Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 25 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Alasan Ki Hajar Dewantara Usulkan Pesantren Jadi Sistem Pendidikan Nasional

Muhajirin Jum'at, 05 November 2021 - 12:25 WIB
Alasan Ki Hajar Dewantara Usulkan Pesantren Jadi Sistem Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara (Dok LP3M Yogyakarta)
LANGIT7.ID - Pada November 1928, Ki Hajar Dewantara sudah menulis satu artikel dengan judul "Sistem Pondok dan Asrama itulah Sistem Nasional" di Majalah Wasita. Menurutnya, konsep pesantren perlu dijadikan sistem pendidikan nasional.

Ki Hajar Dewantara menyebut hakikat pesantren adalah terjadinya proses interaksi intensif antara kiai dan santri, sehingga terjadi proses pengajaran dan pendidikan.

“Mulai zaman dahulu hingga sekarang kita mempunyai rumah pengajaran yang juga menjadi rumah pendidikan, yaitu kalau sekarang disebut pondok pesantren. Kalau zaman dulu dinamakan priwatan atau asrama. Sifat pesantren atau pondok dan asrama yaitu rumah kiai guru (Ki Hajar), yang dipakai buat pondokan santri-santri (cantrik-cantrik) dan buat rumah pengajaran juga. Di situ karena guru dan murid tiap hari, siang malam berkumpul jadi satu, maka pengajaran dengan sendiri selalu berhubungan dengan pendidikan,” demikian kutipan Ki Hajar Dewantara.

Pada 1922, Ki Hajar juga pernah menyampaikan kritik konsep pendidikan kolonial dalam bentuk sekolah. Konsep pendidikan Belanda itu hanya menghasilkan lulusan bermental buruh. Dari situ, Ki Hajar mendirikan Taman Siswa sebagai tandingan untuk sekolah ala Belanda.

Baca Juga: Ki Hajar Dewantara Ternyata Pernah Jadi Santri Hingga Hafal 30 Juz Al-Quran

“Pendidikan yang selama ini diterima orang Indonesia dari Barat jauh dari kebal terhadap pengaruh-pengaruh politik kolonial. Singkatnya, pendidikan yang ada hanya untuk kepentingan pemerintah kolonial dan bersifat tetap semenjak zaman VOC meskipun di bawah politik etika.

Tapi anehnya, banyak priyayi atau bangsawan yang senang dan menerima model pendidikan seperti ini dan mengirim anak-anak mereka ke sekolah yang hanya mengembangkan intelektual dan fisik. Semua itu semata-semata hanya memberikan surat ijazah yang menunjukkan mereka menjadi buruh.” Demikian kutipan kritikan Ki Hajar Dewantara.

Mengutip Makalah berjudul Manajemen dan Kepemimpinan Pondok Pesantren, Ki Hajar Dewantara juga pernah mengusulkan pendidikan pesantren menjadi sistem pendidikan nasional. Dia beralasan, pesantren sudah melekat dalam hati masyarakat Indonesia. Sistem pendidikan pesantren merupakan kreasi atau budaya asli (indigenous Culture) bangsa Indonesia yang tidak ada di belahan dunia lain.

Alasan lain Ki Hajar tidak lepas dari pentingnya terus hidup dalam kesenian, peradaban, dan keagamaan. Semua itu merupakan kekayaan nasional yang tersimpan dalam kekayaan batin bangsa Indonesia. Dengan mengetahui, langkah menuju zaman baru akan berhasil.

Maka dari itu, Ki Hajar Dewantara ingin anak-anak Indonesia didekatkan dengan kehidupan rakyat, supaya tidak mengetahui pengetahuan saja tentang rakyat, namun dapat mengalami sendiri dan tidak terpisah dari rakyat.

Sistem paling tepat untuk mencapai cita-cita adalah sistem pondok. Sistem itu berdasarkan hidup kekeluargaan untuk menyatukan pengajaran pengetahuan dengan pengajaran budi pekerti.

Saat Ki Hajar Dewantara menyajikan pandangan mengenai pondok pesantren sebagai role model pendidikan nasional, ia didebat Dr. Soetomo dan Sutan Syahrir Alisyahbana tentang sistem pendidikan Nasional kelak. Perdebatan itu dikemas dalam istilah polemik kebudayaan.

Menurut Dr. Soetomo, pendidikan pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan bersifat lahiriah saja, namun juga pengetahuan batiniah kepada para santri. Dalam sistem pesantren, pengajaran kepada santri bisa mendapatkan pengetahuan di luar jam pembelajaran. Para santri bisa belajar adat istiadat, sopan santun, dan patrap yang diajarkan oleh para kiai yang tinggal di lingkungan sama dengan santri setiap hari.

Pembelaan Dr. Soetomo terhadap kelebihan sistem pondok pesantren itu mendapatkan kritikan dari Sutan Syahrir dengan artikel berjudul “Didikan Barat dan Didikan Pesantren: Menuju ke Masyarakat yang Dinamis”.

Dalam artikel itu Sutan Syahrir mengungkapkan kritikan bernada sarkas, bahwa kembali ke pesantren berarti kembali kepada “anti-intelektualisme, anti-individualisme, anti egoisme, dan anti-materialistik.”

Meski pada akhirnya usulan Ki Hajar Dewantara tentang sistem pendidikan pesantren sebagai role model pendidikan nasional tidak terwujud, namun usulan itu merupakan pengakuan tulus yang bersumber dari ketajaman beliau memotret sistem pendidikan pondok pesantren.

Kini, sistem pendidikan pondok pesantren kian diminati masyarakat. Pada 2021, terdapat 31 ribu lebih pesantren di Indonesia. Itu menandakan, pesantren bisa bersaing dengan lembaga pendidikan lain dalam hal mendidik generasi emas masa depan.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 25 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)