya, Allah ﷻ memberikan petunjuk agar batu dipukul dengan tongkat hingga memancarkan air. Peristiwa ini tidak sekadar menunjukkan keagungan mukjizat kenabian, tetapi juga menjadi peringatan agar manusia senantiasa bersyukur serta tidak melakukan perusakan di muka bumi.

Pada penggalan awal yang berbunyi wa idzistasqā mūsā liqaumihi, Imam al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menjelaskan bahwa makna ayat tersebut adalah momen ketika Nabi Musa memohon kepada Allah ﷻ agar melimpahkan air minum bagi kaumnya. Secara struktur kebahasaan, objek yang dimintai bantuan (al-mas'ūl) memang dibuang dari teks kalimat, namun pemaknaannya sudah sangat jelas ditunjukkan oleh konteks lahiriah pembicaraan.

Begitu pula saat perintah idḥrib bi'aṣākal-ḥajar diberikan, terdapat bagian peristiwa yang sengaja dipadatkan dalam penyampaian. Rangkaian kalimat tersebut mengandung makna implisit bahwa setelah perintah turun, Nabi Musa langsung memukulkan tongkatnya ke batu tersebut hingga air memancar deras.

Mengenai wujud batu yang menjadi perantara mukjizat ini, Imam al-Baghawī dalam Maʿālim al-Tanzīl menghimpun berbagai riwayat penafsiran dari kalangan sahabat. Menurut riwayat Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas, batu yang dipukul tersebut berbentuk kubus dan memiliki empat sudut. Riwayat lain menyebutkan bahwa batu tersebut merupakan bagian dari batu-batu di padang Tih, yaitu batu khusus berukuran sebesar kepala kambing yang selalu menyertai dan dibawa dalam perjalanan mereka. Dari pukulan tongkat Nabi Musa, batu tersebut seketika memancarkan dua belas mata air yang mengalir jernih.

Pemancaran dua belas mata air ini berkaitan erat dengan pembagian struktur sosial Bani Israil yang terdiri dari dua belas suku atau asbāṭ. Penggalan qad 'alima kullu unāsim masyrabahum menegaskan bahwa setiap suku telah mengetahui dan memiliki lokasi mata airnya masing-masing secara tertib. Sistem ini dihadirkan agar setiap kelompok dapat memenuhi kebutuhan air mereka tanpa perlu berebut atau berselisih dengan suku lainnya. Ketertiban dalam pembagian rezeki ini menunjukkan betapa Allah ﷻ tidak hanya menyediakan sarana kehidupan, tetapi juga mengatur tata kelola masyarakat agar tercipta keharmonisan.

Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan arahan kulū wasy rabū mir-rizqillāh, yang menurut penafsiran al-Baghawī bermakna perintah untuk menikmati karunia Allah, baik berupa makanan al-Manna dan al-Salwā maupun air jernih yang dipancarkan dari batu tersebut. Karunia ini diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk kasih sayang dan pemeliharaan ilahi di tengah kondisi lingkungan yang terisolasi dan serba terbatas.

Sebagai penutup dari rangkaian nikmat tersebut, Allah ﷻ memberikan peringatan tegas melalui kalimat wa lā ta'tsau fil-arḍi mufsidīn. Para mufasir menegaskan bahwa ungkapan ini berarti larangan keras untuk berbuat kerusakan, melampaui batas, atau menyebarkan kemaksiatan di muka bumi. Keberadaan rezeki yang melimpah dan kemudahan hidup seharusnya mendorong manusia untuk semakin taat dan bertakwa, bukan malah menjadikannya ingkar, congkak, atau merusak tatanan kehidupan.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 08 Oktober 2026
Imsak
04:09
Shubuh
04:19
Dhuhur
11:44
Ashar
14:45
Maghrib
17:49
Isya
18:58
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan