LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pakar Pendidikan Anak, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim, mengatakan, salah satu cara mendidik anak yang efektif adalah membacakan buku sejak masih berusia dua minggu.
Dia menjelaskan, masih banyak orang tua yang masih salahpaham tentang kegagalan pemerolehan bahasa. Ini sangat berbeda dengan alias keterlambatan wicara.
Speech delay memang satu dari lima efek yang paling mudah terlihat akibat kecanduan gadget pada masa balita. Namun, fenomena saat ini lebih dari itu kegagalan pemerolehan bahasa.
Anak yang mengalami keterlambatan wicara belum tentu karena gadget. Belum tentu pula disebabkan jarang diajak komunikasi oleh orangtua. Dalam banyak kasus, ada yang tetap memahami dan bahkan sangat tanggap terhadap pembicaraan orang lain.
Baca juga:
Gaya Baru Pernikahan, Calon Pengantin Berwakaf Uang Keabadian Cinta"Dia dapat diajak berkomunikasi. Dia memahami kata-kata kita. Hanya saja dia masih kesulitan mengucapkan kata," kata Fauzil di akun media sosialnya, dikutip Senin (14/8/2023).
Berbeda dengan LAF, anak gagal menangkap maksud, mempersepsi dan memahami kata. Jika kata-kata saja tidak paham, tentu anak tidak bisa menggunakannya. Boleh jadi tidak ada kendala dalam menirukan suara, tetapi dia tidak punya kosa-kata untuk diucapkan.
"Kok bisa? Karena dia hanya menemukan kegaduhan wicara (orangtua, pengasuh atau gadget yang mengeluarkan suara manusia), tetapi dia sendiri tidak mendapatkan pengalaman berbahasa," ujar Fauzil.
Jadi, LAF secara sederhana yakni pemerolehan kemampuan untuk menyadari bahasa, memahaminya, serta menghasilkan dan menggunakan kata-kata dan kalimat untuk berkomunikasi, meskipun di tingkat paling sederhana.
"Gagal dalam pemerolehan bahasa artinya, di saat seharusnya sudah memiliki kosa-kata yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi, dia tidak punya sama sekali atau hampir-hampir tidak punya. Jadi, bagaimana mau menggunakannya?" jelas Fauzil.
Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk memberi pengalaman pemerolehan bahasa yang kaya? Paling pokok adalah kehadiran manusia yang berfungsi sebagai manusia, entah orangtua atau pengasuh, yang mengajak bicara dan mengajari menggunakannya.
"Ini berlangsung alami saat menimang, mengajak bercanda, menyuapi dan kegiatan lain yang alami dan spontan. Selebihnya, kita dapat memacu dengan proses yang baik. Anak yang lahir dalam keadaan IQ sangat rendah saja dapat dipacu dengan ini. Ringkasnya, banyaklah membacakan buku secara interaktif semenjak usia 2 minggu," jelas Fauzil.
Bukan berarti orang tua tidak boleh mengenalkan gadget kepada anak. Ada saatnya anak diperkenalkan dengan gadget. Ada pula beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam membangun literasi gadget pada anak.
"Mulainya usia 5 tahun dan terutama dari usia 7 tahun. Ada tahapannya. In sya Allah lain waktu kita obrolkan," ungkap Fauzil.

(ori)