LANGIT7.ID, Jakarta - Pakar
Parenting, Ustadz Miftahul Jinan, menegaskan, pondok pesantren merupakan tempat terbaik bagi anak-anak untuk mengenyam pendidikan. Terlebih bagi anak-anak yang memasuki usia remaja, yang setara dengan siswa SMP dan SMA.
Usia tersebut menjadi pondasi utama untuk masa depan anak. Jika kegiatan di usia itu penuh dengan kegiatan bermanfaat, anak berkesempatan besar memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan masa depan. Mereka juga memiliki prinsip keimanan dalam menghadapi setiap masalah.
Jinan mencontohkan kehidupan remaja pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Banyak remaja yang menghabiskan waktu di depan layar gawai dari pagi hingga malam hari. Jika gawai digunakan untuk hal bermanfaat tentu tak masalah. Namun, mayoritas remaja lebih suka berselancar di ruang media sosial.
"Jadi waktu waktu paling efektif dalam hidup mereka justru disalurkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat," kata Jinan dalam webinar parenting MA Darul Marhamah, dikutip Kamis (6/1/2022).
Berbeda halnya dengan para santri di pesantren. Mereka dibatasi bahkan dilarang menggunakan gawai, kecuali dalam waktu tertentu saja, sehingga berselancar di dunia maya pun bisa terkontrol dengan baik. Di sisi lain, setiap hari mereka mengisi waktu dengan menghafal Al-Qur'an, mempelajari ilmu fikih, meningkatkan skill, hingga pendidikan adab dan akhlak. Proses ini dijalani selama 6 tahun.
"
Subhanallah, setelah 6 tahun ada sesuatu yang berubah pada diri anak kita. Mereka menggunakan waktu-waktu paling produktif dalam hidup mereka untuk meningkatkan
skill, kesalehan, keimanan, dan ihsannya," kata Jinan.
Metode pendidikan itu membuat pondok pesantren menjadi tempat terbaik bagi anak. Apalagi pada masa pandemi saat ini. Sistem pendidikan pesantren makin jauh lebih efektif.
"Program tahfidz di masa pandemi ini juga meningkat. Adanya pembatasan kunjungan orang tua juga membuat mereka lebih fokus dalam memperdalam ilmu agama," tambah Jinan. Berangkat dari situ, orang tua sudah sepatutnya memperhatikan pendidikan anak di pesantren. Ini agar anak bisa betah dan istiqomah dalam menjalani setiap aktivitas di pesantren. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua, di antaranya memberikan contoh yang baik kepada anak. Contoh yang baik bisa dilakukan dengan meningkatkan amal shaleh orang tua. "Amalan salleh orang tua, meski tidak dilihat anak, tapi memiliki dampak besar kepada bagi anak. Ketika anak menghafal Alquran, orang tua juga harus mulai menghafal Alquran di rumah. Sehingga, ketika anak mengetahui amalan-amalan itu, mereka akan semakin termotivasi dalam memperdalam ilmu agama dan mengamalkannya," ucap Jinan. Orang tua juga harus berempati kepada anak. Ada banyak contoh dalam hal ini. Orang tua bisa menceritakan pengalaman yang bisa membuat motivasi anak meningkat, seperti mulai menghafal Al-Qur'an dan lain sebagainya. "Kemudian, orang tua memberi nafkah anak dari rezeki yang baik, membangun komunikasi yang baik, dan mendoakan selama anak di pondok," tutupnya.
(jqf)