Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 26 Oktober 2026
home masjid detail berita

Menyingkap Makna Ayat 75 Surah Al-Baqarah: Sejarah Pengubahan Wahyu

ahmad zuhdi Senin, 26 Oktober 2026 - 12:10 WIB
Menyingkap Makna Ayat 75 Surah Al-Baqarah: Sejarah Pengubahan Wahyu
LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ke-75 dari Surat Al-Baqarah berada di tengah rangkaian pembicaraan panjang mengenai Bani Israil, khususnya setelah Allah ﷻ memaparkan berbagai pelanggaran serta penyimpangan yang mereka lakukan. Ayat ini ditujukan secara langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ beserta para sahabatnya guna mempertanyakan sekaligus meluruskan harapan mereka terhadap keimanan golongan Ahli Kitab.

۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا۟ لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌۭ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُۥ مِنۢ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS Al-Baqarah (البقرة): 75).

Imam al-Ṭabarī menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan teguran dari Allah ﷻ kepada kaum mukminin agar tidak menaruh harap bahwa orang-orang Yahudi Bani Israil akan dengan mudah beriman kepada risalah Islam. Penegasan senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Abī Ḥātim dari Ibnu Abbas RA, di mana ayat ini berfungsi untuk memutus ekspektasi kaum beriman terhadap keimanan kelompok tersebut karena realitas historis yang tidak mendukung.

Mengenai penggalan pertama ayat ini, Imam al-Ṭabarī menguraikan makna ajakan beriman sebagai bentuk pengakuan dan pembenaran terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ dari sisi Allah.

Ibnu Katsir menambahkan bahwa keimanan yang dimaksud bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan ketundukan dalam ketaatan yang nyata dari golongan yang nenek moyang mereka dahulu telah menyaksikan berbagai mukjizat agung tetapi memilih untuk mengeraskan hati. Syaikh al-Saʿdī turut menegaskan bahwa kaum mukminin tidak perlu lagi menaruh harap pada keimanan mereka karena tabiat serta kondisi masa lalu kelompok tersebut memang menutup ruang bagi datangnya hidayah iman.

Alasan mendasar mengapa harapan itu menjadi sesuatu yang mustahil diulas dalam penggalan berikutnya mengenai kisah segolongan dari mereka yang mendengar langsung firman Allah ﷻ. Imam al-Ṭabarī dan Ibnu Katsir sepakat bahwa peristiwa tersebut merujuk pada para pendahulu Bani Israil di masa Nabi Musa as yang menerima Taurat secara langsung.

Namun, alih-alih menjaga kemurnian wahyu, mereka justru melakukan tindakan tahrīf atau pengubahan isi kitab. Syaikh al-Saʿdī memberikan analisis tajam bahwa mereka sengaja mengubah makna ayat-ayat Allah demi mengecoh manusia dan mempertahankan kepentingan golongan mereka. Tindakan pengubahan tersebut bukanlah sebuah kekhilafan atau ketidaktahuan, melainkan perbuatan sadar yang dilakukan setelah mereka benar-benar memahami ilmu dan isi wahyu tersebut secara mendalam.

Dalam diskursus tafsir, para ulama juga membahas kelompok yang dimaksud sebagai pelaku tahrīf tersebut, di mana pendapat mayoritas mufassir menyatakan bahwa hal itu merujuk kepada para pendahulu Bani Israil di masa lalu, sementara sebagian ulama lain menilai hal itu mencakup tabiat generasi kontemporer Yahudi di masa Nabi ﷺ yang meneruskan tradisi manipulasi ajaran agama.

Kedua pandangan ini saling melengkapi karena menunjukkan adanya kesinambungan watak pembangkangan lintas generasi. Apabila kelompok tersebut berani mengubah isi kitab suci mereka sendiri yang diyakini sebagai sumber kemuliaan agama mereka, maka sangat mustahil mengharapkan mereka akan beriman secara jujur kepada risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Pelajaran mendasar dari ayat ini melahirkan sejumlah hikmah yang sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Pertama, harapan seorang mukmin harus selalu disandarkan pada realitas yang objektif dan kebenaran wahyu, bukan sekadar angan-angan kosong terhadap pihak yang jelas memusuhi kebenaran. Kedua, perbuatan mengubah ayat-ayat Allah merupakan dosa besar yang dilakukan secara sadar demi motif keduniawian dan kekuasaan.

Ketiga, ilmu agama yang luas tanpa diiringi keikhlasan serta ketundukan hati tidak akan mendatangkan keselamatan, melainkan justru menjadi bumerang penyesatan. Keempat, umat Islam diajarkan untuk tetap istiqamah dalam berdakwah tanpa harus menggantungkan harapan kepada manusia yang menutup diri dari hidayah, karena sejarah masa lalu telah membuktikan bahwa mukjizat terbesar sekalipun tidak akan mampu melunakkan hati yang telah membatu akibat kesombongan.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 26 Oktober 2026
Imsak
04:01
Shubuh
04:11
Dhuhur
11:40
Ashar
14:52
Maghrib
17:49
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan