LANGIT7.ID, Jakarta,- - Konser penyanyi tenor asal Italia,
Andrea Bocelli tengah menjadi perhatian publik usai
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak pemerintah untuk
membatalkan gelaran tersebut.
MUI mengungkapkan alasan di balik tuntutan tersebut yakni karena keterlibatan
Bocelli dalam acara penggalangan dana untuk organisasi pendukung militer
Israel dan sejumlah kunjungannya di negara tersebut.
Baca juga: Rekam Jejak Andrea Bocelli di Israel: Dari Tel Aviv hingga Galang Dana IDF"Kali ini kembali saya ingin menegaskan bahwa rencana konser
Andrea Bocelli harus
dibatalkan demi menjaga prinsip keberpihakan kita pada kemanusiaan," ujar Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negei, Prof Sudarnoto Abdul Hakim.
Konser bertajuk
"Romanza 30th Anniversary World Tour" rencananya akan digelar di kawasan Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026 dan Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada 3 November 2026.
Sebelumnya, pemerintah melalui
Kementerian Pariwisata menyebut penyelenggaraan konser Bocelli memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata. Hal tersebut diungkap Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam keterangan resmi pada 19 Agustus 2026.
"Penyelenggaraan
event berskala internasional memiliki nilai strategis bagi sektor pariwisata. Selain memperkuat citra dan
brand destinasi, event juga menjadi
demand generator yang menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi di daerah penyelenggaraan," kata Widiyanti saat konferensi pers di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Rangkaian konser
Andrea Bocelli diperkirakan menarik sekitar 7.000 penonton di Borobudur dan 9.000 penonton di Jakarta.
Kemenpar menargetkan rangkaian konser
Andrea Bocelli di Candi Borobudur, Magelang, dan Jakarta menghasilkan dampak ekonomi sebesar 44 juta dolar AS atau sekitar Rp792 miliar.
Baca juga: Aktif Dukung IDF, MUI Desak Pemerintah Batalkan Rencana Konser Andrea BocelliMenurut Widiyanti, dampak ekonomi penyelenggaraan event dapat muncul dari berbagai aktivitas, mulai dari pembelian tiket, penggunaan akomodasi dan transportasi, konsumsi kuliner, hingga produksi pertunjukan yang melibatkan vendor, pelaku industri, usaha mikro, kecil, dan menengah, pekerja seni, serta komunitas.
Selain itu,
Kemenpar juga menyiapkan sejumlah dukungan untuk penyelenggaraan konser tersebut, termasuk memfasilitasi pengurusan visa bagi para seniman melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait serta kemudahan perizinan masuk untuk kebutuhan logistik pertunjukan.
Widiyanti mengatakan kehadiran Bocelli menjadi momentum untuk mempertemukan pertunjukan musik internasional dengan kekayaan destinasi, budaya, dan warisan Indonesia.
"Indonesia memiliki kekayaan pengalaman yang sangat beragam. Kita memiliki heritage destination yang kuat, sekaligus kota-kota modern yang mampu menjadi tuan rumah bagi berbagai world-class events," katanya.
Indonesia disebut menjadi satu-satunya negara di Asia yang terpilih sebagai bagian dari rangkaian perayaan 30 tahun album
Romanza milik Andrea Bocelli.
Baca juga: Kemenpar Bidik Kolaborasi dengan BTS Demi Promosikan Wisata IndonesiaSementara itu, Kementerian Pariwisata mencatat sebanyak 105 acara yang mendapat dukungan kementerian telah terlaksana hingga Juli 2026. Dari sejumlah acara yang telah dievaluasi dampaknya, tercatat lebih dari 6,47 juta pengunjung hadir.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sekitar 11.000 UMKM serta 184.000 pekerja seni dan komunitas, dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp1 triliun.
Pada 2026, Kemenpar menargetkan dukungan terhadap 206 acara di berbagai wilayah Indonesia melalui program Event by Indonesia. Program ini mencakup penyelenggaraan acara di tingkat daerah, nasional, dan internasional, serta kegiatan meetings, incentives, conventions, and exhibitions (MICE).
(est)