LANGIT7.ID, Grobogan - Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan menyimpan banyak fosil hewan pada masa prasejarah, koin serta perhiasan emas di masa Hindu-Budha pada abad 9-15 masehi. Di tempat ini, konon huruf Jawa Hanacaraka berasal.
Warga setempat kemudian memanfaatkan potensi yang dimiliki desa tersebut dengan mengembangkan menjadi desa wisata, pada 2017 lalu. Tepatnya pada 27 Oktober 2017, pemerintah daerah setempat mengeluarkan surat keputusan (SK) desa wisata di Banjarejo. Sebenarnya pengembangan wisata sendiri sudah dirintis warga sejak 2015.
“Ada 3 objek wisata yang menarik di sana. Pertama adalah temuan fosil hewan prasejarah yang berusia antara 130 ribu - 2 juta tahun sebelum masehi. Di antaranya kehidupan hewan laut seperti fosil hiu, kerang yang cangkangnya berukuran besar, fosil landak laut dan fosil penyu,” ujar Ketua Pokdarwis Banjarejo, Taufik Achmad, dikutip Kamis (18/11).
Baca juga:
6 Rekomendasi Destinasi Wisata Alam di CianjurSelain itu, juga ada kehidupan ekosistem rawa seperti dari buaya sungai hingga kuda nil. Adapun kehidupan hewan hutan yang masih tersisa di sana adalah fosil gajah stegodon, badak, kerbau dan rusa.
Taufik menyampaikan, objek wisata kedua adalah situs Medang Kamolan, yang menyimpan peninggalan masa Hindu-Budha seperti perhiasan emas, koin China, gerabah, keramik dan terakota. Selain itu juga ada struktur batu bata yang dibangun pada era tersebut. Sementara, wisata yang terakhir adalah bekas pengeboran minyak peninggalan Belanda.
“Kami terus memberikan edukasi kepada warga, jika ada longsoran tanah dan kemudian ada fosil-fosil hewan purba maupun koin emas untuk melaporkan kepada pihak desa. Termasuk peninggalan di masa Hindu-Budha ini, ini untuk menjadi bahan penelitian kehidupan di masa lampau,” ucapnya.
Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan lembaga kepurbakalaan yang mengurus fosil di Sangiran. Setiap tahun sekali, ada dari lembaga cagar budaya yang datang ke desanya untuk melakukan observasi maupun ekskavakasi fosil-fosil hewan purba.
Baca juga:
Sandiaga Uno Sebut Karimunjawa jadi Lokasi Diving Terbaik di Indonesia“Saat ini kami sedang membangun museum di dekat balai desa. Dan pada 2022 nanti museum mini mulai dioperasikan. Saat ini benda-benda purbakala itu sementara disimpan di rumah saya,“ kata Taufik, yang juga kepala desa setempat.
Tiket masuk untuk bisa melihat benda-benda bersejarah tersebut, tidak dipatok, ataupun seikhlasnya. Namun untuk datang ke areal wisata, yang saat ini juga dilengkapi dengan taman modern ini, setiap pengunjung ditarik tarif Rp5.000.
“Yang datang ke sini kebanyakan murid-murid sekolah, sebagai sarana edukasi pelajaran sejarah,” papar dia.
Setiap tahun, desa setempat juga menggelar Festival Jerami. Jerami dari batang padi yang sudah mengering itu pun dirangkai menjadi hewan raksasa, maupun saah satu tokoh wayang Rahwana. Festival Jerami ini terakhir digelar pada 2019 dan pada tahun berikutnya ditiadakan karena pandemi Covid-19.
Baca juga:
Dibangun Kolonial Belanda, Waduk Tempuran Kini Jadi Tempat WisataDikatakan Taufik, Festival Jerami tersebut memprioritaskan warga setempat menjual kuliner dan hasil bumi desa setempat. Ada sekitar 50 persen warga Banjarejo, sisanya dari luar. Mereka pun juga mendapatkan share profit dari even tersebut. Ia berharap desa wisata bisa ikut mendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kalau kuliner di sini, ya paling nasi pecel. Saat ini yang masih bertahan hanya satu warung makan di areal wisata. Pengunjungnya memang masih sepi, setelah ada pelonggaran PPKM,” ujar dia.
(sof)