LANGIT7.ID, Los Angeles - Muslim Afrika-Amerika adalah salah satu komunitas muslim terbesar di Amerika Serikat. Populasi muslim kulit hitam di negeri Paman Sam itu hampir sepertiga jumlah muslim AS.
Di Los Angeles Selatan, salah satu pusat muslim Afrika-Amerika adalah Masjid Bilal Center. Masjid ini dipimpin Imam Abdul Karim Hasan, seorang muslim keturunan Afrika. Meski masjid ini identik dengan muslim kulit hitam, tapi tidak ada pembatasan sama sekali. Semua umat Islam bisa mengikuti seluruh kegiatan di masjid tersebut.
Hasan menyebut, umat Islam telah diikat dengan tali ukhuwah Islamiyah. Tidak ada pembeda-bedaan. Semua bersaudara. "Satu-satunya yang dapat memisahkan kami adalah ketakutan dan ketidaktahuan. Muslim Afrika-Amerika tahu ada ikatan umum antara semua muslim," katanya, dikutip latimes.com, Selasa (4/1/2022).
Muslim Afrika-Amerika pertama kali menginjakkan kaki di negara tersebut pada awal abad ke-19. Saat terjadi Perang Dunia II, beberapa kelompok kulit hitam mengklaim memiliki kedekatan dengan Islam. Kelompok muslim kulit hitam itu memperjuangkan kemandirian ekonomi dan penentuan nasib sendiri.
Islam memiliki dampak budaya dan politik di Amerika pada era 60-an. Terlebih Saat Malcolm X dan juara tinju kelas berat Cassius Clay (Muhammad Ali) masuk Islam pada 1964.
Dalam beberapa dekade terakhir, muslim kulit hitam meningkat. Terutama saat jumlah muslim Afrika dan Timur Tengah bermigrasi ke Amerika meningkat. Sebagian besar muslim kulit hitam memilih menjalankan syariah Islam sesuai Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak terikat pada organisasi apapun.
Baca Juga: 7 Rapper Hits Amerika Serikat Ini Bangga Menjadi Muslim
Keberagaman yang berkembang dari populasi muslim AS telah mengubah persepsi masyarakat tentang apa arti menjadi hitam dan muslim. Su'ad Abdul Khabeer, seorang profesor Universitas Purdue mengatakan, ada rasa terasing dalam diri kmereka karena jarang mendapat sorotan.
“Media arus utama umumnya mengabaikan Muslim Kulit Hitam, meskipun semua orang menyukai Malcolm X dan Muhammad Ali,” katanya.
Kendati demikian, solidaritas di antara mereka sangat tinggi. Rasa tanggung jawab terhadap komunitas juga mengakar di Masjid Bilal. Imam Hasan memimpin sejak tahun 1971. Bangunan itu sempat hancur pada 1980-an karena rusak akibat gempa. Lalu pada 1999, masjid itu diperluas. Hingga pada 2007, masjid tersebut membuka sekolah untuk masyarakat umum. Bahkan siswa di sekolah itu mayoritas non muslim.
Masjid selalu ramai, terutama saat Jumat. Jamaah berdatangan dari berbagai daerah. Tidak ada sekat antara muslim kulit hitam dan muslim kulit putih. Semua menyatu atas dasar ukhuwah Islamiyah.
Cahaya di Kubah HijauDi bawah kubah hijau berkilauan sebuah masjid di Malcolm X Way di Los Angeles Selatan, Imam Abdul Karim Hasan pernah berpesan kepada muslim kulit hitam untuk mempertahankan eksistensi mereka.
Hasan memeluk Islam sekitar 60 tahun lalu setelah mendengar Malcolm X berpidato. Dia sangat tertarik saat mendengar cerita tentang sejarah perbudakan di Amerika, dan banyak dari tawanan kulit hitam adalah muslim.
Inspirasi dari Malcom X itu masih membentuk keyakinannya bahwa Muslim Afrika-Amerika harus terjun ke dalam politik dan membentuk kehidupan mereka sendiri.
“Malcolm adalah guru saya. Mengapa anda duduk dan membiarkan orang lain membuat aturan, dan anda tidak menghadiri rapat dewan untuk melihat apa yang mereka lakukan atau katakan? Kamu tidak akan mengubah apa pun yang ada di ruang tamumu," kata Hasan.
Sekitar lima mil jauhnya, di sebuah bangunan cokelat kotak di seberang jalan dari sebuah barbershop bernama Shave Parlor, berdiri sebuah masjid dan pusat komunitas lainnya, Islah LA. Didirikan pada tahun 2013, dipimpin oleh Imam Jihad Saafir, yang 49 tahun lebih muda dari Hasan.
Di masjid itu, muslim kulit hitam bersama-sama menghadapi tantangan demografis, ekonomi, politik serta potensi muslim Afrika-Amerika yang sering kurang mendapat perhatian. Padahal, komunitas itu sudah ada sejak ratusan tahun silam.
Puluhan tahun pengabdian Hasan diabadikan pada sebuah tanda di persimpangan Central Avenue dan Martin Luther King Jr. Boulevard: “Imam Hasan Square.” Saafir berharap untuk memperluas warisan Hasan dan para tetua lainnya sambil menarik generasi muda yang tengah mempelajari Islam.
"Kami adalah produk dari cerita mereka. Kami lebih muda, kami ingin bergerak sedikit lebih cepat, kami ingin mengambil beberapa peluang lagi. Imam Hasan, alhamdulillah, dia sesepuh bagi saya. Dia adalah bagian yang sangat penting, bahkan mengapa saya di sini," kata Safiir.
(jqf)