Banyak buku karya Buya Hamka jadi karya abadi karena terus dicetak ulang. Namun tak banyak yang memproduksi ulang audio ceramah Buya Hamka. Padahal pesannya begitu kuat dan luar biasa. Hal itu yang memotivasi Dalton (30) dkk mendigitalisasi ceramah kaset pita Buya Hamka.
Banyak orang yang lupa negaranya telah merdeka, tapi dirinya sendiri telah menjadi terjajah. Bukan oleh Belanda, tapi penjajahan yang datang daripada sifat-sifat yang lemah, tutur Buya Hamka
Indonesia memiliki banyak ulama mufassir ternama. Jauh sebelum berdirinya Republik Indonesia, ulama-ulama sudah menelurkan berbagai macam mahakarya kitab tafsir Al-Qur'an. Bahasa yang digunakan pun beragam dari bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Sunda hingga bahasa Bugis.
Tingkat literasi Indonesia berada di ranking 62 di antara 70 negara, sangat rendah. Semestinya kita bisa meneladani Buya Hamka yang cinta membaca sejak dini, menulis buku best seller di usia 20 tahun dan menulis puluhan karya termasuk kitab tafsir Al-Qur'an yang dijadikan banyak rujukan.
Hamka belajar banyak hal dari pertemuan tersebut, terutama perjuangan Bangsa Indonesia untuk merdeka. Dua tokoh itu pun menjadi sahabat seperjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Menurut Pengajar Filsafat Rocky Gerung, Hamka adalah simbol moral untuk mengevaluasi bangsa, Pemikiran, integritas dan karyanya yang bermuara dari tauhid menjadi cerminan untuk memperbaiki keadaan bangsa Indonesia hari ini.
Desa Wisata Sungai Batang mampu menjadi daya ungkit kebangkitan sektor parekraf di Sumbar. Desa ini diharapkan dapat memberikan dampak pada pengembangan ekonomi masyarakat yang berkeadilan.
Rektor INAIFAS Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI mengatakan Indonesia tak hanya menyimpan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun di negeri ini, juga kaya sumber daya manusia yakni hidup ribuan ulama dengan kapasitas keilmuan yang tak bisa diremehkan.
Presiden Pertama RI Ir Soekarno dikenal sebagai tokoh nasionalis, tak banyak yang tahu bahwa ia ternyata juga seorang santri. Bahkan inspirasi penyusunan Pancasila bersumber dari para Ulama Guru Soekarno.
Pesantren Al-Hamdaniyyah yang terletak di Desa Siwalanpanji Sidoarjo adalah Pesantren tertua di Jawa Timur tempat KH Hasyim Asy'ari hingga KH Ahmad Sahal pernah nyantri.
Cucu pendiri Gontor Husnan Bey Fananie menceritakan bahwa Presiden pertama RI Ir Soekarno pernah belajar Islam kepada kakeknya KH Zainuddin Fananie saat berada di Bengkulu.