LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN), Ustadz Fadlan Garamatan, menuturkan, bencana terbesar di muka bumi adalah saat manusia sudah melupakan Allah Ta’ala. Sikap lupa itu yang akan mendatangkan bencana lain seperti bencana korupsi hingga bencana kemaksiatan.
Lupa kepada Allah pula yang membuat manusia tak mengetahui jati dirinya sebagai khalifah di muka bumi. Akibatnya ujian yang datang silih berganti harus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan ketaatan kepada-Nya.
“Ujian datang kepada kita secara terus menerus, maka ada evaluasi besar yang harus dilakukan oleh kita, terutama dalam ketaatan kita kepada Allah. Di mana ketaatan kita itu harus menjadi nilai yang dapat membuat rahmat secara menyeluruh dan merata di Tanah Air,” kata Ustadz Fadlan dalam kajian MIUMI, Kamis malam (9/12/2021).
Kerap manusia dalam perjalanan kehidupan melakukan aktivitas yang menyimpang dari aturan Allah. Berbagai perbuatan sering dilakukan secara sadar dan tidak sadar yang menimbulkan bencana alam. Misalnya tidak menjaga amanah-Nya untuk menjaga kelestarian lingkungan, hingga berbuat maksiat.
Baca Juga: BNPB: Bencana itu Ujian, Harus Selalu Siap Siaga dan Tingkatkan Keimanan
Perbuatan yang menyalahi kehendak Allah itu akan mendatangkan musibah. Bencana itu tidak akan berhenti jika manusia tidak kembali kepada-Nya dan tidak melibatkan-Nya dalam perjalanan hidup.
“Ada orang yang angkuh, sombong, lupa diri, takabur, bahkan berani melupakan Allah. Kita tidak saja melihat adanya fenomena gempa, gunung meletus, musibah terbesar adalah, negeri kita terjadinya bencana perpecahan, bencana permusuhan,” terang Ustadz Fadlan.
Menurut Ustadz Fadlan, bencana maksiat jauh lebih besar ketimbang bencana alam.
“Ada bencana yang lebih besar di negeri kita, yakni korupsi yang terus terjadi, itu bencana besar. belum lagi bencana ketidakjujuran,” tuturnya.
Bencana Harus Jadi Bahan MuhasabahDia menuturkan, bencana alam merupakan ‘hadiah’ agar manusia bisa melihat dengan kasat mata kekuasaanNya. Gunung Semeru meletus merupakan ujian agar manusia sadar dan mau kembali kepada-Nya.
“Tanggalkan semua keangkuhan kita, tinggalkan kesombongan kita, marilah kita kembali kepada Allah untuk meraih simpati Allah. Karena ini adalah cara Allah menegur kita,” kata Ustadz Fadlan.
Bencana juga merupakan rahmat. Sebuah rahmat untuk membangun keshalehan sosial. Saling tolong-menolong, dan meningkatkan kepedulian kepada mereka yang tengah tertimpa musibah bencana alam.
“Sebagai anak bangsa, mari kita dari masjid kita bermuhasabah terhadap diri kita sendiri, meminta ampun kepada Allah, bahwa bencana ini adalah cara-Nya untuk mendekatkan kita kepada-Nya,” ucapnya.
(jqf)