LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam kurun waktu tertentu, generasi baru muncul dengan nama dan karakteristik khas. Hal itu kerap dipengaruhi kondisi politik, budaya, hingga sosial-ekonomi.
Strauss dan Howe dalam buku
Generations: the History of America's Future, menulis, perubahan generasi terjadi dalam masyarakat sekitar setiap 20 tahun. Masyarakat kini sudah mengenal generasi X, generasi Y atau milenial, dan generasi Z. Kini, ada istilah baru untuk menyebut generasi selanjutnya, yakni Generasi Alfa.
Mark McCrindle, analis sosial-cum-demograf dari grup peneliti McCrindle, menyebut generasi Alfa merupakan anak yang lahir antara tahun 2010-2024. Penamaan Alfa dibuat berdasarkan alfabet Yunani dan sesuai alfabet.
Alfa dipilih karena generasi yang lahir sebelumnya telah menggunakan nama Generasi Z. Bisa dikatakan, Generasi Alfa merupakan anak dari Generasi Milenial dan adik dari Generasi Z. Pada 2025, jumlah generasi Alfa akan mencapai 2 miliar orang.
Sebenarnya belum terlhat jelas karakter khusus generasi Alfa ini, mengingat generasi ini masih berada pada usia anak-anak. Namun, orang-orang generasi ini diperkirakan berbeda jauh dengan Generasi Z dalam hal kelihaian menggunakan teknologi.
Bahkan, Generasi Alfa disebut-sebut memiliki potensi lebih tinggi untuk sukses di industri digital jika dibandingkan dengan Generasi Z. Generasi ini merupakan generasi pertama yang benar-benar hidup berdampingan dengan teknologi canggih sejak dilahirkan.
Lalu, bagaimana cara membesarkan generasi Alfa?
Mengutip laman
hallosehat, meski memiliki ragam kelebihan, anak-anak dalam generasi ini diperkirakan memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan mental. Beberapa di antaranya adalah gangguan kecemasan dan depresi.
Itu tak mengherankan, mengingat mereka dituntut untuk selalu menjadi progresif. Dunia yang mendorong mereka selalu bergerak lebih cepat. Itu tentu memberikan tekanan pada anak terutama di bidang akademis.
Selain itu, Generasi Alfa dinilai cenderung lebih asyik dengan gawai. Maka, orang tua penting untuk membatasi waktu anak di depan gawai dan televisi. Orang tua tidak boleh menjadikan gawai sebagai senjata untuk menenangkan anak ketika menangis.
Orang tua harus meningkatkan komunikasi dengan anak dengan sering megajak berbicara dan bercerita. Luangkan waktu untuk bermain di luar ruangan bersama anak. Sesekali, orang tua perlu mengajak anak untuk bermain bersama teman sebaya. Ini juga untuk melatih kemampuan sosial mereka.
Dari laman
parenting, ada beberapa cara yang mesti dilakukan oleh orang tua untuk mendidik Generasi Alfa. Orang tua harus memberikan bekal sejak dini pada generasi ini untuk menghadapi tantangan masa depan, yang tentu berbeda dengan era saat ini.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan seperti memberi pendidikan agama, mengajarkan sopan santun, dan menanamkan nilai-nilai kekeluargaan. Hal tersebut membantu meningkatkan kemauan berjuang anak agar tidak mudah putus asa dan bosan. Orang tua juga harus mengajak serta mengajari anak bersosialisasi.
Di sisi lain, orang tua harus memberi batasan terhadap gawai. Pada anak 2-3 tahun,
screen time terlama hanyalah 30 menit. Orang tua tidak boleh membiarkan anak hanya terpaku pada gawai, maka itu perlu mengaja anak baraktivitas untuk mengasah keterampilan dan kecerdasan seperti bermain di
outdoor.
Orang tua juga harus melakukan
eye contact dan komunikasi dua arah dengan anak karena hal ini penting bagi perkembangan anak. Orang tua juga harus memberi anak permainan edukatif. Bila melalui gawai, orang tua harus mengusahakan lebih intaraktif.
Orang tua bisa memilih aplikasi yang membuat anak mengerti warna, menirukan suara binatang, atau bisa juga menari dan aktivitas seru lainnya dengan bantuan gawai.
(jqf)