LANGIT7.ID, Jakarta - Setiap tanggal 12 November masyarakat Indonesia memeringati Hari Ayah Nasional. Hari Ayah merupakan bentuk penghargaan atas peran seorang ayah dalam membina dan membangun keluarga.
Dalam Islam, ayah memegang peran sentral dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Seorang ayah dituntut mampu memenuhi tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga, baik jasmani dan rohani.
Ayah berperan sebagai pemimpin untuk menjaga para anggota keluarga agar senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah. Karenanya, penting bagi seorang ayah selain mencari nafkah adalah memberikan pengajaran agama kepada keluarga.
Baca Juga: Hikmah Dianjurkan Berpindah Tempat Saat Shalat SunnahKisah berikut ini mengajarkan betapa pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter keluarga yang taat kepada Allah.
Dikisahkan, pada suatu malam seorang ulama tasawuf Abu Yazid Al Busthami bangun untuk menunaikan qiyamul lail. Anaknya yang masih kecil ternyata ikut bangun lalu mengikutinya mendirikan qiyamul lail di tengah dinginnya malam yang menusuk-nusuk tulang.
Baca Juga: Dua Rakaat Fajar Lebih Baik Dibanding Dunia dan Seisinya, Begini Maksudnya“Lanjutkan tidurmu wahai anakku, di hadapanmu ada malam yang panjang,” kata Busthami kepada anaknya.
“Memang mengapa wahai ayah, bagaimana dengan ayah sendiri, mengapa terbangun?”
“Wahai anakku, shalat malam ini adalah kebutuhanku .”
Melihat sikap ayahnya yang sedikit menolak, anaknya pun teringat pada sebuah ayat Alquran. Di hadapan sang ayah, ia lalu membacakan surat Al Muzammil ayat 20.
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.”
Baca Juga: Memahami Kandungan Perintah Shalat Tahajud dalam Surat Al-Isra“Siapakah yang dimaksud dengan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu itu wahai ayah?” Busthami lalu menjawab, “Itu adalah para sahabat Nabi Muhammad.”
Anaknya lalu berkata, “ Wahai Ayah, jangan engkau larang aku untuk ikut mulia dengan bangun menenmanimu dalam ketaatan kepada Allah.”
“Tapi, engkau masih terlalu kecil.”
Baca Juga: Keistimewaan Shalat Malam, Kapan Dikerjakan dan Berapa Rakaat?“Wahai Ayah, aku melihat ibu menyalakan api, ia memulai dengan kayu bakar yang kecil untuk menyalakan yang besar. aku khawatir Allah mulai membakar dari kita sebelum orang lain jika kita lalai pada taat-Nya.”
Mendengar jawaban sang anak, Busthami pun tak bisa berbuat banyak. Ia menjadi takut dan berkata, “Wahai anakku, berdirilah. Engkau lebih berhak dicintai Allah daripada ayahmu.”
Baca Juga: Bolehkan Anak-Anak Jadi Imam Shalat? Ini Jawabannya(zhd)