LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre, Sapta Nirwandar menjelaskan bahwa halal tourism tidak berarti mengubah suatu destinasi menjadi halal. Menurutnya, halal tourism adalah wisata bagi kaum muslim atau pelancong muslim yang membutuhkan layanan tambahan guna menunjang aktivitas peribadatan sehari-hari.
"Karena para pelancong muslim butuh makanan halal, minuman halal, itu basic yang ngga bisa ditawar. Yang kedua, mereka butuh shalat. Shalat memang bsia dimana saja, tapi lebih baik kalau disediakan tempat shalat yang ada tempat wudhu, bersih, dan lainnya," kata Sapta dalam Webinar bersama Langit7 bertajuk "Industri Halal 2022 untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia", Rabu (12/1).
Baca juga: Delia Septianti Optimis Industri Fesyen Muslim akan Berkembang Tahun IniSapta mengatakan bahwa para pelancong muslim membutuhkan makanan dan minuman halal saat berwisata ke suatu tempat atau destinasi wisata. Ia mencontohkan Bangkok yang memiliki banyak hotel halal yang ditujukan bagi orang-orang yang membutuhkan layanan halal. "Jadi dasarnya ini pilihan, karena halal tourism sebagai layanan untuk pelancong muslim," ujar Sapta.
Terkait pariwisata halal secara global, Sapta menilai trennya bakal meningkat ke depan. Meskipun pariwisata sangat terdampak akibat pandemi Covid-19, namun ia melihat ada potensi bagi industri itu bisa berkembang. Menurutnya, harus ada pembenahan dalam model wisata global tersebut, salah satunya harus friendly lingkungan dengan menjaga kebersihan seperti yang tertuang dalam program Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability (CHSE).
"Buat orang Islam itu kebersihan adalah sebagian dari iman, tapi dalam penerapannya belum. Termasuk juga limbah yang besar kayak limbah industri, buangan hotel. Buangan hotel itu di thread agar tidak dibuang ke pantai. Kebayang engga kalau semua limbah itu dibuang ke pantai pasti baunya minta ampun itu," ungkap Sapta.
Baca juga: LPPOM MUI: Ada Produk Tidak Perlu Sertifikasi Halal"Ini bagian dari the halal industry yang sangat islami, semua sadar bahwa prinsip-prinsip halal ini adalah universal. Oleh karena itu korea memiliki lebih dari 150 restaurantnya dibukanya dengan halal restoran. di jepang pas olimpiade juga menyediakan makanan halal," jelasnya.
Lebih lanjut, Sapta menjelaskan bahwa sertifikasi halal sangat penting guna memberikan informasi kepada masyarakat mengenai produk yang halal dan tidak. Atas hal itu, ada Lembaga Survey MUI, BPH JPH, dan lainnya dalam membantu memberikan proteksi. "Sekarang ada halal scan atau barcode system. Jadi, pas lagi di supermarket milih produk, tinggal scan aja itu barang halal atau tidak. Nanti ketahuan hasilnya," imbuhnya.
Baca juga: Sholahuddin: MUI Tidak Monopoli Sertifikasi Halal(asf)