LANGIT7.ID - - Seorang penulis dan pengajar di Sydney, Rawah Arja menulis sebuah novel baru untuk menjembatani kesenjangan bagi pembaca muda. Novel yang ditulisnya tersebut kemudian dinominasikan untuk menerima penghargaan sastra paling bergengsi di Australia.
“Saya menulis buku untuk anak laki-laki dan perempuan agar merasa bahwa mereka berharga, bahwa mereka penting. Bahwa meskipun hidup bisa berlalu, dan mereka pikir mereka tidak terwakili atau bahwa orang tidak peduli dengan mereka, ada seseorang yang selalu mengawasi mereka,” kata Rawah Arja dikutip dari laman SBS News pada (22/11).
Baca juga: Abdulrazak Gurnah Raih Penghargaan Nobel Sastra 2021Rawah menambahkan ia ingin memberi mereka ruang yang aman dan bisa mengatakan, 'Hei, kami umat Muslim tidak selalu orang jahat'.
"Dan saya ingin mereka bisa membacakan cerita dari seseorang yang terlihat dan terdengar seperti mereka.” kata Arja.
Rawah merupakan keturunan Lebanon yang lahir dan besar di Punchbowl di barat daya Sydney. Sudah 10 tahun Rawah menjadi tenaga pengajar di Sydney Barat, selama itu pula dirinya mendorong siswa-siswanya untuk mengambil buku dan membaca.
Novel debutnya, 'The F Team', terpilih di berbagai penghargaan sastra bergengsi di Australila. Termasuk Penghargaan Sastra Perdana Menteri 2021 yang diumumkan Oktober lalu, masuk dalam kategori sastra muda. Pemenang penghargaan tersebut rencananya akan diumumkan pada Desember mendatang.
Buku ini sendiri menceritakan tentang sekelompok remaja laki-laki imigran yang berusaha menyelamatkan sekolah yang akan ditutup. Mereka pun harus harus berhadapan dengan perbedaan baik di dalam maupun di luar lapangan sepak bola. Novel ini dikemas secara provokatif dan lucu.
"Memanusiakan orang-orang dari komunitas terpinggirkan yang tidak banyak terwakili dalam sastra dewasa muda, namun merupakan bagian penting dari lanskap budaya Australia modern." kata panel juri menanggapi karakter Rawah.
Berharap untuk menang, Rawah percaya bahwa penghargaan tersebut dapat menginspirasi orang-orang muda lainnya di Australia dengan beragam budaya dan bahasa untuk mengikuti jejaknya.
“Alasan mengapa saya peduli untuk diakui adalah agar setiap orang kulit berwarna dapat melihat dan berkata, 'Oh, oke, saya benar-benar dapat dinominasikan, karena, dia telah dinominasikan sebelumnya.' Artinya ini bukanlah mimpi panjang,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa penulis Muslim telah menerbitkan buku untuk mendukung keragaman dan melawan rasisme. Pada Juli 2019, Samira Hamana, seorang Life Coach bersertifikat dari Edmonton, menerbitkan buku anak-anak pertamanya untuk membantu anak-anak dan orang tua mereka melawan
bullying.
Baca juga: Buya Hamka Tak Hanya Ulama dan Sastrawan tapi juga Pejuang KemerdekaanJuga di tahun yang sama, Hudda Ibrahim dari St Cloud, Minnesota, menulis sebuah buku untuk memberdayakan gadis-gadis muda Muslim dan menormalkan hijab.
(est)