LANGIT7.ID - Imam Hasan al-Bashry berkata, “Kunci kekayaan laut adalah kapal, dan kunci kekayaan bumi adalah jalan, sedangkan kunci kekayaan langit adalah doa”.
Perkataan Hasan al-Bashry tersebut sejalan dengan tema yang diangkat Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dengan judul "Bentengi Diri di Masa Pandemi dengan Protokol Langit dan Bumi". Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil, hadir sebagai Keynote Speaker dalam acara virtual tersebut, Kamis malam (22/7/2021).
Prof KH Hamid menyatakan, ada dua cara yang harus dilakukan dalam menghadapi pandemi saat ini, yakni dengan cara spiritual dan cara medikal. Cara menyikapinya juga dua, yaitu menggunakan dua sumber: sumber nalar dan sumber agama (wahyu). Seperti apa penjelasannya? Berikut petikan tausiah Ketua Umum MIUMI ini yang dipantau Redaksi
Langit7.id:
Di tengah derasnya informasi seperti sekarang ini, dipanggilnya para ulama, para sahabat kita, para tokoh kita, luar biasa cepat, sehingga kita perlu mawas diri. Dalam menyikapi pandemi Covid-19, kita harus menggunakan dua sumber.
Sumber pertama, sumber nalar dan kedua sumber agama, yaitu wahyu. Para ulama dahulu sudah menggunakan dua sumber ini. Kita tetap percaya kepada wahyu dan tetap berpegang kepada hukum alam yang disebut dengan sunnatullah.
Dalam sejarah, peristiwa seperti ini (pendemi Covid-19) bukan terjadi sekarang ini saja. Kalau tidak salah, (terjadi) pada setiap tahun 20, yakni 1720, 1820, 1920, dan sekarang 2020. Jadi ini adalah sunnatullah. Tapi itu semua juga tak lepas dari tangan manusia. Kalau ada teori konspirasi, tidak mustahil itu terjadi. Tetapi ada tangan langit yang ikut serta dalam wabah ini.
BACA JUGA : Rektor Unida Gontor: Rusaknya Ilmu karena Terpisah dari ImanKalau kita bicara kausalitas, bicara tentang taqdir Tuhan, itu juga melalui sunnatullah dan tangan manusia. Misalnya, dalam suatu daerah atau di sebuah negara, apabila masyarakatnya berbuat maksiat, maka sunnatullah akan turun.
Ada
Sunnatulah Kauniyah,
Sunatullah al-Ijtimiyah, dan
Sunnatullah an-Nafsiyyah. Pertama,
Sunnatulah Kauniyah. Kalau sebuah alam dirusak maka akan terjadi sebuah hukum alam atau sunnatullah. Misalnya, kalau manusia merusak lingkungan, maka rusaknya lingkungan karena tangan mansuia, tapi terjadi juga karena taqdir Allah.
Kedua adalah
Sunnatullah al-Ijtima'iyah. Jika secara nalar bahwa sekelompok masyarakat melakukan perbuatan yang memang merusak mansusia, maka masyarakat itu akan rusak. Jadi suatu masyarakat yang rusak akan memperoleh keburukan dari mereka. Tetapi bagi Allah, Dia mempunyai kehendak untuk merusak masyarakat itu sekaligus atau untuk menyelamatkan.
Ketiga,
Sunnatullah an-Nafsiyah. Dalam diri kita ada sebuah sebab akibat. Dalam Al-Qur'an, disebutkan hubungan kausalitas tersebut dalam Surat al-Lail ayat 5-14 yang berbunyi:
"Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan), dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan), dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa. Sesungguhnya Kamilah yang memberi petunjuk, dan sesungguhnya milik Kami-lah akhirat dan dunia itu."Firman Allah:
In ahsantum ahsantum li-anfusikum. Itu juga menjadi sunnatullah, yaitu orang yang berbuat baik kepada orang lain, maka ia akan menambahkan energi positif dalam dirinya. Jadi, dalam diri itu ada ayat, dan dalam ayat ada sunnatullah.
Rasulullah SAW bersabda, "Kematian yang banyak menyerang kalian seperti penyakit kambing." Jadi sebenarnya sudah ada dalam kamus Islam bahwa ada orang yang meninggal karena wabah. Seperti di masa Umar bin Khattab, kemudian di Suriah, Muadz bin Jabal wafat pada peristiwa penyebaran wabah. Bahkan Gubernur Suyiriah, Abu Ubaidah al-Jarrah, termasuk korban dari wabah seperti ini.
BACA JUGA: Hasil Survei Kemenag: Terjadi Peningkatan Religiositas di Masa PandemiDengan musibah ini, banyak pelajaran yang bisa diambil. Ada orang yang dipanggil dengan segera, ada yang dipanggil oleh Allah SWT karena Allah menunggu pertemuan dengannya, ada yang dipanggil oleh Allah SWT agar berhenti dari perbuatan maksiat, ada yang dipanggil oleh Allah SWT karena ia dicintai oleh Allah. Maka tak perlu khawatir dengan kematian bertubi-tubi ini. Allah Maha Tahu segalanya, apa yang telah terjadi, dan apa yang akan terjadi.
Para ulama mengatakan, sebabnya kematian itu banyak sekali, tetapi kematian itu satu. Kematian adalah ujian. Ujian di dunia ini banyak, ada ujian kebaikan dan keburukan. Manusia bisa diberi bala dengan kebaikan dan keburukan agar sadar. Jadi ini ujian yang bisa berakhir dengan kebaikan.
Ujian yang kita alami belum apa-apa dengan ujian para nabi. Ujian bagi mereka jauh lebih berat. Kalau ada yang anaknya meninggal, suaminya, atau istrinya, itu juga ujian berat. Tetapi orang yang paling berat ujiannya menurut Allah adalah adalah para nabi, atau orang yang semisal yaitu para ulama.
Hikmahnya, bagaimana Islam mengajarakan kita menghadapi pandemi ini? Beberapa WhatsApp beredar bahwa Al-Qur'an adalah
syifa (penyembuh). Ayatnya jelas, dalam Surah al-Isra ayat 82 dan Surat Yunus ayat 53.
BACA JUGA: Gus Yusuf Minta TNI/Polri Tiru Umar, Cari Warga yang Lapar dan TelantarBeberapa temuan dari para saintis muslim dan nomuslim, ternyata arti
zhahiri (lahir) Al-Qur'an adalah membaca Al-Qur'an dengan cara bersuara. Dengan demikian, penelitian di Amerkika, ketika kita membaca Qur'an dengan bersuara, maka sel darah merah memberi respons. Auto imunnya naik. Sel kanker yang akan tumbuh menjadi mati, dengan dibacakan Qur'an dengan bersuara.
Mendengarkan bacaan Al-Qur'an saja, sudah bisa menangkal berbagai penyakit. Setiap kita membaca Al-Qur'an dengan bersuara, sel-sel yang rusak akan bergetar dan aktif. Jadi ini seperti
self healing.
Dalam tradisi kedokteran Islam, Ibnu Sina menyatakan bahwa
alwahmu nisfud-daa-i. Artinya, kepanikan adalah separuh dari penyakit. Maka dengan wabah ada Covid-19 ini jangan panik, karena panik separuh dari penyakit. Kedua,
itmi'nan atau ketenangan adalah setengah dari obat. Tetap tenang, berdzikir kepada Allah, menjalakan proses kesehatan, dan tetap membaca Al-Qur'an.
Khasiat Al-Qur'an bisa dibuktikan secara saintifik.
'Alaa bidzikrillahi tatmainnal quluub. Dzikir menenangkan hati dan membaca Al-Qur'an adalah bagian dari dzikir. Ketiga, menurut Ibnu Sina, kesabaran adalah awal dari kesembuhan.
Maka cara menghadapi wabah ini adalah dengan cara spiritual dan cara medikal. Keduanya harus kita jalani. Selain itu, tentu hal yang berkaitan dengan sunnatullah al-jismiyah, yaitu yang berkaitan dengan tubuh. Misalnya, olahraga, makan makanan bergizi, tidur yang cukup, menjaga mud agar tetap bahagia, mengingat Allah, dan selalu menjaga perotokol kesehatan. Jangan lupa secara kontinyu membaca Al-qur'an walau hanya selembar, dua lembar, atau tiga lembar setiap harinya. Sebaik-baik amal itu adalah terus menerus (dilakukan) meskipun sedikit.
(jak)