LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian panjang dialog antara Nabi Musa dan kaumnya mengenai perintah menyembelih seekor sapi betina sebagaimana terekam dalam Surah al-Baqarah. Setelah sebelumnya menanyakan sifat dasar sapi tersebut, Bani Israil kembali mengajukan pertanyaan mengenai warnanya.
قَالُوا۟ ٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُۥ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌۭ صَفْرَآءُ فَاقِعٌۭ لَّوْنُهَا تَسُرُّ ٱلنَّٰظِرِينَ
Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya". (QS Al-Baqarah : 69).
Al-Tabari menegaskan bahwa pertanyaan ini merupakan bentuk pembangkangan (ta'annut) dan pemaksaan diri (takalluf) untuk kedua kalinya dari Bani Israil, padahal mereka sebenarnya telah dicukupkan pada petunjuk sebelumnya.
Sikap memaksakan diri tersebut memperlihatkan pola interaksi Bani Israil dengan Nabi Musa yang penuh perdebatan, yang pada akhirnya direspons oleh Allah melalui penetapan hukum yang semakin memberatkan akibat ulah mereka sendiri.
Dalam penggalan ayat tersebut, kaum Nabi Musa meminta agar beliau memohon kepada Tuhan untuk menerangkan secara spesifik warna sapi yang harus disembelih. Penjelasan Al-Tabari menunjukkan bahwa permintaan perincian warna ini berawal dari ketidakpuasan mereka terhadap jawaban yang sudah diberikan sebelumnya.
Pertanyaan tersebut murni lahir dari sikap memperrumit keadaan dan bukan didasari oleh kebutuhan yang mendesak, sebab perincian semacam itu sebenarnya tidak lagi diperlukan jika mereka patuh sejak awal.
Pelajaran penting dari penafsiran ayat ini menegaskan bahwa sikap terlalu banyak mempertanyakan hal yang sudah jelas dapat membawa kesulitan bagi diri sendiri. Para mufasir sepakat bahwa penetapan kriteria warna kuning yang sangat cerah (faq'un launuha) merupakan konsekuensi langsung dari keraguan dan kerumitan yang diciptakan oleh Bani Israil sendiri.
Kisah ini menjadi peringatan agar umat senantiasa melatih ketaatan yang tulus tanpa mencari-cari alasan yang justru memberatkan pelaksanaan perintah agama.
(zhd)