LANGIT7.ID - Pakar pendidikan Islam Ustadz Budi Ashari menjelaskan tata cara mendidik anak agar menjadi cerdas seutuhnya sesuai tuntutan Al-Qur'an. Dimana sekadar cerdas dengan indikator IQ tinggi tidak menjamin keberhasilan di dunia apalagi di akhirat.
Banyak orang yang memiliki IQ tinggi tapi tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun kecerdasan memang satu anugerah yang luar biasa. Menurut Ustadz Budi Ashari, syariat Islam memiliki cara tersendiri untuk menganalisa kecerdasan. Kecerdasan pada masa kejayaan peradaban islam telah terbukti membawa kebaikan di muka bumi. Berbeda pada saat ini, kecerdasan justru melukai bumi.
“Ternyata kunci kehebatan orang Islam adalah sistem pendidikannya dari kecil. Ternyata saat kekhalifahan Turki Utsmani, muslimin memiliki sistem pendidikan dasar namanya kutab,” kata Ustadz Budi Ashari melalui kanal youtube aqdshol madinah, dikutip Jumat (12/11/2021).
Hal paling dasar yang diajarkan dalam Kutab adalah Al-Qur’an. Anak-anak diajari mulai dari membaca, menghafal, dan paham isi Al-Qur’an. Setelah itu, mereka diajari bahasa Arab dan grammar bahasa Arab. Salah satu yang dihafal adalah kitab Alfiyah ibnu Malik yang berisi 1000 bait
grammar bahasa Arab.
“Nampaknya itulah kunci kekuatan muslimin karena disana (dalam Al Quran dan Bahasa Arab) terkandung banyak keistimewaan,” ucapnya.
Ustadz Budi Ashari menjelaskan, terdapat dua korelasi antara kata-kata dan tingkat kecerdasan. Umat Islam memiliki kekuatan di Al Quran dan bahasa Arab. Al-Quran punya lebih dari 77.000 atau hampir 77.500 kata. Sehingga membaca Al-Qur'an atau menghafalkannya akan semakin meningkatkan kecerdasan seseorang.
"Setelah melakukan penelitian, kemudian Belanda dan Perancis memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa menjajah negara Islam. Mereka pun menemukan bahwa terdapat 2 hal yg harus dihilangkan. Apa itu? Al Quran dan Bahasa Arab,” jelas Ustadz Budi Ashari.
Untuk menghilangkan dua hal itu, Inggris dan Perancis punya strategi yang berbeda. Strategi Inggris adalah dengan membuat jenjang pendidikan serta membuat citra pada setiap jenjang tersebut. Inggris membagi pendidikan dalam 3 jenjang.
Pertama, Kelas bawah seperti kutab dan pesantren. Sekolah Kutab dicitrakan sebagai sekolah untuk masyarakat kalangan bawah atau orang orang miskin. Citra seperti ini marak di Indonesia. Pesantren dianggap tempat anak-anak nakal atau tempat anak-anak yang tidak lulus di sekolah negeri.
Kedua, Kelas menengah yakni sekolah-sekolah negeri. Dibuatlah sekolah-sekolah atau pendidikan oleh Negara. Ini untuk rakyat dengan tingkat ekonomi menengah. Di sini masih diajarkan pendidikan tentang Al-Qur’an, tapi sudah mulai sedikit.
“Sekarang pun masih ada citra bahwa sekolah jadi salah satu yang dilihat untuk menentukan tingkat perekonomian seseorang kan?” ucapnya.
Ketiga, Kelas atas (
international school). Level atas adalah international school. Modern. Disini tidak ada lagi pelajaran Al-Quran dan bahasa Arab
“Lain dengan strategi yg dipilih Inggris, Perancis memilih cara yang ekstrim. Mereka langsung menghilangkan semua yang berkaitan dengan Al-Quran dan bahasa Arab,” kata Ustadz Budi Ashari.
Ustadz Budi Ashari lalu menegaskan, cara mendidik anak cerdas adalah mengajari mereka syariat Islam. Misalnya, saat anak berusia 7 tahun maka disuruh shalat di masjid. Masjid adalah tempat-tempat orang cerdas, seperti masjid pada zaman Rasulullah.
“Dari situ kekuasaan akan diambil kembali oleh orang-orang muslim. Bacalah sejarah masjid. Masjid adalah tempat mendidik anak agar cerdas,” pungkasnya.
(jqf)