LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Universitas Darussalam, Gontor (UNIDA), Hamid Fahmy Zarkasyi, mengaku prihatin dengan generasi muda di Indonesia yang memiliki minat membaca sangat rendah.
Ini berbanding terbalik saat mereka berhadapan dengan media sosial. Gen Z bisa berjam-jam di depan gawai, namun cepat mengantuk jika membaca buku. Frekuensi membaca masyarakat Indonesia secara umum sangat rendah.
"Kita di Asia berada di nomor 65. Itu lebih rendah berada di bawah Malaysia, Thailand, Singapura," kata Hamid, dikutip kanal
YouTube gontortv, Senin (10/1/2022).
Berbeda dengan masyarakat Eropa yang dikenal sangat gemar membaca. Setiap siswa bisa membaca puluhan buku dalam setahun. Itu karena sistem pendidikan mereka mendorong para siswa untuk membaca.
Di Jepang, ada satu hari nasional yang mengharuskan semua siswa membaca sejarah nasional dalam kelas. Mereka tidak diperkenankan memiliki aktivitas lain selain membaca. Dari gambaran ini, sastrawan Taufik Ismail menyebut masyarakat Indonesia sebagai tunabaca dan pincang menulis.
"Ketika orang membaca, dia mestinya belajar bagaimana orang menulis. Jadi, membaca, menulis, dan berdiskusi adalah syarat akademik. Itu tidak bisa Anda tawar. Kalau hanya membaca saja tetapi tidak ada diskusi, Anda bisa stress. Sama halnya makan banyak tapi tidak olahraga," kata Hamid.
Masalah kedua, keluarga Indonesia tidak memiliki tradisi membaca. Usaha orang tua membudayakan tradisi membaca untuk anak-anak mereka masih jarang ditemukan. Itu menyebabkan generasi muda saat ini lebih memiliki menghabiskan uang untuk nongkrong daripada membeli buku.
Generasi muda seharusnya belajar dari ulama-ulama terdahulu dalam membudayakan membaca dan menulis. At-Thabari wafat umur 57 tahun. Dia menulis 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Ini selama hidupnya dia telah menulis 584 ribu halaman. Maka tidak heran jika tafsir At-Thabari sangat tebal.
"Kemudian, beliau membaca 100 ribu hadits. Ketika menulis tafsir, tafsirnya itu berisi 38 ribu hadits. Ibnu Sina rata-rata menulis 4 buku setiap tahun. Kitab Inshaf itu ditulis selama 6 bulan berisi 28 ribu halaman. Setiap jilid berisi 1000 halaman. Jadi karyanya berjumlah 160 buku," kata Guru Besar Filsafat Islam ini.
Ibnu Aqil mengarang kitab Al-Funun sebanyak 800 jilid. Ulama mengatakan, di seluruh dunia sepanjang sejarah umat manusia tidka ada yang menulis sebanyak itu. Ulama pada era Abbasiyah dulu, jika ditugaskan pindah kota, harus menyewa 100 unta untuk membawa buku.
"Berarti bukunya ulama zaman Abbasiyah bisa lebih dari 200 ribu judul. Padahal Raja Perancis pada waktu yang sama hanya memiliki sekitar 200 judul buku. Sangat jauh sekali dari tradisi belajar umat Islam," katanya.
Ulama di Indonesia pun demikian. KH Ahmad Dahlan sepulang dari Mekah membawa satu gerbong buku. An-Nawawi Al-Bantani, ulama dari Banten menulis 150 judul buku, dan di antaranya diterbitkan di Timur tengah.
"Kita (harus) mengikuti. Tidak ada jalan lain kecuali membaca. Untuk menjalankan syari'at, supaya sempurna syari'at kita, kita harus membaca. Banyak hal yang anda harus tahu, detil-detil dari syari'at," ucapnya.
(jqf)