LANGIT7.ID, Semarang - Pelatih anyar PSIS Semarang Dragan Djukanovic meninggalkan catatan minor di tim yang baru saja ditinggalkannya AE Karaiskakis Artas, klub Liga 2 Yunani.
Karaiskakis Artas, masuk dalam daftar 6 tim yang terdegradasi musim 2021, di antaranya tergabung bersama Panachaiki, A.O Trikala, Appolon Lariss, Doxa Drama, OF Lerapetra.
Untuk diketahui, Liga 2 Yunani diikuti oleh 12 tim, dengan memainkan 22 pertandingan. AE Karaiskakis Artas hanya mampu memenangkan 3 kali pertandingan, 7 kali seri dan 12 kali menelan kekalahan dengan hanya mengoleksi poin 16. Tim tersebut finis di posisi ke-11 di tabel klasemen akhir.
Kontrak Dragan Djukanovic di AE Karaiskakis Artas pun tidak diperpanjang. Pada 23 Desember 2021, klub menunjuk pelatih baru, Timotheos Kavakas, sebagai suksesor Dragan. Meski menorehkan catatan negatif, PSIS tetap memboyong lagi mantan pelatihnya pada musim 2020 tersebut.
Baca juga:
PSIS Semarang Kembali Datangkan Dragan DjukanovicDragan Djukanovic adalah pelatih yang cukup dicintai dan disegani bagi banyak kalangan fans, Panser Biru maupun Snex. Keputusan manajemen PSIS Semarang mendatangkannya ke Kota Atlas, juga atas dorongan dari para pendukung PSIS.
“Ini juga karena permintaan dari adik-adik Panser Biru dan Snex,” kata Komisaris PSIS Semarang Junianto, Senin (27/12).
Selain mendatangkan Dragan, manajemen juga sekalian menggunakan jasa Zarko Curcic, sebagai pelatih fisik. Zarko Curcic sebelumnya pada musim 2020 juga bersama Dragan duduk di kursi kepelatihan.
“Dragan dan Zarko sudah berpengalaman di PSIS, sehingga adaptasinya tidak sulit. Semoga dengan kehadirannya PSIS bisa kembali top performance,” imbuh Junianto.
CEO PSIS Yoyok Sukawi menambahkan Dragan Djukanovic dan Zarko Curcic akan berangkat ke Indonesia pada 28 Desember 2021. Keduanya akan menjalani karantina sesuai dengan aturan yang ada di Indonesia sebelum diperbolehkan bergabung dengan tim.
“Semoga semuanya lancar,” kata Yoyok.
Dari evaluasi yang dilakukan selama putaran kedua, pemain PSIS diketahui selalu mengalami penurunan fisik di babak kedua. Akibatnya, di beberapa pertandingan meski sempat unggul, tapi di paruh kedua seringkali seringkali kehilangan fokus dan kehilangan tenaga.
(sof)