Sebagai orang tua, kita cenderung memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan fisik anak kita. Seperti saat mereka mengalami demam, sedikit rewel, tidak mau makan atau saat suara mereka hilang atau serak.
Sejak lahir, orang tua dikondisikan untuk memperhatikan pencapaian fisik anak-anak. Dari mulai mereka mengangkat kepala hingga langkah kaki pertama. Tapi saat menyangkut kesehatan emosional anak, tak sedikit orang tua yang merasa kebingungan.
Bagaimana kita benar-benar tahu jika anak-anak sehat secara emosional? Dan lebih penting lagi, bagaimana tahu apa yang sudah orang tua lakukan cukup, untuk membantu anak-anak menjadi sehat secara emosional?
Baca juga: Kisah: Ayah dan Anak yang Rajin Bangun Shalat MalamNamun, yang pasti kesehatan emosional jelas penting — terutama untuk anak laki-laki.
Kesehatan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menyadari, memahami, dan mengelola emosinya, termasuk pasang surut, dan segala sesuatu di antaranya.
“Anak-anak yang sehat secara emosional memiliki keterampilan fungsi eksekutif yang lebih baik, yang memungkinkan mereka untuk menanggapi situasi dengan pengendalian diri, pemikiran kritis, dan banyak lagi,” jelas Nicholas Hardy, pekerja sosial klinis berlisensi dan psikoterapis, seperti dilansir dari Healthline, Selasa (16/11/2021).
Tentu saja, anak-anak tidak dilahirkan dengan kemampuan ini secara inheren. Itu adalah sesuatu yang berkembang saat otak mereka tumbuh, sepanjang masa kanak-kanak mereka, terutama dalam 5 tahun pertama kehidupan mereka.
Faktanya, itu dimulai segera saat lahir — berdasarkan bagaimana terikat dengan bayi Anda dan membantu mereka belajar, tumbuh untuk percaya, dan menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.
Lalu, apa yang bisa orang tua lakukan untuk itu?
Anak-anak belajar banyak dari orang tua, termasuk bagaimana mengenal diri mereka sendiri, nilai yang terkandung dan bagaimana anak-anak mengkomunikasikan perasaan mereka. Tanpa disadari anak-anak meniru perilaku orang tua, termasuk menduplikasi kebiasaan baik dan buruk.
Mengingat kondisi tersebut, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk menumbuhkan kesehatan emosional anak laki-laki.
1. Boleh menangis saat mereka merasa sakit Seringkali orang tua membedakan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal meluapkan emosi sedih mereka. Dalam pandangan masyarakat, anak laki-laki dibentuk untuk kuat dan tidak cengeng.
Misalnya, anak Anda sedang memanjat di kursi tinggi. Anda menyuruh mereka turun agar tidak jatuh, tetapi mereka tidak mendengarkan. Kemudian, beberapa detik kemudian, mereka jatuh, dagu terbentur, dan mulai menangis.
Seringkali orang tua akan bereaksi, "Ah, tidak apa-apa, tidak sakit. Jangan menangis" atau "Kan, tadi ibu sudah bilang, tapi kamu tidak mendengarkan,". Dengan Anda melakukan hal tersebut sama saja dengan memberitahu sakit yang mereka rasakan tidak nyata. Atau tidak ada alasan yang sah dan logis untuk mereka menangis.
Daripada Anda berbicara yang malah menimbulkan perasaan yang kompleks, sebaiknya ajak anak berbicara pengalaman yang mereka rasakan dan cari tahu kenapa mereka bereaksi seperti itu. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menguatkan dan ikut merasakan emosi anak-anak.
2. Jadilah role model Cara lain untuk mengatur emosi adalah dengan memodelkan beragam emosi sendiri. Anak laki-laki akan melihat ayah sebagai role model. Misalnya saat Anda menyembunyikan emosi agar terlihat kuat di depan anak, tanpa disadari orang tua anak-anak memahami itu.
Baca juga: Cara Menyiasati Kedekatan Orang Tua dengan AnakKarenanya, untuk membentuk kesehatan emosional yang baik, sebagai orang tua harus bersikap terbuka dengan apa yang dirasakan. Beritahu anak-anak kalau orang tua juga merasakan sedih, frustasi atau emosi lainnya. Tunjukkan bagaimana mengatur emosi yang sehat pada anak-anak.
3. Hati-hati memperlakukan orang lain Ini sangat penting, terutama saat Anda dalam kondisi marah dan sedih. Misalnya tanpa sengaja Anda membentak pasangan saat marah atau berbicara yang menyinggung perasaan orang lain, anak-anak akan menganggap itu perilaku yang pantas.
Demikian pula, jika Anda memainkan peran gender atau memperlakukan seseorang secara berbeda berdasarkan jenis kelaminny, misalnya memperlakukan putri Anda secara berbeda dari putra Anda, mereka juga akan memperhatikannya.
4. Perilaku dan tontonan berbau kekerasan Menurut American Psychological Association, faktor risiko yang diketahui untuk maskulinitas beracun adalah paparan kekerasan di rumah, dalam hubungan, di komunitas, dan di media. Itulah mengapa sangat membantu untuk memperhatikan paparan anak Anda terhadap kekerasan dalam budaya pop.
Anda tidak harus melarang setiap film, video game, atau acara TV dengan kekerasan, tetapi Anda harus memperhatikan frekuensi dan tingkat keparahannya. Cobalah untuk memastikan apa yang mereka tonton sesuai usia dan mereka mendapatkan konten yang beragam. Bicaralah dengan anak Anda tentang apa yang mereka lihat.
5. Kenalkan panutan positif Perkenalkan mereka kepada pahlawan baru dengan nilai-nilai yang ingin Anda ajarkan.
Kita perlu mendorong anak laki-laki kita untuk membaca berbagai buku atau menonton film super hero yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda.
Perkenalkan mereka pada panutan positif dengan nilai-nilai yang baik. Misalnya, jika putra Anda menyukai olahraga, bicarakan tentang atlet yang membela apa yang mereka yakini.
Baca juga: Agar Anak Jadi Cerdas Seutuhnya, Ajarkan Al-Qur’an dan Bahasa Arab6. Jangan mempermalukan anak-anakPujilah putra Anda karena memiliki berbagai minat, bahkan jika itu bukan minat yang harus Anda minati. Jangan menutup aktivitas atau minat karena itu "perempuan" atau "aneh" — ini dapat memperkuat cita-cita maskulinitas yang beracun atau norma gender yang ketinggalan zaman.
7. Hadirkan waktu yang berkualitasPenelitian telah menunjukkan bahwa kesehatan emosional anak-anak lebih tinggi ketika ibu dan ayah mendahulukan keluarga, terlepas dari berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk bekerja. Ini karena, seperti yang Anda duga, penting bagi orang tua untuk hadir bersama anak-anak mereka.
Menurut riset Steward Friedman, bukan banyaknya waktu yang menjadi penting dalam hal ini. Tapi kualitas waktu yang Anda hadirkan untuk anak-anak, khususnya ayah mereka. Mudahnya, satu jam menghabiskan waktu dengan ngobrol, bermain dengan anak-anak lebih berkualitas ketimbang empat jam bersama anak-anak tapi Anda tetap teralihkan dengan pekerjaan. Pastikan Anda hadir dalam setiap waktu untuk anak-anak.
(est)