LANGIT7.ID, Jember - Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (INAIFAS) Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI, mengatakan, Indonesia tak hanya menyimpan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun di negeri ini, juga kaya sumber daya manusia yakni hidup ribuan ulama dengan kapasitas keilmuan yang tak bisa diremehkan.
Ulama-ulama di Tanah Air bukan orang Arab, tapi mereka mampu menjadi jembatan pemahaman antara teks berbahasa Arab dengan konteks Indonesia. Nash didialogkan dengan kenyataan. Jadilah ulasan fiqh ala Indonesia. Misalnya, zakat produktif ala KH Sahal Mahfudz.
Baca Juga: Sanad Ulama Nusantara: Jejaring Intelektual dan Spiritual Penghadang Adu Domba BelandaUlama di nusantara adalah orang ajam (bukan arab), tapi sanggup memberikan ulasan ciamik terhadap 1000 bait Alfiyah ibn Malik, karya unggulan di bidang nahwu (gramatika). Di antaranya, "Tashilul Masalik fi Syarh Alfiyyah Ibn Malik", yang berbahasa Sunda beraksara Arab (pegon).
Kitab tersebut merupakan karya Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan dari Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi. Rais Syuriah PCNU Pati, KH Aniq Muhammadun, juga memiliki karya serupa yang berjudul ‘Tashil Al-Salik Fi Tarjamati Alfiyyati Ibni Malik’. Ulasan Alfiyah menggunakan bahasa Jawa.
Ulama di nusantara sanggup menyusun pola ringkas ilmu Sharaf (morfologi). KH Ma'shum Aly, Jombang, menantu KH Hasyim Asy'ari menyusun ‘Amtsilatut Tashrifiyyah’, alias metode nJombang. Sedangkan KH Ali Ma'shum, Krapyak, mengembangkan sharaf model Krapyak yang lebih ringkas.
“Kiai Ma'shum Ali dan Kiai Ali Ma'shum. Nama ulama yang mirip dengan penemuan metode yang sangat bermanfaat,” kata Gus Rijal, dikutip dari akun facebook-nya, Sabtu (28/8/2021).
Dewasa ini, banyak ulama-ulama muda dengan kapasitas keilmuan sangat mendalam. Misalnya PP Hidayatul Qur'an Darul Ulum Rejoso, Jombang, KH Dr M Afifudin Dimyathi. Beliau menulis kitab Jam'ul Abir fi Kutubi at-Tafsir.
Kitab yang disusun dalam 2 jilid itu berisi ensiklopedi kitab tafsir berikut penulisnya, disusun berdasarkan urutan tahun hidup mufassir, sekaligus merekam banyak nama ulama penafsir dari berbagai negara. Beliau menulis kitab tersebut dalam kurun waktu 6 bulan saja.
Di dalam kitab ini, deretan nama ulama-ulama Indonesia yang menjadi mufassir dicantumkan. Dari Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (1815-1897 M) yang sanggup menulis tafsir Marah Labid dengan menggunakan bahasa Arab.
Baca Juga: Pondok Tremas Pacitan dan Jejaring Rantai Intelektual Ulama NusantaraAda pula ulama yang membumikan tafsir Al-Qur'an dengan menggunakan bahasa local seperti Syekh Abdurrauf Assingkili dengan bahasa Melayu. Kemudian Syekh Sholeh Darat (Faidurrahman), Kiai Raden Bagus 'Arfah (Kur'an Jawi), dan Prof KH Muhammad Adnan (Tafsir Qur'an Suci), KH Bisri Musthofa (al-Ibriz), KH. Mishbah Zainal Musthofa (al-Iklil), yang menafsirkan menggunakan bahasa Jawa.
Ada pula tafsir Raudlatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an berbahasa Sunda yang ditulis Ajengan Ahmad Sanusi. Quranul Adhimi, karya Ajengan Haji Hasan Mustapa Garut, yang menafsirkan Alquran dengan model danding (sejenis puisi Sunda).
Di wilayah timur, Anregurutta Haji Daud Ismail yang menulis tafsir al-Munir dengan menggunakan aksara dan bahasa Bugis. Di Sumenep, Madura, ada KH Thoifur Ali Wafa yang menulis 6 jilid Firdaus an-Naim, tafsir lengkap 30 Juz dengan menggunakan bahasa Arab yang baik.
“Ini belum menghitung karya Prof. Al-Habib Quraish Shihab dengan dua karyanya, al-Mishbah dan al-Lubab, atau Prof. Teungku Hasbi Asshiddiqie, an-Nur dan al-Bayan, serta Buya Hamka dengan Tafsir al-Azhar. Semua ditulis menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami,” ucap Gus Rijal.
Baca Juga:Indonesia Merdeka dengan Jihad Para Ulama dan Ahli Ilmu(jqf)