LANGIT7.ID - Rivalitas sudah ada sejak dulu. Bahkan sejarah peradaban manusia sebagian besar diwarnai peperangan. Namun perlu diingat, peperangan dalam Islam bukan jalan utama, hanya tindakan akhir jika tidak ada lagi cara lain dalam menegakkan kebenaran.
Dalam peperangan pun, Islam menetapkan adab-adab yang wajib ditaati setiap muslim. Rasulullah SAW sebagai panglima tertinggi pernah marah besar kepada Usamah bin Zaid dalam sebuah peperangan.
Kala itu, Usamah meneruskan hujaman pedang kepada seseorang yang baru saja mengucapkan dua kalimat syahadat. Orang itu sebelumnya bertarung dan sangat bernafsu membunuh Usamah.
Saat terdesak dan tak berdaya, orang itu spontan mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, gejolak perang membuat Usamah tetap menghujamkan pedang ke orang tersebut. Mendengar kabar itu, Rasulullah marah besar, meski Usamah salah satu pemuda kesayangan beliau.
Memang Islam menjadikan perang sebagai salah satu solusi. Namun, Islam tak membiarkan emosi manusia tak terarah dalam peperangan. Dalam bahasa sederhananya, Islam melarang seorang muslim menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan.
Perang dalam Islam memiliki hukum dan adab yang jelas, di antaranya:
1. Tidak Boleh Mengganggu Wanita, Orang Tua, dan Anak-anak Meski peperangan telah memasuki puncak paling sengit, seorang muslim dilarang mengganggu wanita, orang tua, dan anak-anak. terlebih membunuh tiga kelompok ini.
Rasulullah SAW berpesan kepada para panglima perang dan pasukannya agar selalu bertakwa kepada Allah sebelum berangkat ke medan jihad. Di antara pesan beliau adalah "jangan kalian membunuh anak-anak." (HR Muslim).
Dalam riwayat Abu Dawud, beliau bersabda, "Janganlah kalian membunuh orang tua yang sudah sepuh, anak-anak, dan wanita." (HR Abud Dawud).
2. Tidak Boleh Membunuh Para Petinggi Agama Sebelum memberangkatkan pasukan, Rasulullah juga berpesan kepada para pasukannya, "Janganlah kalian membunuh pemilik biara (rahib)."
Beliau berwasiat kepada pasukan yang akan berangkat menuju Mu'tah, "Berangkatlah berperang di jalan Allah dengan menyebut nama Allah. Bunuhlah orang-orang kafir. Perangilah mereka. Janganlah kamu berbuat curang dan jangan melanggar perjanjian, dan jangan pula memutilasi mayat." (HR Muslim).
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, "Berperanglah dengan menyebut nama Allah dan di jalan Allah. Perangilah mereka yang kufur kepada Allah. Berperanglah, jangan kalian berlebihan (dalam membunuh). Jangan kalian lari dari medan perang, jangan kalian memutilasi, jangan membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang sudah sepuh, dan rahib di tempat ibadahnya." HR Muslim).
3. Tidak Boleh Lari dari Medan PerangLarangan paling keras dalam Perang adalah dilarangnya seorang muslim lari dari medan perang. Larangan ini terkait dengan larangan-larangan sebelumnya. Baginda Nabi Muhammad bersabda, "Jangan kalian lari dari medan perang...." (HR Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Sifat pengecut bukan karakter seorang muslim. Rasulullah SAW berlepas diri dari pasukan yang lari dari medan perang. Beliau bersabda:
"Seorang nonmuslim yang dijamin darahnya (dijanjikan tidak diperangi), lalu (seorang muslim) membunuhnya, maka aku berlepas diri dari si pembunuh. Walaupun yang ia bunuh adalah seorang non muslim." (HR Bukhari).
4. Tidak Membuat Kerusakan di Bumi Tidak merusak di muka bumi merupakan adab mulia yang selalu dipegang erat pasukan muslim saat menaklukkan suatu negeri. Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki pesan sangat terkenal sebelum memberangkatkan pasukan ke Syam.
"Jangan membuat kerusakan di muka bumi." Dia juga berwasiat, "Jangan sekali-kali menebang pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan membunuh hewan-hewan ternak, jangan tebang pohon yang berbuah, janganlah kalian merobohkan bangunan." (Riwayat al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, Ibnu Katsir dalam Tarikh Dimasyq, dan ath-Thahawi dalam Syarah Musykilul Atsar).
5. Berinfak Kepada Tawanan Berinfak kepada sesama muslim itu sudah biasa. Tapi, berinfak kepada musuh, itu baru luar biasa. In merupakan salah satu adab mulia seorang muslim. Berinfak atau memberi tawanan sesuatu yang tidak membuat mereka begitu menderita dianjurkan dalam Islam.
Para tawanan dalam keadaan lemah dan terpisah dari keluarga, tentu berinfak bisa meringankan beban mereka. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan." (QS Al-Insaan: 8).
6. Tidak Boleh Memutilasi Mayat Larangan ini sangat jelas. Rasulullah SAW melarang pasukan musim memutilasi mayat musuh meski meraih kemenangan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid, beliau bersabda "Nabi melarang perampasan dan memutilasi (musuh)." (HR. Bukhari ath-Thayalisi dalam musnad-nya, dan al-Baihaqi dalam Sunan Al Kubra).
Marak dalam buku sejarah tentang orang musyrik memutilasi jenazah paman Rasulullah, Hamzah, di perang Uhud. Namun beliau tidak membalas perlakuan tersebut di peperangan selanjutnya. Bahkan beliau bersabda:
"Manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah seseorang yang dibunuh oleh seorang nabi, orang yang membunuh seorang nabi, pemimpin kesesatan, dan orang yang memutilasi." (HR Ahmad).
(jqf)