LANGIT7.ID, Padang - Kisah inspiratif bocah SD bernama Hani mengambarkan keinginan berkurban bagi Muslim, tidak hanya terbatas untuk orang dewasa, melainkan bagi semua orang tanpa melihat batas usia.
Anak perempuan bernama Hanifa Insani ini merupakan pelajar kelas tiga Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) 4 Solok, Sumatera Barat.
Hani mampu berqurban pada hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah dari uang hasil tabungan dari celengannya, yang dikumpulkannya selama tiga tahun.
Uang untuk berkurban tersebut sudah ditabungnya sejak tiga tahun berturut-turut, tepatnya sejak Hani masih duduk di bangku TK atau sejak berusia lima tahun.
Beberapa tahun terakhir ini, Hani rajin menabung dalam celengan yang dibelikan oleh orang tuanya. Setiap hari, dia selalu menyisihkan uang jajannya Rp1.000 hingga Rp5.000.
Sedikit demi sedikit uang tabungan Hani terus bertambah. Bahkan, tabungannya meningkat drastis pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. yang diterima Hani dari mamak (paman) dan etek (tante) dan kerabat lainnya langsung ditabung dalam celengan.
Selain itu, uang tabungannya juga diperoleh dari hasil mengupas bawang (maurek bawang) selama mengisi waktu libur sekolahnya.
Mengupas bawang atau maurek bawang merupakan pekerjaan unik dan sangat mudah sehingga bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk ibu-ibu, bahkan anak-anak di Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok.
Mengupas bawang ini merupakan salah satu proses pembersihan bawang dengan cara memotong akar dan daun bawang yang sudah kering. Kemudian bawang yang sudah dibersihkan itu akan diupah Rp1.500 per kilogramnya oleh sang pemilik bawang.
"Biasanya Hani mampu membersihkan bawang hingga 15 kilogram per hari atau Rp22 ribu hingga Rp25 ribu per harinya, lalu uang itu ditabungnya dalam celengan," ujar orang tua Hani, Roza Linda (38).
Di tambah lagi sejak pandemi Covid-19, proses belajar mengajar tatap muka dipindahkan ke rumah atau belajar secara daring (online). Sehingga Hani lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
"Dia tidak terlalu suka bermain. Malah mengisi waktunya dengan bekerja mengupas bawang petani yang ada di sini, lalu upahnya ditabung dalam celengan," kata dia.
Hani sejak awal memang sudah berniat menggunakan uang tabungannya untuk berkurban. Setelah membongkar celengan, tanpa berpikir lagi dia langsung meminta kedua orang tuanya untuk menyerahkan uang itu ke panitia kurban di Masjid Nurul Iman.
Kedua orang tuanya pun kembali menanyakan keinginan Hani itu karena mengingat usianya yang masih kecil dan tidak terlalu diwajibkan untuk ikut berkurban. Namun Hani tetap kukuh dengan pendiriannya.
"Saya selalu berpesan pada Hani setelah berkurban harus ditingkatkan lagi ibadahnya, seperti shalat lima waktu tidak boleh bolong-bolong, baca Quran dan puasa," kata Linda.
Hani ikut berkurban satu ekor sapi bersama tujuh orang lainnya yang dilakukan secara patungan atau senilai Rp2,5 juta per orangnya. Kemudian daging kurban atas nama Hani ini diserahkan ke kerabat dan tetangga dekat rumah.
Hani termasuk yang paling kecil usianya di antara orang-orang yang ikut berkurban di Masjid Nurul Iman. Di antara mereka ada yang sudah berkeluarga, sebagai mahasiswa, pedagang, dan petani.
"Saat membuka celengan, uang tabungan Hani hanya ada Rp2,1 juta, sedangkan untuk kurban Rp2,5 juta. Namun melihat Hani begitu bersemangat untuk berkurban. Kami pun menambahkan Rp500 ribu dan sisa tabungannya Rp100 ribu untuk keperluan Lebaran," ujar Linda. (
Antaranews).
(bal)