Langit7, Jakarta - Pandemi Covid-19 memaksa sebagian masyarakat untuk menstok berbagai kebutuhan mereka di rumah, salah satunya makanan.
Dalam hal ini, mereka memilih produk
frozen food atau makanan beku, karena dinilai lebih awet dan tetap terjaga kesegarannya jika disimpan dalam kurun waktu tertentu.
Hal itu menjadikan pelaku usaha
frozen food turut laris manis dalam dagangannya. Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), Hasanuddin Yasni mengatakan, banyak orang yang terjun ke bisnis
frozen food pada tingkat UMKM ataupun tingkat rumahan.
Baca juga: Penyedia Jasa Pengiriman Paket Besar Kini Lirik UMKM untuk Perluas PasarPada tahun 2020, nilai pasar frozen food telah mencapai Rp80 triliun dan tahun ini diprediksi bisa mencapai Rp95 triliun.
Adapun nilai pasar
frozen food di tahun 2025 diprediksi mencapai Rp200 triliun. Jika masyarakat dapat bijak menggunakan produk frozen food, maka industri ini diprediksi akan dapat terus tumbuh seiring perkembangan zaman dan perubahan pola hidup masyarakat.
Prospek yang menjanjikan itu juga yang membuat Naufal Zaki tetap konsisten menjalankan usahanya. Melalui brand Oshrimp, Zaki berfokus pada produk bahan makanan udang beku.
Baca juga: Pakai Modal Nikah, Kini Sukses Lewat Usaha Kelapa MudaWalaupun sebagian orang memiliki alergi terhadap udang, Zaki mengatakan alergi itu disebabkan oleh produk yang sebetulnya tidak segar.
"Produk perikanan olahan ini saya lihat memiliki potensi yang luar biasa. Jadi kami berniat untuk mengembangkan usaha
frozen food udang," katanya dikutip dari kanal YouTube TVBisnis.
Zaki meyakini, udang masih berpotensi dilirik oleh masyarakat sebagai kebutuhan konsumsinya bahkan hingga puluhan tahun ke depan.
Untuk itu, dia berniat menciptakan sebuah produk yang dapat dinikmati oleh semua kalangan.
"Kami berani menjamin bahwa produk yang kami jual ini selain fresh, harganya juga terjangkau," katanya.
Baca juga: Peduli Kesejahteraan Petani, Inovasi Mahasiswa UI Jawab Isu Kelangkaan PupukDibandingkan dengan hewan konsumsi sejenis, seperti kepiting dan lobster, udang masih menjadi primadona, karena harganya yang relatif lebih murah.
Bahan udang Oshrimp ini didapatkan langsung dari petani. Kini Oshrimp telah memiliki pasarnya sendiri, yakni langsung ke end user dan restoran.
"Kami menjual mulai dari satu kilogram isi 30 hingga 70 ekor. Semakin banyak jumlahnya, maka semakin mahal pula harganya," kata dia.
Oshrimp yang mendapatkan udang melalui mitranya itu, memastikan produknya higienis dan berkualitas. Hal itu dilakukan demi memberikan warna lain dalam persaingan pasar
frozen food.
"Jadi kita kasih kualitas dengan harga murah, dan terjamin mutunya. Sehingga ketika dikonsumsi akan memberikan pengalaman yang berbeda," tambahnya.
(zul)