LANGIT7.ID, Jakarta - Alquran adalah rujukan utama umat Islam untuk memahami dan menerapkan ajaran agama. Allah mewahyukan Alquran kepada Nabi Muhammad sebagai petunjuk dan berfungsi untuk menjelaskan hukum-hukum Allah.
Salah satu metode mufassir dalam menggali makna yang terkandung dalam Alquran adalah munasabah. Cara ini untuk memudahkan memahami kalimat, ayat atau surat dengan mengaitkannya antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya dalam satu ayat sehingga pesan Alquran dapat dicapai.
Secara terminologis yang dimaksud munasabah adalah mencari kedekatan, hubungan, kaitan, antara satu ayat atau kelompok ayat dengan satu ayat atau kelompok ayat yang berdekatan baik berada setelah maupun sebelum ayat atau kelompok surat tersebut.
Baca Juga: UAS Ingatkan Kaum Muslim Terus Beramar Makruf Nahi MungkarIlmu munasabah dalam kajian Alquran diakui oleh para ulama bahwa Alquran merupakan kitab suci yang ayatnya telah disusun secara rapih dan sistematis. Kelompok ayat yang satu tak dapat dipisahkan dengan ayat berikutnya, antara ayat yang satu dengan ayat lainnya memiliki hubungan mata rantau yang bersambung.
Dilansir
uinjkt.ac.id, Prof Dr Nasaruddin Umar menjelaskan, yang dimaksud munasabah ialah konsep dalam kajian Alquran yang membahas tentang pemahaman makna ayat secara komprehensif dengan menghubungkan antara ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, antara pembuka ayat dan penutup ayatnya, dan antara ayat dengan nama surah yang menjadi tema sentralnya.
“Konsep munasabah amat penting bagi para mufassir, karena orang yang yang tidak memahami munasabah sebuah ayat lalu fokus hanya memahami ayat itu berpeluang terjadi salah penerapan (
miscontext),” katanya.
Prof. Nasarudin mencontohkan, dalam Surat At Taubah ayat 5 Allah memerintahkan: …bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Potongan ayat tersebut sering diperkenalkan oleh kelompok radikal, khususnya kaum teroris, sebagaimana yang sering ditemukan di dalam buku-buku doktrin mereka.
Baca Juga: Apa Saja Adab-adab dalam Membaca Alquran?Sepintas ayat ini kelihatan sangat menyeramkan. Apalagi kata al-musyrikun diartikan dengan non-muslim. Itu artinya ada izin membunuh non muslim di mana pun dan kapan pun. Padahal, ayat tersebut hanyalah potongan tengah ayat. Ayat seutuhnya ialah:
Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. at-Taubah/9:5).
Prof. Nasarudin melanjutkan, bila ayat tersebut dibaca secara utuh, lalu dihubungkan dengan konteks ayat sebelum dan sesudahnya, kemudian menyimak sabab nuzul ayatnya, maka pemahaman dan sikap yang bisa muncul sangat berbeda dengan sebelumnya. Ayat tersebut di atas sesungguhnya lebih menonjol sebagai ayat dakwah ketimbang sebagai ayat jihad atau peperangan.
Baca Juga: Kenali Jenis Mukena Traveling, Agar Ibadah Tetap Khusyuk dan Nyaman(zhd)