LANGIT7.ID, Jakarta - Psikolog Ustadz Adriano Rusfi (Bang Aad) memandang
orang tua memiliki peran penting sebagai arsitek peradaban. Dia merujuk pada Surah Ali-Imran ayat 110. Salah satu intisari ayat itu adalah tentang kaderisasi terbaik bertempat di rumah dan dimulai sejak anak masih berusia dini.
Anak-anak disiapkan dari rumah untuk menjadi manusia-manusia terbaik. Hal ini menunjukkan pentingnya ayah dan ibu menjadi arsitek peradaban terbaik daripada apa yang disiapkan di luar rumah.
Berikut beberapa peran orangtua dalam membangun peradaban dari rumah:
Baca Juga: Psikolog: Suami Berperan Penting Obati Luka Pengasuhan Istri1. Umat Terbaik Dibentuk, Tidak Diperoleh Begitu SajaSurah Ali-Imran ayat 110 menyebutkan, umat terbaik peradaban tidak diperoleh begitu saja, tapi harus dibentuk. Arsitektur peradaban dalam keluarga tidak lagi membicarakan mimpiku, keinginanku, dan
passion-ku tapi sudah menjadi kita yakni mimpi kita, keinginan kita,
passion kita.
“Rumah tangga akan gagal sebagai arsitek peradaban jika gagal meyakinkan pada anak-anaknya tentang mimpi keluarga. Di sisi lain, generasi sekarang mudah sekali untuk menolak apa yang disampaikan orang tua,” kata Bang Aad, dikutip laman
Mommischology, Sabtu (11/2/2023).
2. Orangtua Perlu Merumuskan Visi dan Misi (Jati Diri)Untuk menjadi arsitek peradaban, orang tua perlu merumuskan visi dan misi (jati diri) pendidikan serta strategi, peran, nilai, dan budaya keluarga di rumah. Itu karena mendidik bukan rutinitas begitu saja.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih Sekolah, Perhatikan 5 Hal iniMembangun jati diri merukan langkah pertama yang harus ditempuh. Dalam sejarah, banyak dinasti yang lahir dari keluarga. Seperti keluarga Imran,keluarga Ibrahim, dan keluarga Rasulullah SAW.
“Dengan visi misi, keluarga memiliki garis besar pendidikan keluarga yang menjadi kompas, sehingga keluarga memiliki
the family dream (mimpi keluarga),
the family value (nilai-nilai keluarga, dan
the family culture (budaya keluarga),” ucap Bang Aad.
Adanya visi dan misi tersebut berdampak pada kolaborasi antara suami-istri. Suami sebagai pendesain dan istri sebagai
supplier atau bahan yang dibutuhkan untuk mewujudkan desain tersebut.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih Sekolah, Perhatikan 5 Hal ini“Sehingga, ada istilah ibu sebagai guru dan ayah sebagai kepala sekolah,” ujar Bang Aad.
3. Mendidik Anak Bergairah Terhadap IslamOrang tua harus mendidik anak agar bergairah terhadap Islam, membanggakan Islam, dan mempesonakan anak dengan agama. Ini yang dimaksud dengan mendidik anak dengan desain arsitektur peradaban.
Ada banyak hal bisa dilakukan. Misalnya, orang tua membangun individualitas yang kuat dan membangun ego yang kokoh. Maksudnya, membangun anak dengan kekuatan individu akan membentuk individu yang percaya diri dan tidak mudah terpengaruh, tetapi bisa memengaruhi. Individu yang kokoh akan berani melawan keburukan meskipun sendiri.
Baca Juga: Yuk Ayah Bunda, Sembuhkan Luka Pengasuhan Sambil Mengasuh AnakOrang tua juga perlu mengajarkan imunisasi, bukan sterilisasi. Anak bukan diamankan dari lingkungan sekitar, tapi dididik untuk kebal dari pengaruh lingkungan. Itu karena pendidikan yang baik adalah berdasarkan realitas alami dan dilandaskan pada Islam.
“Di atas realitas alami, kita didik generasi Islami agar anak menjadi kebal,” ujar Bang Aad.
4. Melahirkan Anak Progresif dan Berpikiran MajuOrang tua harus mendidik untuk melahirkan anak-anak yang progresif dan berpikiran maju, bukan konservatif, penuh ketakutan, dan penuh dengan pantangan serta larangan. Penting bagi ayah dan ibu mendidik anak berlandaskan Islam dengan cara mengerem dan mengurangi gas.
Baca Juga: Sampai Usia Berapa Anak Boleh Mandi Bareng Orang Tua?“Penting bagi ayah dan ibu untuk mendidik anak untuk menjadi anak yang saleh. Saleh berkaitan dengan amal baik, karena Islam mengenal istilah amal saleh,” ucap Bang Aad.
Shalih berarti progresif, aktif, dan ngegas. Namun, sebelum menabrak, orang tua perlu mengajarkan anak untuk menginjak rem dengan ahlak. saleh itu dicirikan dengan progresif, aktif, produktif, kreatif, dan kontributif untuk membangun peradaban.
(jqf)