Langit7, Jakarta - Isu kelangkaan pupuk di sektor pertanian telah menjadi permasalahan klasik yang terus berulang setiap tahun.
Pada 2021 sendiri, potensi kelangkaan pupuk masih cukup besar karena perbedaan antara kebutuhan dengan alokasi yang diberikan pemerintah.
Berdasarkan usulan sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) dari seluruh daerah, kebutuhan pupuk bersubsidi tahun 2021 mencapai 23,4 juta ton. Angka ini jauh lebih besar dari anggaran APBN 2021 yang hanya mampu memenuhi subsidi sekitar sembilan juta ton, ditambah 1,5 juta liter pupuk organik cair.
Sebagai milenial yang melekat dengan dunia pendidikan dan teknologi digital, membuat Savira Alivia Salsabila tergerak untuk ikut menghadirkan solusi terkait permasalahan tersebut.
![Peduli Kesejahteraan Petani, Inovasi Mahasiswa UI Jawab Isu Kelangkaan Pupuk]()
Kala itu, dia menemukan isu permasalahan pupuk sedang merebak di Tanah Air akibat pandemi Covid-19. Savira merupakan mahasiswa Teknik Kimia Universitas Indonesia yang dengan idenya mencoba memberikan terobosan melalui teknologi produksi pupuk nitrat cair.
Baca juga: Berkat KUA Percontohan Ekonomi Umat, Penjualan Pedagang Kue Ini MeningkatNamun, ia masih perlu wadah yang lebih luas dari sekadar tingkat Universitas untuk menuangkan idenya itu. Bak bertemu jodohnya, Savira yang sedang scrolling instagramnya menemukan satu wadah yang cocok, yakni Pertamuda.
"Awal mula saya mengikuti Pertamuda dari sosial media, tepatnya Instagram. Setelah cari lebih dalam, saya tertarik mengikuti kompetisi bisnis ini dan mengikuti teknologi atau inovasi yang saya miliki. Akhirnya ide bisnis tersebut saya beri nama Tekpang," jelasnya kepada Langit7.id.
Pertamuda atau Pertamina Muda
Seed & Scale adalah sebuah program dari Pertamina yang merupakan kompetisi ide bisnis untuk mahasiswa di Indonesia, dengan ide bisnis yang berhubungan dengan energi dan nilai komersial yang berkelanjutan.
Melalui kompetisi bisnis yang diselenggarakan Pertamina itu, dia bersama timnya mengembangkan sebuah alat produksi pupuk dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Tekpang, yang merupakan alat teknologi tepat guna pembuatan pupuk nitrat cair sebagai solusi penguatan ketahanan pangan pascapandemi Covid-19.
![Peduli Kesejahteraan Petani, Inovasi Mahasiswa UI Jawab Isu Kelangkaan Pupuk]()
Tekpang adalah sebuah alat berbasis teknologi
contact glow discharge electrolysis sebagai teknologi terbarukan, murah, dan ramah lingkungan dalam pembuatan pupuk nitrat. Diketahui, alat ini sedang dalam proses fiksasi penelitian dan akan segera diproduksi mengingat kualitas pupuk nitrat cair yang dihasilkan sangat baik.
Teknologi ini merupakan pengembangan dari teknologi plasma yang tidak menghasilkan residu dan mengkonsumsi energi 2,5 kali lebih rendah dibandingkan dengan Proses Haber-Bosch (proses konvensional).
Baca juga: Muslim asal Bogor, Untung Menggunung dari Jualan Kutu AirDengan inovasi teknologi tersebut, Savira dibantu rekannya sesama mahasiswa berupaya menjawab permasalahan kelangkaan pupuk nasional. Di mana akibat harga pupuk yang melambung cukup tinggi, menyebabkan harga produk pertanian yang semakin lama semakin tinggi pula.
"Maka itu kami menyadari bahwa diperlukan solusi konkret untuk mengatasi permasalahan produk pertanian secara nasional, khususnya pupuk," jelasnya.
Perkembangan Model Bisnis TekpangSaat ini, pengembangan model bisnis Tekpang masih berfokus pada produksi pupuk nitrat cair.
Mahasiswa Semester V itu menjelaskan, dari alatnya itu, ia menghasilkan produk pupuk kategori unggul. Sementara untuk pemasarannya sendiri, pupuk produksi itu ditetapkan dengan harga Rp40-50 ribu.
Baca juga: Raup Untung dari Budi Daya Jangkrik, Rp18 Juta Sekali PanenHarga itu terbilang cukup bersaing di pasaran, terlebih pupuk yang dihasilkan memiliki keunggulan tersendiri. Sementara untuk pemasaran, lanjut Savira, saat ini pihaknya masih melakukan kerja sama dengan distributor dan mengenalkan produknya dari mulut ke mulut.
"Untuk menyasar pasar online kami rasa bisnis baru ini pendapatanya belum terlalu cepat. Selain itu, kami juga sudah coba untuk memasarkan produk ini ke daerah Jawa," tambahnya.
Hadirkan Manfaat, Raih Top 3 PertamudaMelalui terobosannya itu, Savira bersama timnya mendapatkan respon positif dari berbagai pihak, baik kampus maupun para petani. Bahkan menurut pengakuannya, para petani siap beralih kepada produk pupuknya jika terbukti baik di lapangan.
"Karena dari segi harga dan kualitas yang memang cukup bersaing dan tidak kalah dengan produk komersial yang ada. Justru malah beberapa tanaman hasilnya lebih baik dibandingkan produk pupuk komersial yang sudah ada saat ini," jelasnya.
Pupuk hasil produksi Tekpang diyakini memiliki kandungan lengkap dibandingkan produk komersil yang sudah beredar di pasaran. Selain itu, lanjut dia, pupuk hasil produksinya juga bisa digunakan untuk seluruh jenis tanaman.
Baca juga: Raup Untung dari Ternak Ayam Cemani, Ekspor Sampai PakistanNamun, ia menekankan bahwa pupuknya itu lebih unggul digunakan untuk jenis tanaman palawija, karena sudah melewati uji coba penelitiannya. Adapun tanaman yang sudah diuji coba yakni, cabai, sawi, lada, tomat, dan jenis sayuran lain.
"Ibaratnya pupuk kami sudah seperti empat sehat lima sempurna bagi tanaman. Hal itu dikarenakan pupuk ini mengandung nitrat, fosfat, kalium, dan sulfat. Jadi kandungannya sudah lengkap di dalam satu pupuk," katanya.
Berkat terobosannya memanfaatkan perkembangan teknologi untuk dunia pertanian, muslimah kelahiran Jakarta 21 Oktober 2021 itu berhasil masuk Top 3 di ajang Pertamuda
Seed & Scale 2021.
![Peduli Kesejahteraan Petani, Inovasi Mahasiswa UI Jawab Isu Kelangkaan Pupuk]()
Melalui kompetisi bisnis Pertamuda, Savira mengaku mendapatkan berbagai manfaat. Ia menyebutkan dapat mengetahui dan banyak belajar dalam membangun bisnis, serta memanfaatkan teknologi untuk dikomersilkan.
"Dari Pertamuda juga saya mendapatkan banyak eksposure dari para mentor dan juri yang sebagian besar adalah pakar di bidangnya. Pertamuda bukan hanya sekadar kompetisi tapi juga wadah untuk mengembangkan bisnis dan memperluas relasi," katanya.
Ke depan, Savira menargetkan untuk bisa menghadirkan berbagai inovasi terbaru yang manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Sehingga tujuan utamanya, yakni meningkatkan ketahanan pangan nasional bisa tercapai.
"Jadi tidak hanya menjual pupuk tapi tidak tepat sasaran, melainkan juga adanya ketahanan pangan nasional melalui distribusi yang baik, dan kualitas pupuk unggul. Target selanjutnya kalau bisa dua tahun ke depan pupuk ini juga bisa menjadi salah satu pupuk unggul di Indonesia dan bersaing di tingkat internasional," tambahnya.
(zul)