Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sekularisasi Menurut Cak Nur: Tidak Menyakralkan Urusan Duniawi

fajar adhitya Kamis, 02 Desember 2021 - 20:43 WIB
Sekularisasi Menurut Cak Nur: Tidak Menyakralkan Urusan Duniawi
Dua wanita Islam membaca al-Quran bersama-sama di rumput. Foto: iStock.
LANGIT7.ID, Jakarta - Sekularisasi agama merupakan istilah yang kerap diidentikkan dengan sekularisme. Istilah ini dipopulerkan oleh Nurcholis Madjid atau Cak Nur yang menghendaki modernisasi dalam pemikiran Islam.

Dosen Islamologi dan Filsafat Islam Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya, Budhy Munawar Rachman menjelaskan, sekularisasi yang dimaksud Cak Nur sangatlah berbeda dengan sekularisme. Dengan menyuarakan sekularisasi, Cak Nur mencoba mendudukkan kembali antara hal-hal yang disakralkan agama dengan urusan duniawi.

“Cak Nur mendorong sekularisasi, bukan sekularisme,” katanya dalam Webinar Memahami Sekularisasi Cak Nur: Kontroversi dan Kontribusinya yang diselenggarakan Lembaga Studi Agama dan Filsafat baru-baru ini.

Baca Juga: Pilih Tinggal di Rumah Sederhana, Azis Gagap Prioritaskan Pendidikan Anak dan Bangun Pesantren

Ia menjelaskan, sekularisme adalah mementingkan dunia dan segala urusan di dalamnya. Sekularisme memang ajaran yang tidak cocok dengan pandangan agama samawi, dalam hal ini Islam yang menyatakan bahwa kehidupan akhirat lebih penting dari dunia.

Menurut Cak Nur, lanjut dia, sekularisme adalah nama untuk suatu ideologi, suatu pandangan dunia baru yang tertutup yang berfungsi sangat mirip sebagai agama baru. Sedangkan sekularisasi adalah mendesakralisasi urusan dunia dan tidak mencampuradukkannya menjadi masalah agama.

Baca Juga: Polri Komitmen Rekrut Santri dan Penghafal Alquran

“Contoh proses sekularisasi adalah melihat yang dunia sebagai dunia, bukan sesuatu yang sakral. Yang suci hanya Allah, sedangkan yang ciptaan Allah bukan yang suci, itu namanya sekularisasi,” kata Budhy Munawar.

Dengan demikian, sekularisasi dapat menghadirkan pengembangan yang membebaskan. Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam dewasa ini tidak sanggup lagi membedakan di antara nilai-nilai yang disangkanya Islamis itu, mana yang transendental dan mana yang temporal.

“Cak Nur menghubungkan antara tauhid dengan sekularisasi. Tauhid adalah pernyataan bahwa yang Maha Besar hanya Allah sementara yang lain tidak,” imbuhnya.

Baca Juga: Bappenas Luncurkan Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali dan Master Plan Ulapan

Cak Nur dalam artikelnya “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” menyatakan, sekularisasi dimaksudkan untuk memantapkan tugas duniawi manusia sebagai Khalifah Allah di bumi. Fungsi sebagai Khalifah Allah itu memberikan ruangan bagi adanya kebebasan manusia.

Adapun pemutlakkan transendensi semata-mata kepada Tuhan sebenarnya harus melahirkan desakralisasi pandangan terhadap selain Tuhan, yaitu dunia dan masalah-masalah serta nilai-nilai yang bersangkutan dengannya.

“Sebab sakralisasi kepada sesuatu selain Tuhan itulah pada hakikatnya apa yang dinamakannya syirik, lawan tauhid. Maka sekularisasi itu sekarang memperoleh maknanya yang konkret, yaitu desakralisasi terhadap segala sesuatu selain hal-hal yang benar-benar bersifat ilahiah (transendental), yaitu dunia ini,” tulis Cak Nur.

Baca Juga: Aktivitas Pasar Santa Kebayoran Baru Tetap Bergeliat

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan